Name:
Location: Jakarta, Indonesia

Tuesday, October 31, 2006

DINAMIKA PENGGUNA LAYANAN PDII-LIPI
TAHUN 1995-1999

Sri Purnomowati*

Abstract

The goal of the study is to know the utilization of PDII-LIPI services from 1995 to 1999 and the factors behind it. The study used the data from secondary sources and questionnaires. The findings of study showed that the use of the library by student tended to increase, while the use of the library by office workers tended to decrease. In general, the amount of information services used by office workers or professionals has been decreasing since 1995. The changes in the use of the information services of PDII-LIPI was probably caused by a number of factors, e.g. the growing number of users; the growing of information needs; social, political, and economic dynamics; information technology; and the internal policy of PDII-LIPI. Office workers and students had different strategies in coping with external factors. It was suggested that the library of PDII-LIPI should always be aware of the external and ready to anticipate. The policy regarding services should be equipped with the indicators that could be used to measure performances.

Keywords : Library user; Information services; PDII-LIPI


LATAR BELAKANG
Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) merupakan salah satu lembaga eselon dua di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), terbentuk sejak tahun 1965 sebagai Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional (PDIN). Setelah reorganisasi pada tahun 1986, PDIN berganti nama menjadi PDII-LIPI. Struktur organisasi pada tahun 1995-1999, PDII-LIPI membawahi lima Bidang/Bagian yang berada di Jakarta, yaitu Bagian Tata usaha, Bidang Penyebaran Informasi Ilmiah, Bidang Perpustakaan, Bidang Sarana Teknis Dokumentasi dan Informasi, Bidang Pengembangan Informasi Ilmiah, dan Bidang Jasa Informasi Teknologi yang berada di Bandung. Bidang Perpustakaan mengelola suatu perpustakaan yang menyediakan berbagai layanan untuk masyarakat ilmiah, seperti: peminjaman koleksi, membaca di tempat, fotokopi, dan meja informasi. Adapun Bidang Penyebaran Informasi Ilmiah menyediakan berbagai layanan informasi seperti: Penelusuran Literatur, Paket Informasi Teknologi Industri, Fotokopi, Info Kilat, Buletin Info Kilat, Kumpulan Abstrak, Info Haki, dan Fokus Informasi. Struktur organisasi tersebut kemudian mengalami perubahan pada tahun 2001.
Pengetahuan mengenai pengguna layanan perpustakaan ataupun layanan informasi sangat penting untuk diketahui karena akan mempengaruhi kebijakan pengembangan koleksi, bentuk layanan, cara penyebaran, bentuk kemasan, dan fokus sasaran yang dituju. Analisis mengenai pengguna juga dapat digunakan untuk menggambarkan luasnya penyebaran layanan informasi, sedangkan pendayagunaan informasi dapat dilihat dari besarnya permintaan layanan atau secara tidak langsung dapat dilihat dari besarnya pemasukan dana yang diterima.


* Peneliti Madya di PDII-LIPI


Pada tahun 1996, telah dilakukan penelitian peta pengguna informasi Iptek PDII-LIPI tahun 1990-1994 dan direncanakan akan dilakukan penelitian sejenis setiap lima tahun sekali. Periode waktu 1995-1999 merupakan periode yang sangat penting karena pada waktu itu terjadi berbagai perubahan situasi lingkungan, seperti pesatnya kemajuan teknologi informasi, rawannya kondisi sosial politik, terguncangnya kondisi ekonomi karena krisis moneter, bencana banjir yang melanda Jakarta, dan terbitnya berbagai kebijakan intern PDII-LIPI. Yang menjadi pertanyaan adalah : bagaimanakah dinamika pengguna layanan PDII-LIPI dalam situasi tersebut? Bagaimana keadaannya jika dibandingkan dengan pengguna lima tahun yang lalu?
Untuk menjawab pertanyaan itu, dilakukan kajian untuk mengetahui dinamika pengguna layanan PDII-LIPI tahun 1995-1999 dibandingkan dengan pengguna lima tahun sebelumnya (1990-1994).

