Name:
Location: Jakarta, Indonesia

Tuesday, October 31, 2006

KEBUTUHAN INFORMASI DAN PERILAKU PENCARIAN INFORMASI PENELITI LIPI DI SERPONG

Sri Purnomowati*; Arifah Sismita**; Mahmudi*; Sobari***

Abstract

The aim of the research is to identify the characteristics of information needed by researchers; researchers’ attitudes in information searching; the characteristics of information services needed by researchers; and the function of information sources such as internet, research center libraries, and PDII-LIPI in fulfilling the researchers’ needs. The respondents are 54 researchers from PUSPITEK area in Serpong. Survey data was gathered by using questionnaires and interviews were conducted. The findings of the research showed that the researchers, generally, used information to support on-going research. They need comprehensive, deep, and up-to-date information, especially in the form of international journals. Information on digital media were preferred to print information. Abstracts were considered as valuable as full-text. The researchers had a tendency to use electronic information services. Citation was not considered an important part in writing. In information searching, internet became more valuable source than libraries. About 63% of LIPI researchers in Serpong have used PDII-LIPI services.

Keywords : Information needs; Information seeking behaviour; Serpong; LIPI.


LATAR BELAKANG
Dalam rangka mendukung tugas dan fungsinya, PDII-LIPI diharapkan dapat menyediakan informasi ilmiah yang dibutuhkan oleh para peneliti di lingkungan LIPI. Sebagaimana kita ketahui bahwa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia membawahi pusat-pusat penelitian di berbagai bidang ilmu, yang masing-masing mempunyai kebutuhan informasi yang berbeda. Mengingat produksi informasi dunia yang sedemikian melimpah, sementara anggaran pengadaan koleksi perpustakaan semakin terbatas, maka seleksi dan evaluasi penggunaan literatur harus dilakukan dengan ketat agar dapat meningkatkan pemanfaatan dana pengadaan koleksi perpustakaan secara lebih efektif dan efisien.
Menurut Krikelas (1983), kebutuhan informasi adalah pengakuan tentang adanya ketidakpastian dalam diri seseorang yang mendorong seseorang untuk mencari informasi. Dalam kehidupan yang sempurna, kebutuhan informasi (information needs) sama dengan keinginan informasi (information wants), namun pada umumnya ada kendala seperti ketiadaan waktu, kemampuan, biaya, faktor fisik, dan faktor individu lainnya, yang menyebabkan tidak semua kebutuhan informasi menjadi keinginan informasi. Jika seseorang sudah yakin bahwa sesuatu informasi benar-benar diinginkan, maka keinginan informasi akan berubah menjadi permintaan informasi (information demands).
Indikasi menunjukkan bahwa segala upaya yang telah dilakukan oleh PDII-LIPI selama ini belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Layanan informasi yang disediakan oleh PDII-LIPI kelihatannya belum dimanfaatkan secara optimal oleh para peneliti LIPI atau permintaan informasi (information demands) kecil. Sesuai teori di atas, kecilnya permintaan informasi bukan berarti kecil pula kebutuhan informasinya, tetapi ada kemungkinan bahwa karena berbagai faktor, kebutuhan informasi tidak berubah menjadi permintaan informasi.

* Peneliti di PDII-LIPI
** Kepala Sub Bidang Jasa Penelusuran Informasi PDII-LIPI
*** Kasubbid Pengolahan Literatur PDII-LIPI

