Name:
Location: Jakarta, Indonesia

Tuesday, October 31, 2006

CIRI-CIRI KEPENGARANGAN DAN PENGGUNAAN LITERATUR
DALAM MAJALAH INDONESIA BIDANG ILMU-ILMU SOSIAL *

Sri Purnomowati*

Abstract

The purpose of this study is to find out the authorship and the use of literature characteristics in social sciences. The result for the study of Masyarakat Indonesia (ISSN 0125-9989) consists a number of 12 publications with 67 articles showing that the authors were dominated by males. The most popular subjects written are social groups by age and ethnic, and labor economics. The average number of authorship per article is 1,09 and articles with multi authorship reaching 8,96% and author productivity being 9,23%. The average number of pages per article is 19,60 pages and each article containing 24,91 references. Books are the most used document for references, and median of all citation age is 11 years, while citation age in politics and economics are relatively current documents. Prisma is the most cited journal, while the most cited of Indonesian authors is Koentjaraningrat.
Keywords: Authorship; Citation Analysis; Indonesian Journal; Social Sciences;
Masyarakat Indonesia (ISSN 0125-9989)

PENDAHULUAN

Penyediaan literatur untuk memenuhi kebutuhan para peneliti semakin lama dirasakan semakin sulit. Hal ini antara lain disebabkan karena pesatnya produksi informasi, sementara dana yang tersedia untuk pengadaan literatur kurang memadai. Oleh karena itu, evaluasi mengenai penggunaan literatur oleh para peneliti perlu dilakukan agar penggunaan dana pengadaan dan pengembangan koleksi perpustakaan menjadi lebih efektif dan efisien. Sesuai dengan maksud tersebut, kajian secara bibliometrik merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.
Sebagaimana diketahui bahwa bibliometri, informetri dan scientometri kini telah digunakan secara luas, tidak hanya dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi tetapi juga bidang ilmu lainnya. Menurut Pritchard dalam Diodato (1994), bibliometrika adalah penerapan metode matematika dan statistika untuk buku dan media komunikasi lainnya. Bibliometrika dapat digunakan sebagai metode kajian yang bersifat deskriptif, misalnya yang berkaitan dengan kepengarangan, dan bersifat evaluatif, misalnya untuk mengkaji penggunaan literatur melalui analisis sitiran. Analisis sitiran umumnya dilakukan terhadap artikel majalah karena sifatnya yang terbit secara teratur, mutakhir, dan dipublikasikan secara umum.
Hasil-hasil kajian bibliometri di luar negeri menunjukkan bahwa setiap ilmu mempunyai ciri-ciri kepengarangan maupun ciri-ciri penggunaan literatur masing-masing, dimana ilmu yang satu berbeda dengan ilmu lainnya. Mengingat adanya perbedaan situasi dan kondisi lingkungan, diduga ciri-ciri kepengarangan dan penggunaan literatur di Indonesia berbeda dengan di luar negeri. Beberapa penelitian sejenis telah dilakukan terhadap majalah Indonesia, seperti bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

* Dimuat di Baca 28 (1) 2004 : 15-29.
** Peneliti di PDII-LIPI

Idealnya penelitian tersebut dilakukan juga terhadap majalah-majalah di semua bidang ilmu dan kali ini majalah bidang ilmu-ilmu sosial mendapatkan prioritas berikutnya. Secara lebih spesifik, ingin diketahui siapa sajakah pengarang bidang ilmu sosial yang aktif menulis? Bagaimanakah produktivitasnya dan kolaborasi dengan peneliti lainnya? Literatur apa sajakah yang digunakannya? Apakah ciri-ciri penggunaan literatur berbeda dengan bidang ilmu lainnya? Apakah ciri-ciri penggunaan literatur sama dengan bidang sejenis di luar negeri? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dilakukan suatu kajian bibliometrika dengan tujuan untuk mengetahui ciri-ciri kepengarangan dan ciri-ciri penggunaan literatur dalam bidang ilmu-ilmu sosial. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi para pimpinan lembaga penelitian untuk mendukung fungsi perencanaan dan evaluasi; sebagai bahan masukan bagi para pimpinan perpustakaan untuk mendukung kebijakan pengadaan dan pengembangan koleksi; dan sebagai sumber informasi bagi para pengarang di bidang ilmu-ilmu sosial sehubungan dengan kontribusinya dalam memajukan pengetahuan.