TINJAUAN LITERATUR
Sebagai upaya untuk meningkatkan layanannya, PDII-LIPI telah melakukan berbagai kajian mengenai penggunanya. Mengingat sasaran utama layanan PDII-LIPI adalah peneliti maka dilakukan penelitian terhadap tenaga penelitian dan pengembangan di kalangan Industri Strategis (Sri Purnomowati dkk. 1995). Hasil menunjukkan bahwa informasi yang dibutuhkan sangat khusus dan tidak hanya bersumber dari literatur sehingga responden memang jarang menggunakan koleksi perpustakaan di luar perusahaannya.
Pada tahun 1996, Sri Purnomowati, dkk. telah melakukan Penelitian peta pengguna informasi Iptek PDII-LIPI tahun 1990-1994, untuk mengetahui peta pengguna layanan PDII-LIPI berdasarkan sebaran geografi, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, jenis kelembagaan, dan bidang minat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan pengguna layanan PDII-LIPI masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama dari DKI Jakarta, kemudian Jawa Barat, Jawa Timur dan Yogyakarta. Mayoritas pengguna layanan PDII-LIPI adalah mahasiswa, yaitu sebagai pengunjung perpustakaan mencapai 63,97% terbanyak berasal dari Perguruan Tinggi Swasta, dan mencapai 53,95% dari pengguna layanan secara keseluruhan. Layanan informasi ternyata cukup banyak dipakai oleh karyawan, yaitu mencapai 89,50% pada Layanan Kesiagaan Informasi, 41,68% pada Layanan Penelusuran Literatur, dan mencapai 48,64% pada Layanan Fotokopi. Bidang ilmu yang paling banyak diminta pengguna adalah ilmu terapan (65,7%), ilmu murni (23,8%), ilmu sosial (7,2%), lain-lain (3,3%). Ilmu terapan yang paling banyak diminta adalah teknik kimia dan pertanian, sedangkan ilmu murni yang paling banyak diminta adalah biologi dan ilmu kimia.
Selain itu, penelitian terhadap 548 orang peneliti dan 48 orang Kapuslitbang di lima departemen/non departemen menunjukkan bahwa hubungan peneliti dengan unit dokumentasi dan persepsi peneliti terhadap kegiatan dokumentasi adalah positif. Kemungkinan penugasan PDII-LIPI sebagai pusat dokumentasi laporan penelitian didukung oleh 71,74% peneliti dan 75,03% Kapuslitbang (Mursi Sutarti dkk. 1997).
Penelitian terhadap 54 orang peneliti LIPI di kawasan Puspiptek Serpong dilakukan untuk mengetahui karakteristik informasi yang dibutuhkan oleh peneliti, dan perilakunya dalam mencari informasi. Hasil penelitian antara lain menunjukkan bahwa informasi yang dibutuhkan terutama adalah terbitan internasional khususnya majalah asing, diprioritaskan dalam bentuk digital dan mutakhir. Peneliti masih jarang memanfaatkan layanan perpustakaan untuk memperoleh informasi terbaru. Sebagian besar peneliti telah menggunakan internet dan mampu melakukan penelusuran sendiri tetapi berhubung adanya berbagai kendala, intensitas penggunaannya belum maksimal. Mereka beranggapan bahwa internet sangat bermanfaat dan mempunyai kontribusi yang paling besar dalam memenuhi kebutuhannya, bahkan mengungguli peran perpustakaan sebagai penyedia informasi.
Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun 1997 telah terjadi krisis moneter di Indonesia sehingga mengakibatkan pertumbuhan ekonomi nasional merosot tajam. Terjadi devaluasi nilai mata uang rupiah dari Rp. 2.300 per 1 dolar Amerika menjadi Rp. 15.000 bahkan lebih. Sekitar 125 perusahaan dengan 51.724 orang pekerja telah di PHK dan diprediksi bahwa pada tahun 1998 saja akan ada penganggur terbuka sekitar 1,1 juta orang untuk seluruh sektor (Kusuma 1998). Dampak krisis ini antara lain adalah merosotnya tingkat penghasilan; membengkaknya: tingkat pengangguran, jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, jumlah orang yang bekerja di sektor informal, angka putus sekolah; hilangnya kesempatan kerja dan memburuknya kondisi kerja bagi pekerja anak dan wanita (Wirakartakusumah dan Hasan 1999).
Sri Suryaningsih (1998) menyatakan bahwa perpustakaan terkena dampak langsung krisis moneter tersebut, berupa: kekacauan pengaturan anggaran, membengkaknya biaya operasional, menurunnya produksi buku dalam negeri, meningkatnya pengunjung perpustakaan karena pengguna tak mampu membeli buku impor, dan meningkatnya vandalisme di perpustakaan.
Dampak krisis ekonomi tersebut disusul dengan situasi sosial politik yang semakin memanas. Pada awal tahun 1998, kondisi keamanan ibukota sangat rawan akibat gejolak politik menjelang kejatuhan Soeharto. Pada waktu itu, demonstrasi mahasiswa sedang marak-maraknya sehingga kegiatan akademis perguruan tinggi menjadi terganggu. Taufik Abdullah (1999) menyebut tahun 1998 sebagai tahun panjang yang penuh kegalauan. Keadaan waktu itu yang sedemikian kacau, sering terjadi kerusuhan, huru-hara, pembakaran, penjarahan, bahkan pembunuhan dan pemerkosaan.