Kemungkinan lain, permintaan informasi yang muncul sudah terpenuhi dari sumber-sumber lain. Hal ini didukung oleh maraknya teknologi internet sehingga komunikasi dengan sesama ilmuwan ataupun pencarian literatur dapat dilakukan dengan lebih mudah dan intensif.
Secara umum permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana peneliti memenuhi kebutuhan informasinya? Sesuai dengan permasalahan itu maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik informasi yang dibutuhkan oleh peneliti LIPI, perilaku peneliti dalam mencari informasi, karakteristik layanan informasi yang diinginkan peneliti LIPI dan peran penyedia layanan informasi, seperti internet, perpustakaan Puslit, dan PDII-LIPI dalam memenuhi kebutuhan informasi pada peneliti. Hasil penelitian diharapkan dapat sebagai bahan masukan untuk mendukung kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan, pengembangan sarana dan prasarana akses informasi dan untuk meningkatkan kualitas layanan informasi.
Penelitian ini dilakukan pada tahun 2003, mencakup peneliti LIPI di kawasan Puspiptek Serpong yang berada di bawah Pusat Penelitian Fisika, Pusat Penelitian Kimia, Pusat Penelitian Metalurgi, dan Pusat Penelitian Kaliberasi, Instrumentasi dan Metrologi. Di kawasan tersebut telah ada Unit Layanan Informasi, satu unit kerja di bawah PDII-LIPI.

TINJAUAN LITERATUR
Menurut Voight dalam Krikelas (1983), ilmuwan menggunakan informasi karena tiga macam kebutuhan, yaitu : untuk mengetahui : 1) apa yang sedang dilakukan ilmuwan lain akhir-akhir ini; 2) kebutuhan yang ditimbulkan dari pekerjaannya; dan 3) kebutuhan akan semua informasi yang relevan dengan suatu subyek tertentu. Nicholas (1996) menyatakan bahwa informasi mempunyai 5 fungsi, yaitu: 1) fungsi fact finding yaitu informasi yang dibutuhkan seseorang untuk menjawab pertanyaan tertentu; 2) fungsi current awareness yaitu informasi yang dibutuhkan seseorang agar dapat mengikuti perkembangan mutakhir; 3) fungsi riset yaitu seseorang membutuhkan informasi dalam bidang tertentu secara lengkap dan mendalam; 4) fungsi briefing yaitu informasi yang dibutuhkan seseorang mengenai topik tertentu secara ringkas dan sepintas; 5) fungsi stimulus yaitu informasi yang dibutuhkan seseorang untuk merangsang ide-ide baru.