TINJAUAN LITERATUR

Ciri-ciri Kepengarangan
Beberapa hasil penelitian mengenai kepengarangan menunjukkan bahwa jumlah pengarang pria relatif lebih banyak dibandingkan dengan pengarang wanita (Raptis 1992; Cunningham dan Dillon 1997). Namun demikian, kontribusi pengarang wanita dari tahun ke tahun cenderung mengalami kenaikan (Lipetz 1999). Bahkan penelitian yang dilakukan terhadap majalah College & Research Libraries tahun 1989-1994, untuk pertama kalinya jumlah pengarang wanita setara dengan pengarang pria (Terry 1996).
Dinyatakan bahwa sebagian besar pengarang berasal dari kalangan perguruan tinggi (Raptis 1992 ; Terry 1996; Lipetz 1999). Sebaliknya, temuan berlawanan dilaporkan oleh Walker (1997), bahwa hanya sebagian kecil artikel ditulis oleh pengarang dari lembaga perguruan tinggi.
Kolaborasi yaitu proses kerjasama antara ilmuwan dalam usahanya untuk mengkoordinasikan kecakapan, peralatan ataupun imbalan, menurut Gupta, Kumar dan Karisiddappa (1997) dapat diukur melalui: 1) Derajad Kolaborasi (Degree of Collaboration) yaitu proporsi artikel pengarang ganda dalam keseluruhan artikel contoh; 2) Indeks Kolaborasi (Collaboration Index) yaitu rata-rata jumlah pengarang per artikel untuk keseluruhan artikel contoh; dan 3) Koefisien Kolaborasi (Collaboration Coefficient) yaitu rata-rata proporsi jumlah artikel dengan tiap nomor pengarang. Selanjutnya dilaporkan bahwa tingkat kolaborasi pengarang di tiap bidang ilmu adalah berbeda. Cuningham dan Dillon (1997) menyatakan bahwa proporsi tinggi pada karya pengarang bersama adalah ciri ilmu pengetahuan alam dan fisika karena kerumitan dan mahalnya instrumen. Sebaliknya proporsi kepengarangan tunggal lebih tinggi pada ilmu-ilmu sosial/kemanusiaan dan filsafat. Sebagai perbandingan, pada awal tahun tujuh puluhan, kepengarangan ganda di bidang kimia adalah 83%, biologi 70%, fisika 67%, matematik 15% dan sejarah 4% (Meadows dalam Haan 1997).
Hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan umumnya menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan kolaborasi pengarang di semua bidang ilmu (Broad dalam Haan 1997; Maheswarappa dan Mathias 1987; Lipetz 1999). Dalam bidang sosiologi di Belanda dilaporkan bahwa mayoritas terbitan ditulis oleh pengarang tunggal dan cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun, yaitu mencapai 96% antara tahun 1939-1945, dan menurun menjadi 75% pada tahun 1982-1987. Demikian pula yang terjadi dalam bidang sosiologi di Amerika, kepengarangan tunggal mencapai 91% antara tahun 1936-1945, menurun menjadi 68% pada tahun 1956-1965 (Patel dalam Haan 1997).
Produktivitas pengarang dapat dikaitkan dengan hukum Lotka yang mengemukakan bahwa ada hubungan terbalik antara jumlah dokumen yang ditulis dengan jumlah pengarang yang menulis artikel. Dengan kata lain, semakin banyak artikel yang ditulis, semakin sedikit pengarang yang menulisnya. Hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar pengarang hanya menghasilkan satu artikel dan hanya sedikit pengarang yang menghasilkan lebih dari satu artikel (Walker 1997; Raptis 1992). Hasil penelitian Lipetz (1999) terhadap majalah JASIS menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya produktivitas pengarang.