METODOLOGI
Kajian ini merupakan kajian deskriptif. Sebagai subyek kajian adalah pengguna layanan PDII-LIPI Jakarta. Data pengguna diperoleh dari data sekunder, yaitu: Laporan Tahunan PDII-LIPI tahun 1996-1997, tahun 1997-1998, tahun 1997-1998, tahun 1998-1999, tahun 1999-2000, Laporan Lima Tahun PDII-LIPI 1993-1998, dan Laporan bulanan Sub Bidang terkait. Untuk melengkapi pembahasan dilakukan survei terhadap 100 orang mahasiswa pengunjung perpustakaan PDII-LIPI.
Pengguna layanan yang dimaksud dalam kajian ini adalah perorangan atau lembaga yang menggunakan layanan perpustakaan yang disediakan oleh Bidang Perpustakaan dan layanan informasi yang disediakan oleh Bidang Penyebaran Informasi Ilmiah. Data pengguna layanan perpustakaan diambil dari data pengunjung perpustakaan yang merupakan jumlah paling banyak, anggota perpustakaan dan pengguna Layanan Meja Informasi. Data pengguna layanan informasi diambil dari data pengguna Layanan Penelusuran Literatur, Paket Informasi Teknologi Industri, dan Fotokopi yang disediakan oleh Sub Bidang Bibliografi; dan Info Kilat, Buletin Info Kilat, Kumpulan Abstrak, Info Haki, Fokus dan Fotokopi yang disediakan oleh Sub Bidang Kesiagaan Informasi.
Pengelompokan jenis pengguna tergantung dari data yang tersedia. Pada layanan perpustakaan (disediakan oleh Bidang Perpustakaan) jenis pengguna digolongkan menjadi tiga, yaitu: mahasiswa, karyawan, dan pelajar. Pada layanan informasi (disediakan oleh Bidang Penyebaran Informasi Ilmiah) jenis pengguna digolongkan lebih rinci, yaitu : peneliti, dosen, karyawan, pustakawan, mahasiswa S1, mahasiswa S2/S3, industri, umum, dan lembaga.
Pengelompokan geografi berdasarkan propinsi, yang pada saat pendataan, masih terdiri dari 27 propinsi. Adapun bidang minat dikelompokkan berdasarkan klasifikasi DDC.

HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN
A. Layanan Perpustakaan
Data yang berhasil dihimpun selama kurun waktu 1995-1999 menunjukkan bahwa data pengguna layanan perpustakaan yang sangat didominasi oleh pengunjung perpustakaan PDII-LIPI ini rata-rata per tahun adalah mahasiswa 75,42%, karyawan 15,43% dan pelajar 9,15% (lihat Tabel 1). Data tersebut mengalami perubahan dibandingkan dengan data lima tahun sebelumnya (1990-1994) yang rata-rata per tahun untuk mahasiswa adalah 63,97%, karyawan 20,91% dan pelajar 8,09%. Ditinjau dari komposisi pengguna, perbandingan kedua data tersebut menunjukkan bahwa terjadi kenaikan persentase untuk pengunjung mahasiswa, penurunan persentase untuk pengunjung karyawan, dan relatif stabilnya pengunjung golongan pelajar.