Hasil penelitian mengenai kebutuhan informasi insinyur di Indonesia menyatakan bahwa dokumen tertulis yang terutama digunakan adalah laporan penelitian, terbitan ilmiah, buku dan laporan pemerintah, sedangkan sumber lisan yang terutama adalah teman sekerja dan seminar/konferensi (David 1984:65-66). Sementara itu, informasi yang banyak digunakan oleh tenaga litbang di 10 BUMN di bawah PBIS (Badan Pengelola Industri Strategis) adalah informasi standar dan spesifikasi, dan informasi tentang teknologi terbaru, adapun sumber literatur yang paling sering dipakai adalah buku pegangan, buku petunjuk, dan manual. Orang yang pertama kali dihubungi dalam mencari informasi adalah orang di dalam perusahaan yang dianggap lebih tahu, sedangkan untuk mencari literatur mereka jarang menggunakan perpustakaan di luar perusahaan (Sri Purnomowati et al. 1995).
Dinyatakan oleh Herner dalam Pinelli (1991) bahwa peneliti ilmu terapan banyak menggunakan saluran informal. Mereka tergantung pada kolega dan teman-teman, sedangkan peneliti ilmu-ilmu dasar atau ilmuwan perguruan tinggi lebih banyak menggunakan saluran informasi formal berupa literatur. Menurut Resenblomm dan Wolek dalam Pinelli (1991), insinyur dan peneliti perguruan tinggi lebih banyak memelihara hubungan dengan orang-orang di luar organisasinya. Sumber informasi tertulis yang banyak digunakan oleh insinyur adalah handbook, standar, laporan teknik, spesifikasi, dan terbitan dagang yang ada dalam perusahaan (Pinelli 1991 : 15-25).
Dinyatakan oleh Allen (1985) bahwa dibanding ilmuwan, insinyur lebih banyak berkomunikasi dengan sesama rekan dalam perusahaan, sementara ilmuwan banyak menjalin hubungan dengan orang-orang di luar organisasinya, dan lebih banyak mengkomunikasikan hasil-hasil karyanya melalui literatur formal. Hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa peran perpustakaan dalam memberikan layanan informasi kepada pemakainya, khususnya para peneliti industri kurang berarti (Simpson 1981; Kremer 1980; Pinelli 1991; Scuchman 1981; Trott 1986). Noble dan Coughlin (1997) meneliti perilaku pencarian informasi bidang kimia berdasarkan cara penggunaan jurnal, strategi mendapatkan informasi Iptek terbaru, keakraban dalam menggunakan sumber-sumber dan peralatan elektronik, dan perpustakaan sebagai infrastrukur.
Sementara itu hasil penelitian mengenai perilaku peneliti di Kawasan Puspiptek Serpong menunjukkan bahwa sumber informasi paten yang digunakan adalah internet dan kantor paten luar negeri, sedangkan perpustakaan setempat dan perpustakaan di luar instansi bukan merupakan sumber informasi yang utama (Sismita 1997). Hasil penelitian mengenai perilaku penggunaan internet terhadap pemenuhan kebutuhan informasi di UPT Perpustakaan Institut Teknologi Bandung menunjukkan bahwa pengguna (93,3%) antusias melakukan penelusuran menggunakan internet untuk memenuhi kebutuhan informasi dan sebagian besar pengguna (59,1%) sudah memahami penggunaan internet (Suhendi 1999).