Analisis Sitiran
Sitiran merupakan terjemahan dari kata citation yang berarti penyebutan suatu dokumen dalam dokumen lain yang terbit kemudian. Sitiran dapat muncul dalam teks, catatan kaki, catatan akhir, bibliografi ataupun daftar referensi. Semakin banyak disitir, dokumen dianggap semakin berbobot. Dalam majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi, rata-rata jumlah sitiran per artikel adalah 16,78 sedangkan 11,73% artikel tidak punya sitiran (Raptis 1992). Dilaporkan bahwa terjadi kenaikan jumlah sitiran per artikel dari tahun ke tahun (Lipetz 1999). Sebagai perbandingan, pada majalah Baca (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000) rata-rata hanya 4,05 sitiran per artikel dan pada tiga majalah di bidang ilmu perpustakaan dan informasi rata-rata hanya 5,47 sitiran per artikel (Sri Purnomowati 2001).
Dilaporkan bahwa jenis dokumen yang paling banyak disitir adalah majalah (Raptis 1992), sedangkan pustakawan perguruan tinggi menggunakan monografi sebanyak artikel majalah (Sellen dalam Raptis 1992). Hasil penelitian sejenis di Indonesia ternyata memberikan hasil yang berbeda. Penelitian terhadap majalah Baca (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000) dan terhadap 3 majalah di bidang perpustakaan dan infomasi (Sri Purnomowati 2001) menunjukkan bahwa buku adalah jenis dokumen yang paling banyak disitir.
Penelitian terhadap 5 majalah internasional di bidang perpustakaan dan informasi menunjukkan bahwa 27,60% artikel ternyata menyitir karya sendiri (Raptis 1992). Sementara itu, penelitian Lipetz (1999) menunjukkan bahwa jumlah artikel yang menyitir karya sendiri semakin banyak.
Dalam bibliometrika, data sitiran dapat digunakan untuk mengukur keusangan (obsolescence) literatur. Ada 2 cara untuk mengkaji keusangan, yaitu secara Synchronous dan Diachronous (Diodato 1994). Keusangan Synchronous yaitu salah satu jenis keusangan yang mengukur usia kelompok dokumen dengan cara menguji tahun terbit referensi dalam dokumen tersebut. Keusangan Synchronous biasa diukur melalui median usia sitiran yang dapat diperoleh dengan cara mengurangi tahun terbit dokumen sumber dengan median tahun terbit dokumen yang terdapat dalam daftar referensi. Keusangan Diachronous yaitu salah satu jenis keusangan yang mengukur usia kelompok dokumen melalui suatu pengujian terhadap tahun terbit sitiran yang diterima oleh dokumen. Keusangan Diachronous diukur melalui Paro Hidup (Half Life) yang dapat diperoleh dengan cara mengurangi median tahun terbit dokumen yang menyitir dokumen sumber dengan tahun terbit dokumen sumber. Kedua cara tersebut memang mirip tetapi dengan cara penanganan yang berbeda. Jika Synchronous menentukan literatur yang menyitir kemudian mengkaji distribusi usia referensi yang ada di dalamnya, maka Diachronous menentukan literatur yang disitir kemudian mengkaji penggunaan literatur tersebut pada terbitan selanjutnya. Dikemukakan dalam berbagai penelitian bahwa masing-masing bidang ilmu memiliki keusangan literatur yang berbeda. Penelitian Sellen dalam Raptis (1992) terhadap dua majalah perpustakaan melaporkan bahwa monografi atau artikel majalah yang disitir berusia sekitar 8 tahun atau kurang.


METODOLOGI
Majalah bidang ilmu-ilmu sosial yang diteliti, dipilih Masyarakat Indonesia (ISSN 0125-9989), terbitan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dengan alasan : 1) majalah Masyarakat Indonesia merupakan salah satu majalah dari sedikit majalah Indonesia yang telah lama menekuni bidang ilmu-ilmu sosial, terbit sejak 1974; 2) menurut penilaian P2JP LIPI, majalah Masyarakat Indonesia termasuk dalam kategori ilmiah; 3) terbit secara teratur sehingga ketersediaan dokumen terjamin.
Periode terbitan yang dikaji ditentukan selama 5 tahun dari tahun 1991-1995, dengan alasan: 1) informasi yang terkandung di dalamnya cukup mutakhir; 2) ketersediaannya dalam koleksi cukup terjamin; dan 3) dianggap cukup untuk mewakili informasi yang diperlukan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa penerbitan majalah ilmiah di Indonesia secara umum masih lemah. SK Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 69/DIKTI/Kep/2000, majalah yang terakreditasi tahun 1999/2000 di bidang sosial hanya 8 judul, itupun termasuk bidang ekonomi, hukum, dan psikologi. Hal ini menunjukkan bahwa majalah Indonesia dengan kategori ilmiah sangat terbatas apalagi yang mempunyai reputasi setia menekuni bidangnya dalam kurun waktu cukup lama.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara mencatat data-data kepengarangan meliputi : jenis kelamin, jenis pekerjaan, lembaga tempat bekerja, subjek yang diminati. Dalam hal ini, nama pengarang adalah individu yang tercantum di bawah judul karangan atau artikel. Perhitungan menggunakan sistem Normal Count (Diodato 1994) yaitu setiap pengarang dianggap menulis satu artikel tanpa membedakan apakah dia pengarang utama atau kopengarang. Disamping itu, dilakukan juga pencatatan data-data yang terdapat dalam daftar referensi, meliputi : jumlah sitiran, jumlah otositiran, jenis dokumen, tahun terbit dokumen, nama pengarang yang disitir, dan judul majalah yang disitir. Pengolahan data dibantu dengan program Microsoft Excel, dilakukan analisa secara kuantitatif dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik.