Tabel 1
Pengguna Layanan Perpustakaan

Tahun
Karyawan
(%)
Mhs
(%)
Pelajar
(%)
95/96
12,86
73,88
13,26
96/97
16,58
72,23
11,18
97/98
12,06
78,01
9,93
98/99
20,91
71,74
7,35
99/00
15,26
79,38
5,36
Rata2/th
15,43
75,42
9,15

Ditinjau dari jumlahnya (lihat Grafik 1) menunjukkan bahwa jumlah pengunjung perpustakaan secara umum mengalami penurunan di tahun 1996/1997 dan tahun 1998/1999. Karena mahasiswa merupakan bagian terbesar dari pengunjung perpustakaan maka keadaan ini juga mencerminkan keadaan pengunjung mahasiswa. Mengapa? Adakah penurunan ini ada hubungannya dengan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada waktu itu?.
Jika pengunjung mahasiswa mencapai jumlah paling rendah pada tahun 1998/1999, sebaliknya pengguna karyawan mencapai persentase tertinggi pada tahun tersebut (20,91%) dan mencapai persentase paling rendah pada awal krisis moneter tahun 1997/1998 (12,06%). Mengapa?
Grafik 1. Jumlah pengguna layanan perpustakaan


B. Layanan informasi
Yang dimaksud dengan layanan informasi mencakup layanan seperti: Penelusuran Literatur, Fotokopi, Paket Informasi dan berbagai jenis Layanan Kesiagaan Informasi, yang disiapkan atas dasar pesanan dan dapat diminta pengguna tanpa harus datang ke perpustakaan.
Dalam Grafik 2 terlihat bahwa jumlah pengguna layanan informasi terus menurun bahkan sejak tahun 1995, yaitu masa sebelum terjadinya krisis moneter. Dengan demikian dapat diduga bahwa selain krisis moneter, ada faktor lain yang menyebabkan penurunan jumlah pengguna layanan informasi tersebut.
Data menunjukkan bahwa persentase pengguna mahasiswa rata-rata adalah 44,99% per tahun, sisanya sebesar 55,01% termasuk golongan profesional dengan rincian: peneliti 18,75%, dosen 7,61%, karyawan 9,71%, pustakawan 3,33%, mahasiswa S2/S3 6,22%, industri 3,61%, umum 2,84%, dan lembaga 2,94%. Pengertian karyawan dalam hal ini merupakan salah satu profesi bukan gabungan dari berbagai profesi. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa layanan ini banyak dimanfaatkan oleh pengguna dari kalangan profesional karena harus membayar, sedangkan layanan perpustakaan banyak dimanfaatkan oleh kalangan mahasiswa karena gratis kecuali membayar biaya fotokopi.
Jika dibandingkan dengan pengguna tahun 1990-1994 maka persentase pengguna mahasiswa sedikit meningkat dari 40,19% menjadi 44,99%, sedangkan kalangan profesional sedikit menurun dari 58,83% menjadi 55,01%. Hal ini dapat dimengerti mengingat populasi mahasiswa yang semakin meningkat.

Grafik 2. Jenis pengguna layanan informasi

Dari data tersebut di atas tampak terjadi pergeseran jenis pengguna layanan PDII-LIPI jika dibandingkan dengan data lima tahun sebelumnya. Berbagai faktor yang diduga memungkinkan terjadinya dinamika pengguna tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

Jumlah Pengguna
Peningkatan persentase pengunjung mahasiswa dari 63,97% (tahun 1990-1994) menjadi 75,42% (tahun 1995-1999) kemungkinan disebabkan karena jumlah perguruan tinggi swasta yang terus meningkat sehingga jumlah mahasiswapun ikut meningkat. Jika pada tahun 1995 jumlah perguruan tinggi swasta di DKI Jakarta ada 180 maka pada tahun 1999 jumlahnya sudah mencapai 230 perguruan tinggi (Lihat Tabel 2).
Tabel 2
Jumlah Perguruan Tinggi dan Mahasiswa di DKI Jakarta
Tahun
Jumlah
PTN
Jumlah
PTS
Jumlah
Mhs PTN
Jumlah
Mhs PTS
1995
4
180
136.326
304.732
1996
4
194
496.484
310.393
1997
4
209
425.609
278.015
1998
4
209
116.151
338.970
1999
4
230
399.444
332.026
Sumber : Biro Pusat Statistik

Berdasarkan penelitian yang lalu (Sri Purnomowati dkk 1996), pengguna layanan PDII-LIPI dari DKI Jakarta terbanyak berasal dari perguruan tinggi swasta. Posisi tersebut tampaknya tetap bertahan sampai sekarang. Hasil survei terhadap 100 orang mahasiswa pengunjung perpustakaan pada bulan April 2006 menunjukkan bahwa 72% nya berasal dari perguruan tinggi swasta. Hal ini membuktikan bahwa perpustakaan perguruan tinggi khususnya perguruan tinggi swasta belum mampu memenuhi kebutuhan informasi para mahasiswanya.