METODOLOGI
Penelitian dilakukan terhadap 54 orang peneliti LIPI yang bekerja di kawasan Puspiptek Serpong yang berada di bawah Puslit Fisika, Puslit Kimia, Puslit Metalurgi, dan Puslit KIM. Responden diambil secara acak berstrata menurut jenjang kepangkatan fungsional, berjumlah 20% dari populasi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dibantu wawancara. Selain peneliti, juga disiapkan kuesioner untuk diisi oleh pimpinan unit perpustakaan setempat. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner yang terdiri dari isian, jawaban terbuka, pilihan jawaban, pilihan daftar urutan, dan pilihan jawaban berskala 5. Analisis dilakukan secara deskriptif kuantitatif, disajikan dalam bentuk tabel, dan diperdalam dengan analisa secara kualitatif.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Responden
Responden dalam penelitian ini berjumlah 54 orang dengan rincian sebagai berikut (Lihat Tabel 1).

Tabel 1
Deskripsi Responden
Kategori
Rincian
Jumlah (orang)
Jumlah (%)
Instansi
Puslit Fisika
11
20,37

Puslit Kimia
9
16,67

Puslit Metalurgi
16
29,63

Puslit KIM
18
33,33

Jumlah
54
100,00




Jabatan fungsional
Calon Peneliti
8
14,82

Asisten Peneliti
7
12,96

Ajun Peneliti
14
25,93

Peneliti
18
33,33

Ahli Peneliti
7
12,96

Jumlah
54
100,00




Pendidikan
Sarjana S1
24
44,44

Sarjana S2
23
42,60

Sarjana S3
7
12,96

Jumlah
54
100,00




Jenis kelamin
Laki-laki
38
70,37

Perempuan
16
29,63

Jumlah
54
100,00




Usia
< 30 tahun
6
11,11

30 – 39 tahun
10
18,52

40 – 49 tahun
23
42,59

> 49 tahun
15
27,78

Jumlah
54
100,00

Kebutuhan Informasi
Sebagaimana diketahui bahwa subjek yang ditekuni oleh Puslit LIPI di Serpong adalah mencakup ilmu murni dan terapan. Dengan menggunakan ukuran nilai pentingnya suatu aspek dari angka 1 (paling rendah) sampai 5 (paling tinggi), kebutuhan informasi peneliti LIPI di Serpong dapat digambarkan sebagai berikut.
Bentuk dan Asal Dokumen
Hasil analisa menunjukkan bahwa jenis dokumen yang paling penting bagi responden adalah majalah asing (nilai 4,41), kemudian buku teks (nilai 4,33), standar dan spesifikasi (4,26), makalah/prosiding (4,17), laporan penelitian (4,07), Paten (4,06), Majalah Indonesia (3,96), tesis/disertasi (3,89), literatur sekunder (3,81) dan
paling rendah adalah koran/kliping (3,43).
Informasi terbitan internasional merupakan sumber terpenting (nilai 4,61), baru kemudian informasi terbitan nasional (nilai 4,22), dan terbitan LIPI sendiri (nilai 4,19). Informasi terbitan negara tertentu disebut penting oleh beberapa responden, antara lain adalah Jepang, USA, Eropa, Inggris, Jerman, dan Singapura. Bagi responden, media digital (internet, CD-ROM) menduduki tingkat terpenting (nilai 4,69), walaupun media cetak juga masih dianggap penting (nilai 4,37).
Berdasarkan data di atas, ternyata kebutuhan informasi peneliti berbeda dengan kebutuhan insinyur di Indonesia yang banyak menggunakan laporan penelitian, terbitan ilmiah, buku dan laporan pemerintah (David 1984). Juga berbeda dengan tenaga litbang industri yang banyak menggunakan informasi standar dan spesifikasi, buku pegangan, buku petunjuk, dan manual (Sri Purnomowati et al. 1995). Kebutuhan peneliti LIPI di Serpong ini lebih dekat dengan kebutuhan peneliti ilmu-ilmu dasar atau ilmuwan perguruan tinggi yang lebih banyak menggunakan saluran informasi formal berupa literatur (Herner dalam Pinelli 1991).
Bagi peneliti LIPI bidang ilmu murni dan terapan di Serpong, literatur asing khususnya jurnal, merupakan acuan utama. Boleh dikatakan peneliti saat ini berada dalam masa transisi, yaitu menapak ke arah era informasi digital/elektronik tetapi media cetak tetap dibutuhkan.
Bentuk Penyajian
Hasil analisa menunjukkan bahwa bentuk penyajian yang paling dianggap penting adalah abstrak (nilai 4,22), tinjauan (nilai 4,17), kemudian teks lengkap (nilai 4,13), Tabel/grafik (nilai 4,02) Eksekutif summary (nilai 4,00) dan LAporan kemajuan (nilai 3,74). Walaupun nilai rata-rata pentingnya teks lengkap berada di bawah abstrak dan tinjauan, tetapi responden yang menganggap teks lengkap sangat penting adalah yang paling banyak.