HASIL PENELITIAN
Deskripsi Artikel
Majalah Masyarakat Indonesia terbitan tahun 1991-1995 terdiri dari 12 nomor terbitan dengan 67 judul artikel. Rata-rata tiap nomor terbitan memuat 5,58 artikel, dan rata-rata setiap artikel terdiri dari 19,60 halaman. Sejumlah 51 judul artikel (76,12%) berbahasa Indonesia dan 16 artikel (23,88%) berbahasa Inggris.

Ciri-ciri Kepengarangan
Ciri-ciri kepengarangan yang akan diuraikan disini mencakup semua informasi yang berkaitan dengan pengarang, yaitu: jenis kelamin, jenis pekerjaan, lembaga tempat berkerja, negara asal, subjek artikel, kolaborasi dan produktivitas.

a. Jenis Kelamin
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengarang pria umumnya masih mendo-minasi kepengarangan Masyarakat Indonesia. Dari 67 artikel yang dievaluasi, terdata 73 nama pengarang, terdiri dari 54 nama pria (73,97%) dan 19 nama wanita (26,03%). Dari 73 nama tersebut ternyata berasal dari 65 orang yang berbeda, terdiri dari 47 orang pria (72,31%) dan 18 orang wanita (27,69%).

b. Jenis Pekerjaan
Pengarang dalam majalah Masyarakat Indonesia sebagian besar adalah peneliti. Dari 73 nama, terdiri dari 53 nama peneliti (72,60%), 19 nama pengajar (26,03%), lain-lain 1 nama (1,37%).

c. Lembaga Tempat Bekerja
Lembaga tempat bekerja pengarang terdiri dari: lembaga perguruan tinggi, LIPI, dan lembaga lain. Dari 73 nama pengarang, 48 nama (65,75%) bekerja di LIPI, 20 nama (27,40%) bekerja di lembaga Perguruan Tinggi, 5 nama (6,85%) bekerja di lembaga lain.

d. Negara Asal
Hasil kajian menunjukkan bahwa pengarang dalam Masyarakat Indonesia tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Dari 73 nama pengarang, diketahui 64 nama (87,67%) berasal dari Indonesia dan 9 nama (12,33%) berasal dari luar negeri, diantaranya dari Belanda, Inggris, Jepang, dan Malaysia.

e. Subjek Artikel
Dalam teori Klasifikasi Persepuluhan Dewey (Hamakonda dan Tairas 1991), yang termasuk dalam kelompok ilmu-ilmu sosial adalah ilmu-ilmu sosial (sosiologi & antropologi) (klas 300), statistik (klas 310), ilmu politik (klas 320) ilmu ekonomi (klas 330), ilmu hukum (klas 340), administrasi negara (klas 350), layanan sosial asosiasi (klas 360), pendidikan (klas 370), perdagangan/komunikasi/pengangkutan (klas 380), dan adat istiadat/kebiasaan (klas 390).
Hasil kajian menunjukkan bahwa artikel dalam majalah Masyarakat Indonesia sebagian besar yaitu 42 judul (62,69%) adalah sosiologi dan antropologi, kemudian ilmu ekonomi 15 judul (22,39%), ilmu politik 3 judul (4,48%), adat istiadat 4 judul (5,97%), bahasa daerah 2 judul (2,98%), dan humaniora 1 judul (1,49%). Sosiologi dan antropologi didominasi oleh kelompok-kelompok sosial menurut tingkatan umur, dan menurut ras/etnis, sedangkan bidang ekonomi didominasi oleh ekonomi perburuhan.