Kebutuhan Informasi
Melihat data yang ada, jumlah pengunjung mahasiswa di PDII-LIPI semakin lama semakin meningkat. Hal ini mengindikasikan adanya masalah yang menyebabkan mereka mencari informasi di luar perpustakaan kampus. Hasil survei terhadap 100 orang mahasiswa pengunjung perpustakaan pada bulan April 2006 menunjukkan bahwa hampir seluruh responden (94%) mengaku bahwa perpustakaan di perguruan tinggi kurang lengkap, selain keluhan lain seperti kurangnya fasilitas, sulitnya sistem temu kembali (masih manual), terbatasnya koleksi sementara pengguna banyak.
Kelengkapan koleksi perpustakaan sebagai sarana pendukung belajar mengajar di perguruan tinggi tampaknya belum menjadi prioritas karena membutuhkan banyak dana. Oleh karenanya, untuk memenuhi kebutuhan akan informasi, mahasiswa datang ke perpustakaan PDII-LIPI yang menurut mereka lebih lengkap, sistem temu kembali lebih mudah, tempatnya nyaman/tenang, lokasi strategis, fasilitas lebih memadai, pelayanan bagus/cepat, manajemen telah teruji. Lain halnya dengan peneliti yang kebutuhan utamanya adalah jurnal ilmiah asing (Sri Purnomowati dkk. 2003), pengunjung mahasiswa di PDII-LIPI yang sebagian besar (92%) mahasiswa S1, paling berminat pada dokumen laporan penelitian, tesis/disertasi, majalah Indonesia, juga buku dan makalah. Berhubung koleksi yang mereka butuhkan tersebut cukup lengkap tersedia di PDII-LIPI maka tidak heran jika semakin hari semakin banyak saja mahasiswa yang datang untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Hal ini menjadi dilema bagi PDII-LIPI, karena layanan yang seharusnya difokuskan untuk peneliti, malah banyak digunakan oleh mahasiswa.

Faktor Sosial Politik
Pada awal tahun 1996, bencana banjir melanda Jakarta dan mencapai puncaknya pada bulan Februari 1996. Pada waktu itu, PDII-LIPI ikut terkena musibah tersebut sehingga koleksi di lantai dasar yang berisi laporan penelitian terendam air. Akibatnya, sebagian perpustakaan terpaksa ditutup selama beberapa bulan untuk penataan kembali. Kejadian ini merupakan salah satu alasan mengapa jumlah pengunjung perpustakaan pada tahun 1996/1997 menurun.
Berdasarkan data pengguna layanan perpustakaan pada Grafik 1 di atas, akibat krisis ekonomi yang terjadi pada akhir tahun 1997 seperti menurunnya daya beli masyarakat, ternyata tidak serta merta menurunkan jumlah pengunjung mahasiswa sementara jumlah pengunjung karyawan langsung kelihatan sedikit menurun. Baru tahun berikutnya (1998/1999) tampak adanya penurunan jumlah pengunjung mahasiswa. Mengapa?
Sebagaimana kita ketahui bahwa pada awal tahun 1998, kondisi keamanan ibukota sangat rawan akibat gejolak politik menjelang lengsernya Soeharto. Pada waktu itu, demonstrasi mahasiswa sedang marak-maraknya sehingga kegiatan akademis perguruan tinggi menjadi terganggu. Perlu diketahui bahwa lokasi PDII-LIPI adalah satu jalur dengan gedung DPR yang menjadi sasaran demontrasi. Oleh karena itu, jalan sering kali diblokir dan perpustakaan terpaksa ditutup. Jadi penyebab turunnya pengunjung mahasiswa pada tahun 1998/1999 diduga karena jam buka perpustakaan yang kurang optimal dan banyak mahasiswa yang ikut turun ke jalan untuk demonstrasi.
Dugaan ini didukung data yang menunjukkan bahwa pengunjung mahasiswa menurun bahkan mencapai jumlah paling rendah pada tahun 1998/1999 (dari 78,01% menjadi 71,74%) sementara pengunjung karyawan tidak terganggu dengan maraknya demonstrasi tersebut bahkan persentasenya meningkat tajam (dari 12,06% menjadi 20,91%).