Fungsi informasi yang menonjol bagi peneliti adalah : 1) fungsi riset, yaitu seseorang membutuhkan informasi dalam bidang tertentu secara lengkap dan mendalam; dan 2) fungsi current awareness yaitu informasi yang dibutuhkan seseorang agar dapat mengikuti perkembangan mutakhir (Nicholas 1996). Oleh karenanya bentuk teks lengkap maupun abstrak sama-sama penting sesuai peruntukannya.
Substansi
Jenis informasi yang dianggap paling penting adalah percobaan/metodologi (nilai 4,57), kemudian teori (nilai 4,52), fakta (nilai 4,46), spesifikasi (4,28), data statistik (3,91). Adapun jenis informasi yang paling rendah nilai pentingnya adalah opini (nilai 3,44), kemudian berita (nilai 3,59).
Cakupan informasi yang dianggap paling penting adalah terpilih (nilai 4,44), lengkap (nilai 4,37), dan terbaru (nilai 4,24). Mereka tidak menganggap batasan tahun merupakan hal yang relatif kurang penting (nilai 3,59). Hasil analisa menunjukkan bahwa semakin baru informasi semakin penting artinya. Umumnya sebagian besar responden masih menganggap penting informasi berusia 6-10 tahun terakhir (3,74).
Hal ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian mengenai pola penggunaan literatur bidang fisika (Sri Purnomowati 2002) yang menunjukkan bahwa median usia sitiran dalam majalah Telaah terbitan Puslitbang Fisika Terapan LIPI tahun 1996-2000 adalah 14 tahun.
Aspek Karya Ilmiah
Munculnya kebutuhan informasi tidak terlepas dari motivasi yang melatarbelakanginya, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan penelitian. Pentingnya aspek kegiatan penelitian tersebut perlu diindentifikasi untuk mengetahui seberapa jauh motivasi responden untuk memenuhi kebutuhannya akan informasi ilmiah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek karya ilmiah yang dianggap paling penting oleh responden adalah kemutakhiran referensi (nilai 4,44), kemudian berturut-turut dipublikasikannya tulisan di luar negeri (nilai 4,15), dipublikasikannya tulisan di dalam negeri (nilai 4,09), kemudian diselesaikannya laporan penelitian tepat waktu (nilai 4,09), didokumentasikannya tulisan (4,04), banyaknya referensi (3,81), disitirnya tulisan responden oleh peneliti lain malahan menduduki peringkat terakhir (3,80).
Hal yang memprihatinkan adalah belum meratanya kesadaran akan pentingnya sitiran yang diperoleh suatu tulisan. Sepertiga responden mengaku bahwa disitirnya suatu tulisan oleh peneliti lain merupakan hal yang tidak penting atau tidak diketahuinya. Padahal, agar disitir orang lain merupakan sasaran akhir dari suatu karya ilmiah. Tanpa motivasi ke arah itu, maka karya ilmiah dikhawatirkan hanya merupakan obyek mencari angka kredit. Dalam kajian bibliometrika, jumlah sitiran yang diperoleh oleh suatu tulisan merupakan tolok ukur besarnya dampak tulisan tersebut terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Mengingat banyaknya keluhan maka dapat diartikan bahwa selama ini kebutuhan peneliti belum sepenuhnya terpenuhi. Beberapa kendala antara lain adalah kurang lengkap dan kurang mutakhirnya koleksi, lama dan mahalnya biaya fotokopi artikel luar negeri, terbatasnya dana yang tersedia untuk membeli informasi, dan rumitnya mekanisme pembayaran.
Perilaku Pencarian Informasi
Identifikasi perilaku pencarian informasi mencakup kegiatan pencarian informasi ilmiah, mencakup alasan, sumber informasi yang digunakan, proses pencarian literatur dan informasi lisan, jumlah informasi yang diperoleh, dan cara memperoleh informasi terbaru.
Alasan
Responden menyatakan ada beberapa alasan mengapa mereka melakukan pencarian informasi, yaitu untuk mendukung penelitian yang dilakukan (98,15%), menyusun proposal (88,89%), mengikuti perkembangan Iptek terbaru (83,33%), menambah wawasan dan menulis makalah (masing-masing 79,63%), dan mencari jawaban suatu pertanyaan (59,26%), mengajukan Hak Kekayaan Intelektual (42,59%), dan keperluan mengajar (40,74%).