f. Kolaborasi
Hasil kajian menunjukkan bahwa kolaborasi pengarang dalam majalah Masyarakat Indonesia tergolong rendah. Besarnya kolaborasi pengarang ini dapat dilihat dari jumlah artikel karya pengarang ganda atau dari indeks kolaborasi yaitu angka rata-rata pengarang per artikel. Dari 67 judul artikel yang diteliti, 61 judul artikel (91,04%) adalah karya pengarang tunggal dan 6 judul artikel (8,96%) adalah karya pengarang ganda (lebih dari 1 orang). Artikel yang berjumlah 67 judul tersebut ditulis oleh 73 pengarang, sehingga Indeks Kolaborasi atau rata-rata jumlah pengarang per artikel adalah 1,09.

g. Produktivitas
Dari 67 artikel yang diteliti, tercatat ada 65 orang pengarang yang berbeda, 59 orang diketahui menulis satu judul artikel, 4 orang menulis 2 judul artikel; dan 2 orang menulis 3 judul artikel. Jadi, selama 5 tahun, kontribusi terbanyak dari seorang pengarang dalam majalah Masyarakat Indonesia adalah 3 tulisan. Hasil perhitungan angka produktivitas pengarang yaitu berasal dari jumlah pengarang yang menulis lebih dari satu artikel, dibagi dengan jumlah semua pengarang yang muncul, menunjukkan angka 9,23%.

Ciri-ciri Penggunaan Literatur
Ciri-ciri penggunaan literatur dalam penelitian ini dilihat melalui analisis sitiran, mencakup : jumlah sitiran, jenis dokumen yang disitir, asal dokumen, usia sitiran, majalah yang disitir, dan pengarang yang sering disitir.

a. Jumlah Sitiran
Dari 67 judul artikel yang diteliti, berhasil diidentifikasi 1.669 judul sitiran. Jumlah sitiran per artikel berkisar antara 0 – 158 sitiran, dengan rata-rata 24,91 sitiran per artikel. Jumlah otositiran atau sitiran kepada diri sendiri adalah 51 judul atau 3,06% dari keseluruhan sitiran, dan jumlah artikel yang memuat otositiran mencapai 24 artikel atau 35,82% dari keseluruhan artikel. Dari 1.669 sitiran, sejumlah 726 sitiran (43,55%) berupa terbitan dalam negeri, dan 943 sitiran (56,50%) berupa terbitan asing (termasuk terbitan di jaman penjajahan Belanda).

b. Jenis Dokumen
Hasil kajian menunjukkan bahwa buku merupakan dokumen yang paling banyak memberikan kontribusi dalam penulisan karya ilmiah di bidang ilmu-ilmu sosial. Dalam hal ini, dokumen yang disitir dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu: buku, majalah, makalah/prosiding, laporan penelitian, tesis/disertasi, surat kabar, dan lain-lain seperti: surat keputusan, skripsi, paket informasi dan dokumen yang tidak dipublikasikan. Secara lebih rinci, sitiran berupa buku mencapai 64,05%, majalah 19,41%, laporan penelitian 4,85%, makalah/prosiding 5,81%, koran 2,34%, tesis/disertasi 2,04% dan dokumen lain-lain 1,50% (Lihat Grafik1).

Grafik 1. Jenis dokumen yang disitir

c. Usia Sitiran
Dari keseluruhan artikel yang diteliti, terdapat 1.669 sitiran, diketahui 16 sitiran (0,96%) tanpa tahun, 46,07% dokumen berusia 0-9 tahun, 27,50% dokumen berusia 10-19 tahun, 11,92% dokumen berusia 20-29 tahun, dan 13,55% dokumen berusia lebih dari 29 tahun (Lihat Grafik2). Yang menarik dalam hal ini adalah adanya sitiran terhadap dokumen-dokumen lama. Dalam penelitian ini, sitiran yang tertua mencapai usia 174 tahun. Melalui perhitungan, diperoleh median usia sitiran sebesar 11 tahun.
Untuk mengetahui usia sitiran masing-masing bidang ilmu, dicoba untuk memisahkan sitiran di bidang sosiologi, politik, ilmu ekonomi, dan adat istiadat. Hasil perhitungan diperoleh median usia sitiran dalam bidang sosiologi 11,5 tahun, bidang ilmu politik 7 tahun, bidang ilmu ekonomi 7,5 tahun, dan bidang adat istiadat 16,5 tahun. Dengan demikian secara garis besar dapat diketahui bahwa ilmu ekonomi dan ilmu politik menggunakan literatur yang relatif lebih baru dibandingkan dengan bidang sosiologi.