Krisis Ekonomi
Krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997 mengakibatkan pertumbuhan ekonomi nasional merosot tajam. Dampak langsung krisis moneter terhadap perpustakaan adalah mahalnya harga buku dan majalah terbitan luar negeri serta semakin ketatnya anggaran pengadaan koleksi yang disediakan pemerintah. Oleh karena itu, pembelian buku terpaksa dikurangi dan sebagian besar langganan jurnal ilmiah asing terpaksa dihentikan. Sebagai konsekuensinya, layanan informasi yang mengandalkan jurnal ilmiah asing seperti Layanan Kesiagaan Informasi juga terpaksa dihentikan. Hal ini tentu saja menurunkan jumlah pengguna (lihat Grafik 3). Dalam Grafik tersebut penurunan drastis terjadi sejak tahun 1998/1999.
Grafik 3. Pengguna Layanan Kesiagaan Informasi
Demikian pula, dengan adanya krisis moneter tahun 1997, harga fotokopi dokumen yang dipesan ke luar negeri menjadi sangat mahal karena dipatok dengan mata uang asing, sementara daya beli masyarakat semakin menurun. Jadi logis jika jumlah pengguna layanan fotokopi ke luar negeri juga turun. Hanya saja di sini ada yang berbeda, yaitu adanya krisis moneter sangat berpengaruh terhadap pengguna mahasiswa, tetapi tidak begitu berpengaruh terhadap pengguna karyawan (Lihat Grafik 4).
Grafik 4. Pengguna Layanan Fotokopi

Barangkali karena biaya layanan informasi tidak dibayar oleh perorangan tetapi ditanggung oleh lembaga yang bersangkutan. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa pengguna karyawan ini lebih stabil, konsisten berdasarkan kebutuhannya, dan tidak mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungan.
Sebagaimana diketahui bahwa pada akhir tahun 1997, terjadi krisis moneter berkepanjangan sehingga banyak karyawan yang di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), kehilangan pekerjaan karena menurunnya kegiatan bisnis, atau usahanya yang menciut atau gulung tikar. Dalam keadaan terjepit tersebut mereka yang di PHK ini bangkit untuk mengembangkan potensi dan kemampuannya. Mereka datang ke perpustakaan dalam rangka mencari ide usaha yang dapat memberikan peluang kerja. Kondisi keamanan ibukota tampaknya tidak mempengaruhi minat karyawan untuk datang ke perpustakaan sebagaimana mahasiswa. Data naiknya pengguna Meja Informasi mendukung analisis tersebut (Lihat Grafik 5). Layanan Meja Informasi adalah layanan untuk menjawab pertanyaan pengguna baik yang datang maupun melalui telpon. Di situ juga ditempatkan koleksi tentang teknologi tepat guna yaitu teknologi praktis yang cocok untuk pengembangan industri kecil dan rumah tangga.

Grafik 5. Jenis pengguna Layanan Meja Informasi

Dari grafik tersebut terlihat bahwa pengguna Layanan Meja Informasi dari kalangan karyawan mengalami kenaikan, dan sangat pesat di tahun 1999. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya pemanfaatan koleksi teknologi tepat guna, didukung dengan adanya kemudahan akses karena dibangunnya pangkalan data teknologi tepat guna.
Dari temuan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pengguna mahasiswa dan karyawan mempunyai karakter yang berbeda dalam menyikapi kondisi lingkungan. Jika jumlah pengunjung mahasiswa menurun karena kondisi sosial politik yang tidak mendukung, kesulitan ekonomi ternyata bahkan mendorong karyawan untuk mencari informasi tanpa terhambat situasi sosial politik.