Temuan ini berbeda dengan perilaku tenaga litbang industri yang umumnya menggunakan informasi untuk memecahkan masalah dalam pekerjaan sehari-hari (Sri Purnomowati 1995).
Sumber Informasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika mencari informasi, yang dilakukan pertama kali oleh sebagian besar peneliti (77,36%) adalah mencari literatur. Apabila literatur belum memenuhi kebutuhan, mereka baru bertanya langsung kepada narasumber.
Peneliti LIPI di kawasan Serpong lebih mengutamakan sumber literatur dibanding sumber lisan. Hal ini menunjukkan bahwa responden mempunyai karakter yang sama dengan peneliti ilmu-ilmu dasar atau ilmuwan perguruan tinggi yang lebih banyak menggunakan saluran informasi formal berupa literatur (Herner dalam Pinelli 1991).
Proses Pencarian Informasi
Dalam upaya pencarian literatur, umumnya tempat yang dihubungi pertama kali adalah internet, kemudian koleksi milik sendiri/teman, kemudian perpustakaan Pusat Penelitian, perpustakaan di luar unit kerja, baru toko buku. Dari tempat-tempat yang dihubungi tersebut, sebagian besar peneliti (46,30%) menyatakan memperoleh lebih dari 50% informasi, 22,22% peneliti menyatakan memperoleh 50% informasi yang diperlukan, dan 29,63% peneliti memperoleh informasi kurang dari 50% .
Sebagaimana dinyatakan di atas bahwa untuk memenuhi kebutuhan akan informasi, pencarian informasi melalui komunikasi lisan atau langsung merupakan pilihan kedua. Dalam hal ini, orang yang dihubungi pertama kali adalah orang di dalam unit kerja yang dianggap lebih tahu, kemudian orang di luar unit kerja yang dianggap lebih tahu. Sementara atasan peneliti merupakan urutan terakhir yang akan dihubungi. Dari sumber orang yang dihubungi tersebut, sebagian besar peneliti (55,56%) mengaku hanya memperoleh sebagian kecil (kurang dari 50%) informasi yang dibutuhkan. Oleh karena itu, peneliti senior atau ketua kelompok peneliti sebaiknya dijadikan penghubung dalam kegiatan yang berhubungan dengan penyebaran informasi ilmiah.
Pencarian Informasi Terbaru
Umumnya peneliti mendapatkan informasi terbaru dengan cara mengakses internet (90,74%), kemudian mengikuti ceramah/seminar (79,63%), membaca majalah (72,22%). Hal positif adalah cukup banyaknya peneliti (55,55%) yang telah mengenal dan mengaku memperoleh informasi terbaru melalui literatur sekunder seperti terbitan indeks, abstrak, dan bibliografi, sedangkan cara melanggan jasa perpustakaan yang paling jarang dilakukan (25,92%).
Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa internet menjadi tumpuan dan mempunyai peran yang paling penting dalam proses pencarian informasi, baik untuk mendapatkan literatur maupun untuk memperoleh informasi terbaru. Hasil penelitian ini sekaligus memperkuat temuan sebelumnya yang menyatakan bahwa perpustakaan bukanlah sumber yang utama (Sismita 1997) atau peran perpustakaan dalam memberikan layanan informasi kurang berarti (Simpson 1981; Kremer 1980; Pinelli 1991; Scuchman 1981; Trott 1986,).
Komunikasi Ilmiah
Kegiatan penelitian yang dilakukan oleh peneliti sekitar 1 sampai 2 judul penelitian atau rata-rata 1,3 judul per tahun, kurang dari satu (0,88) artikel per tahun, dan kurang dari dua (1,64) makalah per tahun. Waktu yang disediakan peneliti untuk membaca ternyata cukup banyak, yaitu rata-rata 13,26 jam per minggu, atau sepertiga hari kerja (40 jam per minggu). Ketersediaan majalah ilmiah boleh dikatakan kurang. Jurnal Indonesia maupun asing yang dibaca peneliti secara rutin tidak banyak, yaitu 1-2 judul saja sementara sangat jarang peneliti yang melanggan sendiri majalah ilmiah Indonesia maupun asing. Walaupun peneliti menyediakan cukup banyak waktu untuk membaca, tetapi ketersediaan sumber-sumber literatur khususnya majalah, sangat terbatas.