Grafik 2. Usia sitiran

d. Majalah yang Disitir
Sebagaimana dinyatakan di atas, bahwa di bidang ilmu-ilmu sosial, majalah ternyata relatif kurang berperan sebagai sumber informasi dibandingkan dengan buku. Secara keseluruhan terdapat 324 sitiran terhadap majalah, terdiri dari 33 judul majalah Indonesia dan 128 judul majalah asing. Terlihat bahwa ada majalah Indonesia maupun asing yang memperoleh sitiran dengan frekuensi yang sangat menonjol. Majalah Indonesia yang paling sering disitir adalah Prisma (disitir 22 kali), kemudian Tempo (disitir 9 kali), sedangkan majalah Masyarakat Indonesia hanya disitir 4 kali. Majalah asing yang paling sering disitir adalah Bijdragen tot de taal Land en Voldekunde van Nederlandsch Indie, yaitu majalah yang terbit di zaman penjajahan Belanda (disitir 15 kali), majalah American Anthropologist (disitir 14 kali) dan majalah World Development (disitir 10 kali).

e. Pengarang yang Disitir
Dari 1.669 sitiran, teridentifikasi 1.682 nama pengarang (1 artikel ada yang ditulis oleh >1 pengarang), terdiri dari 1.158 nama orang yang berbeda, yaitu 344 orang Indonesia (29,71%) dan 814 orang asing (70,29%). Dalam hal ini, pengarang atas nama lembaga tidak diperhitungkan dan pengarang ke dua dan seterusnya dihitung sebagai pengarang utama. Diketahui bahwa ada beberapa pengarang yang memperoleh sitiran dengan jumlah yang cukup menonjol.
Pengarang Indonesia yang paling sering disitir adalah Koentjaraningrat (disitir 29 kali), kemudian EKM Masinambow (disitir 13 kali), St Syamsuddin Rajo Endah (disitir 10 kali), sedangkan pengarang asing yang paling sering disitir adalah Clifford Geertz dan A.P. Vayda (masing-masing disitir 20 kali).