Teknologi Informasi
Sebagaimana dinyatakan di atas bahwa pengguna layanan informasi di PDII-LIPI cenderung menurun terus tidak hanya setelah krisis moneter tetapi bahkan sejak tahun 1995 (Lihat Grafik 6). Salah satu faktor yang diduga sebagai penyebabnya adalah teknologi informasi yang berkembang pesat selama dua dekade terakhir. Pada saat itu, teknologi internet sudah dikenal masyarakat dan terus berkembang pesat. Jumlah pelanggan internet tahun 2000 yang 400.000 orang (Bisnis Indonesia, 3 April, 2001) menjadi 630.000 orang di awal tahun 2003, sementara jumlah pengguna internet yang mencapai 4,2 juta orang di tahun 2002 diperkirakan mencapai 5,5 juta orang di tahun 2003 (Kompas, 28 Agustus, 2003).
Untuk mendapatkan informasi ilmiah, masyarakat terutama di kota-kota besar, tidak lagi tergantung sepenuhnya pada perpustakaan, apalagi fasilitas akses internet telah tersedia di kantor-kantor lembaga pemerintah, perguruan tinggi, bahkan di warung internet. Dilaporkan bahwa 75% pengguna internet mengaksesnya melalui komputer di kantor atau warnet dan hanya 21% responden yang berlangganan internet (Bisnis Indonesia, 2 April, 2001). Kondisi ini dapat berkembang terus mengingat persentase pelanggan internet di Indonesia masih tergolong rendah dibanding negara-negara lainnya yaitu sebesar 3% jumlah rumah tangga di perkotaan sementara di Singapura, Taiwan, dan Hongkong masing-masing mencapai 47,4%, 40% dan 26%.
Dugaan pengaruh kemajuan teknologi informasi terhadap penurunan jumlah pemakai layanan perpustakaan didukung oleh hasil penelitian Sri Purnomowati dkk. (2003) terhadap peneliti LIPI di kawasan Puspiptek Serpong. Hasil penelitian tersebut melaporkan bahwa peneliti menganggap internet sangat bermanfaat dan mempunyai kontribusi yang paling besar dalam memenuhi kebutuhannya, bahkan mengungguli peran perpustakaan sebagai penyedia informasi.
Grafik 6. Jenis pengguna Layanan Penelusuran Literatur

Kebijakan PDII-LIPI
Selain faktor kemajuan teknologi, pergeseran pengguna ini tidak terlepas dari akibat kebijakan yang ditempuh oleh PDII-LIPI. Sebagaimana diketahui bahwa selama tahun 1995-1999 PDII-LIPI giat mengembangkan kerja sama layanan dengan perpustakaan perguruan tinggi di daerah-daerah, antara lain dengan Universitas Jember, Universitas Brawijaya, Universitas Surabaya, dan Universitas Cenderawasih. Dengan adanya kerja sama tersebut, unit layanan di daerah memiliki sarana dan kemampuan untuk melakukan penelusuran sendiri sehingga tidak terlalu tergantung pada layanan penelusuran di PDII-LIPI. Dengan adanya kerja sama tersebut permintaan pengguna perorangan dikoordinir oleh lembaga yang bersangkutan atas nama kontak personnya. Akibatnya statistik menurun karena pengguna perorangan berubah menjadi pengguna lembaga sementara pengguna perorangan yang memanfaatkannya tidak terdeteksi. Program kerja sama seperti ini seharusnya mempunyai alat ukur yang dapat menggambarkan keberhasilannya, bukannya malah berperan menurunkan jumlah pengguna.
Contoh lain adalah kebijakan PDII-LIPI yang ditetapkan pada tahun 1997, yaitu dikeluarkannya himbauan kepada 10 perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri di daerah dan kepada mahasiswa di wilayah Jabotabek agar mereka sedapat mungkin dapat melakukan penelusuran sendiri. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa lebih mandiri dalam mencari informasi sekaligus mengurangi beban kerja SDM PDII-LIPI yang terbatas. Diharapkan tenaga yang ada dapat mengerjakan pekerjaan yang lebih berbobot, seperti analisis informasi, menulis tinjauan literatur, atau mengembangkan produk baru. Selain itu, menurunnya kuantitas permintaan layanan penelusuran diharapkan dapat dikompensasi dengan peningkatan permintaan fotokopi.
Sebagai konsekuensinya, statistik penggunapun menjadi turun tetapi peningkatan kinerja SDM dengan mengerjakan pekerjaan yang lebih berbobot tidak tercermin dan kenaikan permintaan fotokopi yang diharapkan itu belum tampak dari statistik. Hal ini kemungkinan juga disebabkan karena tidak tersedianya data. Sebagaimana diketahui bahwa data permintaan layanan fotokopi yang tersedia hanya dari Bidang Penyebaran Informasi Ilmiah sedangkan data permintaan dari pengunjung perpustakaan belum tersedia. Mudah-mudahan dampak positif dari kebijakan tersebut dapat dirasakan dalam jangka panjang nanti.
Sayangnya indikator keberhasilan kinerja saat ini umumnya masih diukur secara kuantitatif seperti jumlah pengguna atau jumlah layanan yang digunakan. Padahal banyak indikator lain yang bisa dipakai, antara lain berdasarkan kualitas layanan dan meluasnya pengguna sebagaimana yang termuat dalam ISO 11620-1998 (International Organization for Standardization 1998). Contoh lain, Ottensmann (1997) menggunakan sistem informasi geografi untuk menganalisis pola penggunaan perpustakaan umum.

KESIMPULAN DAN SARAN
Dari data tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pengguna layanan PDII-LIPI mengalami dinamika diduga karena pengaruh berbagai faktor, antara lain meningkatnya jumlah pengguna, berkembangnya kebutuhan informasi, guncangan di bidang sosial, politik, dan ekonomi, kemajuan teknologi informasi, dan kebijakan intern PDII-LIPI. Dalam menyikapi perubahan faktor lingkungan, karyawan dan mahasiswa ternyata mempunyai karakter yang berbeda. Setelah krisis moneter, jumlah pengunjung mahasiswa menurun sementara pengunjung karyawan bahkan meningkat. Selanjutnya disarankan agar perpustakaan selalu waspada terhadap perubahan situasi lingkungan dan siap untuk melakukan antisipasi. Dalam membuat perencanaan maupun kebijakan hendaknya dilengkapi dengan indikator untuk mengukur keberhasilannya. Sehubungan dengan hal itu, segala bentuk data dan laporan hendaknya disimpan dan dirawat dengan baik karena sangat dibutuhkan sebagai bahan kajian dan evaluasi.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik. 1999. Tahun pendek yang terpanjang : refleksi akhir tahun. Dalam Seminar Sehari Refleksi 1998 dan prediksi 1999, antara harapan dan kenyataan di Jakarta 16 Februari 1999. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Bisnis Indonesia. 2001. Segmentasi pelanggan internet masih kabur. Bisnis Indonesia, Selasa 3 April 2001, hlm 18 kolom 1-2.

Bisnis Indonesia. 2001. Sekitar 75 % akses internet dari kantor dan warnet. Bisnis Indonesia, Senin 2 April 2001, hlm 18 kolom 1-3.

Kusuma, Djohari Wirakarta. 1998. Keadaan ketenagakerjaan sebagai akibat dari krisis moneter dan ekonomi. Dalam Panel Diskusi Refleksi 1997 dan Ramalan 1998 Kajian Ekonomi, Politik, Kependudukan dan Kebudayaan di Jakarta 20-21 Januari 1998. Jakarta : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

International Organization for Standardization. 1998. Information and documentation-Library performance indicators: ISO 11620-1998 (E).

Kompas. 2003. Tahun ini, pengguna internet bisa mencapai 55 juta orang. Kompas cyber Media. Kamis 28 Agustus 2003. http://www.kompas.com (diakses 13 April 2006).

Mursi Sutarti; Sri Purnomowati; Tri Margono; Rini Yuliastuti; Herlina Johan; Sudarisman Dwinarto. 1997. Studi pola hubungan user-dokumentasi, mekanisme, dan kondisi arus informasi penelitian di Indonesia: Laporan Penelitian. Jakarta: PDII-LIPI.

Ottensmann, John R. 1997. Using geographic information system to analyse library utilization. Library Quarterly, 67 (1) 1997 : 24-49.

Sri Purnomowati, ; Muhartoyo; Jusni Djatin; Mursi Sutarti; Lini B. Somadikarta; Rosa Widyawan. 1995. Kebutuhan informasi dan perilaku pencarian informasi tenaga penelitian dan pengembangan di kalangan industri strategis. Laporan Penelitian. Jakarta: PDII-LIPI.

Sri Purnomowati; Muhartoyo; Rini Yuliastuti; Sarwintyas Prahastuti; Endang Tjempaka Sari; Sudarisman Dwinarto. 1996. Analisa peta pengguna informasi Iptek : studi kasus PDII-LIPI tahun 1990-1994. Laporan Penelitian. Jakarta: PDII-LIPI.

Sri Purnomowati; Arifah Sismita; Mahmudi; Sobari. 2003. Kebutuhan informasi dan perilaku peneliti dalam mencari informasi: laporan penelitian. Jakarta: PDII-LIPI.

Sri Suryaningsih. 1998. Perpustakaan dalam krisis moneter dan reformasi. Pustakom 1 (3) : 22-24.

Wirakartakusumah, M. Djuhari dan Isnarti Hasan. 1999. Krisis moneter di Indonesia, dampak sosial yang ditimbulkan dan strategi penanggulangannya. Jurnal Studi Indonesia 9 (1) 1999: 43-50

0 Comments:

Post a Comment

<< Home