PEMBAHASAN

Kepengarangan dalam majalah Masyarakat Indonesia didominasi oleh kaum pria, sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pria masih mendominasi kepengarangan majalah di berbagai bidang keilmuan, baik di dalam maupun di luar negeri.
Subjek yang ditulis sangat bervariasi karena majalah Masyarakat Indonesia dimaksudkan untuk menampung hasil-hasil penelitian dari 4 Pusat Penelitian dibawah Deputi Bidang IPSK, yaitu Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Ekonomi Pembangunan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan dan Ketenagakerjaan, dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Politik dan Kewilayahan. Subjek yang diminati ini tentunya berbeda antara negara yang satu dengan lainnya, tergantung situasi dan kondisi setempat. Agar ciri-ciri kepengarangan dan penggunaan literatur dalam bidang ilmu masing-masing dapat diketahui dengan lebih jelas, penelitian hendaknya dilakukan terhadap majalah dengan subjek yang lebih spesifik, misalnya khusus sosiologi, politik, atau ekonomi.
Tingkat kolaborasi pengarang di bidang ilmu-ilmu sosial ternyata tergolong rendah dengan Indeks Kolaborasi sebesar 1,09. Temuan ini mendukung penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa proporsi kepengarangan tunggal lebih tinggi pada ilmu-ilmu sosial/kemanusiaan dan filsafat, sedangkan proporsi kepengarangan bersama lebih tinggi pada ilmu pengetahuan alam dan fisika. Sebagai perbandingan, Indeks Kolaborasi dalam majalah Baca tahun 1974-1999 adalah 1,05 dan dalam tiga majalah di bidang ilmu perpustakaan dan informasi tahun 1991-1995 adalah 1,07. Sementara menurut Cunningham dan Dillon (1997), Indeks Kolaborasi di bidang ilmu perpustakaan adalah 1,17, antropologi 1,79, rekayasa kimia 2,13, ilmu kimia 2,82, ilmu politik 3,54, biologi 3,97 dan psikologi 4,58.
Produktivitas pengarang di bidang ilmu-ilmu sosial khususnya dalam majalah ilmiah ternyata tergolong rendah (angka produktivitas 9,23%). Angka ini lebih rendah dibanding dengan produktivitas pengarang dalam majalah lain, misalnya dalam majalah Baca tahun 1974-1999 (41,56%) dan dalam tiga majalah di bidang ilmu perpustakaan dan informasi tahun 1991-1995 (29,67%). Mengapa? Mengingat sifat ilmu yang lebih dekat dengan masalah-masalah yang sedang hangat dibicarakan seperti masalah sosial, politik dan ekonomi, maka diperkirakan banyak tulisan peneliti yang dimuat dalam majalah ilmiah semi populer, koran, dan sejenisnya. Dengan demikian, ada kemungkinan produktivitas pengarang dalam majalah semi populer lebih tinggi dibanding produktivitas pengarang dalam majalah ilmiah.
Melihat hasil penelitian tersebut di atas, ternyata ada kesamaan ciri-ciri kepengarangan di bidang ilmu sosial di Indonesia dengan ciri-ciri kepengarangan di bidang ilmu sosial di luar negeri, yaitu dominasi kepengarangan oleh kaum pria, serta rendahnya tingkat kolaborasi dan produktivitas pengarang.
Artikel-artikel dalam bidang ilmu sosial umumnya cukup panjang dengan referensi yang cukup banyak, yaitu rata-rata 24,91 sitiran per artikel. Jumlah ini termasuk sangat besar dan sesuai dengan predikat ilmiah yang disandangnya. Sebagai perbandingan, dalam majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi adalah 16,78 sitiran per artikel (Raptis 1992), pada Baca tahun 1974-1999 adalah 4,05 (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000) dan dalam tiga majalah di bidang ilmu perpustakaan dan informasi tahun 1991-1995 adalah 5,47 (Sri Purnomowati 2001). Walaupun proporsi referensi terbitan dalam negeri cukup besar (43,55%), tetapi masih lebih banyak terbitan asing (56,45%). Temuan ini mendekati hasil kajian sebelumnya, yaitu jumlah artikel yang memuat otositiran sebesar 35,82% dibanding temuan Raptis (1992) sebesar 27,60% atau laporan Lipetz (1999) sebesar 82,4% dari keseluruhan artikel.
Buku merupakan jenis dokumen yang lebih banyak disitir dibanding majalah. Temuan ini berbeda dengan hasil kajian di luar negeri tetapi sejalan dengan ciri-ciri penggunaan literatur di bidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi, di Indonesia. Apakah hal ini merupakan ciri-ciri penggunaan literatur bidang ilmu-ilmu sosial di Indonesia, ataukah karena kurangnya ketersediaan majalah, tampaknya perlu penelitian lebih lanjut. Sebagaimana kita ketahui bahwa kesulitan memperoleh artikel majalah terutama majalah asing merupakan kendala umum yang dirasakan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena mahalnya harga langganan majalah asing sementara anggaran perpustakaan semakin terbatas, sehingga koleksi majalah di perpustakaan-perpustakaan kurang lengkap. Sementara jika peneliti memesan fotokopi artikel majalah ke luar negeri, harga terasa sangat mahal dan membutuhkan banyak waktu. Hal yang cukup menarik adalah kenyataan bahwa penggunaan internet sebagai sumber informasi ternyata tidak terlihat dalam referensi yang digunakan.
Data mengenai usia sitiran sangat penting artinya bagi pengelola perpustakaan untuk menyusun kebijakan mengenai penyiangan koleksi. Sebagaimana dinyatakan di atas bahwa koleksi bidang adat dan antropologi, dapat berada lebih lama dalam koleksi. Untuk mendapatkan gambaran keusangan literatur dalam bidang ilmu tertentu secara lebih akurat, hendaknya dilakukan kajian terhadap majalah-majalah di bidang yang lebih spesifik dengan cakupan majalah yang lebih banyak.
Sebagaimana dinyatakan di atas, majalah ternyata relatif kurang berperan sebagai sumber informasi dibandingkan dengan buku. Hal yang perlu digarisbawahi adalah sering disitirnya majalah Indonesia kategori semi ilmiah atau populer seperti Prisma dan Tempo, sedangkan majalah ilmiah seperti Masyarakat Indonesia bahkan jarang disitir. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi para peneliti di bidang ilmu sosial tidak hanya melalui majalah ilmiah, tetapi juga majalah semi ilmiah bahkan majalah populer. Hal ini mendukung kenyataan atas rendahnya produktivitas peneliti dalam majalah ilmiah.
Sesuai dengan anggapan umum, bahwa semakin sering pengarang disitir, berarti tulisan tersebut semakin berbobot dan semakin besar pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tulisan dalam bidang ilmu-ilmu sosial lebih banyak menyitir pengarang asing daripada pengarang Indonesia. Dari analisis sitiran berhasil diidentifikasi terfokusnya acuan pada figur tertentu. Sering disitirnya pengarang-pengarang tersebut menunjukkan besarnya kontribusi mereka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sosial di Indonesia.
Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa ciri-ciri penggunaan literatur ilmu sosial di Indonesia tidak sama dengan di luar negeri, khususnya mengenai jenis dokumen yang sering disitir, judul majalah maupun pengarang yang disitir.


KESIMPULAN
Dari hasil kajian tersebut dapat disimpulkan bahwa kepengarangan dalam bidang ilmu-ilmu sosial didominasi oleh kaum pria dengan tingkat kolaborasi dan produktivitas pengarang yang rendah. Topik yang paling diminati adalah kelompok sosial menurut tingkatan umur dan ras/etnis, serta ekonomi perburuhan.
Buku merupakan jenis dokumen yang paling banyak disitir, rata-rata jumlah sitiran 24,91 judul per artikel, dan median usia sitiran sebesar 11 tahun. Majalah Indonesia yang paling sering disitir adalah Prisma, sedangkan pengarang Indonesia yang banyak disitir adalah Koentjaraningrat.
Ciri-ciri kepengarangan di bidang ilmu-ilmu sosial di Indonesia ternyata sama dengan di luar negeri, sedangkan penggunaan literatur khususnya jenis dokumen yang disitir berbeda dengan temuan di luar negeri.
Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, disarankan untuk melakukan studi sejenis untuk semua bidang ilmu; mengambil data dari majalah dalam bidang yang lebih spesifik tetapi dengan cakupan majalah yang lebih banyak.


DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, Sally Jo, and S.M. Dillon. 1997. Authorship pattern in information systems. Scientometrics 39 (1): 19-27.

Diodato, Virgil. 1994. Dictionary of bibliometrics. New York: The Haworth Press.

Gupta, B.M., Suresh Kumar, and C.R. Karisiddappa. 1997. Collaboration profile of theoretical population genetics speciality. Scientometrics 39 (3): 293-314.

Haan, J. De. 1997. Authorship pattern in Dutch sosiology. Scientometrics 39 (2): 197-208.

Hamakonda, Towa P., dan J.N.B Tairas. 1991. Pengantar klasifikasi Persepuluhan Dewey. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 258 hal.

Lipetz, Ben-Ami. 1999. Aspects of JASIS authorship through five decades. Journal of American Society for Information Science 50 (11) : 994-1003.

Maheswarappa, B.S., and S.A. Mathias. 1987. Authorial collaboration in various disciplines of the physical sciences in India : a bibliometric study. Journal of Library and Information Science (India) 12 (2) : 136-155. (Abstrak)

Raptis, Paschalis. 1992. Authorship characteristics in five international library science journals. Libri 47 : 35-52.

Sri Purnomowati, dan Rini Yuliastuti. 2000. Ciri-ciri kepengarangan dalam majalah Baca tahun 1974-1999. Baca 25 (1-2) : 20-30.

Sri Purnomowati. 2001. Ciri-ciri kepengarangan dalam 3 majalah di bidang perpustakaan dan informasi. Berita Iptek 42 (1) : 125-140.

Terry, J.L. 1996. Authorship in College & Research Libraries revisited: gender, institutional affiliation, collaboration. College and Research Libraries 57 (4) : 377-83 (Abstrak).

Walker, Thomas D. 1997. Journal of documentary reproduction, 1938-1942: domain as reflected in characteristics of authorship and citation. Journal of American Society for Information Science 48 (4) : 361-368.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home