Layanan Informasi
Dalam bagian ini, akan diuraikan mengenai ciri-ciri layanan perpustakaan yang diinginkan oleh peneliti, mencakup cara memesan dan menerima informasi, kecepatan layanan, media, frekuensi, dan ketersediaan waktu membaca, pentingnya aspek layanan serta kendala dan saran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara yang paling banyak diinginkan oleh peneliti untuk memesan informasi adalah melalui e-mail (41,66%), kemudian melalui telpon (26,40%), datang (23,61%), dan melalui faks (8,33%). Demikian pula cara yang paling banyak diinginkan oleh peneliti untuk menerima informasi adalah melalui e-mail (46,27%), kemudian melalui dikirim (32,83%), dan diambil (20,90%). Informasi yang diterima terutama lebih suka dalam media elektronik (42,59%), kemudian dalam media cetak (29,63%) atau kedua-duanya sesuai kebutuhan (27,78%). Hal ini sejalan dengan kebutuhan informasi peneliti yang menunjukkan bahwa media digital (internet, CD-ROM) menduduki tingkat terpenting (nilai 4,69), walaupun media cetak juga masih dianggap penting (nilai 4,37).
Menurut persepsi peneliti, aspek layanan informasi yang paling utama adalah kemudahan dan kecepatan layanan walaupun kelengkapan informasi, ketepatan informasi, dan harga layanan juga merupakan unsur yang penting. Sebagai ilustrasi, beberapa peneliti lulusan luar negeri mendambakan kemudahan pencarian informasi seperti ketika mereka mengikuti pendidikan di sana, yaitu dengan sekali akses mereka langsung terhubung dengan jaringan perpustakaan di dalam maupun di luar negeri. Artikel-artikel yang dibutuhkan tinggal di down load tanpa prosedur yang bertele-tele.
Waktu menerima informasi yang paling banyak diinginkan peneliti adalah dalam waktu 1-3 hari (39,62%), kemudian 4 - 7 hari (30,19%), hari itu juga (15,10%), kurang dari 1 jam (7,55%), lebih dari 1 minggu (6,66%), dan saat itu juga (1,88%). Frekuensi layanan informasi yang paling banyak diinginkan peneliti adalah bulanan (45,30%), kemudian mingguan (20,75%), dua mingguan (11,32%). Layanan informasi yang dimaksudkan dalam hal ini adalah layanan untuk mengemban fungsi current awareness yaitu informasi yang dibutuhkan seseorang agar dapat mengikuti perkembangan mutakhir.
Dinyatakan bahwa peneliti ternyata mempunyai cukup banyak waktu untuk membaca layanan informasi yang diterimanya. Sebagian peneliti (48,08%) menyediakan waktu membaca sekitar 1-3 jam, kemudian 23,07% peneliti hanya menyediakan waktu kurang dari 1 jam. Data ini sesuai dengan kegiatan peneliti yang menunjukkan bahwa sepertiga dari jam kerjanya memang digunakan untuk membaca.
Dengan demikian, layanan informasi yang sesuai saat ini adalah mengarah pada layanan elektronik, sementara layanan konvensional (non elektronik) masih juga diperlukan. Dengan demikian, perpustakaan dapat menyiapkan layanan informasi dengan jumlah yang sesuai karena peneliti cukup menyediakan waktu untuk mempelajarinya.
Peneliti banyak menyampaikan keluhan mengenai tidak memadainya sarana akses informasi terutama jaringan internet yang sering kali mengalami gangguan dan kurangnya peralatan komputer. Selain itu juga mengenai ruang perpustakaan yang kurang nyaman dan lambatnya layanan, dan kurangnya kualitas layanan seperti informasi yang diberikan hanya berupa abstrak dan langganan majalah yang tidak berkesinambungan. Dengan kata lain, fasilitas yang ada saat ini dianggap belum memadai sehingga belum semua kebutuhan peneliti terpenuhi.
Penyedia Layanan Informasi
Berikut ini akan dibahas peran penyedia layanan informasi, seperti internet, perpustakaan Puslit, dan PDII-LIPI dalam memenuhi kebutuhan peneliti.
Internet
Dugaan bahwa kehadiran internet dewasa ini akan mengurangi ketergantungan pemakai terhadap perpustakaan sebagai penyedia informasi ternyata terbukti. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden (62,5%) menganggap bahwa internet memberikan kontribusi yang sangat besar, mengalahkan kontribusi perpustakaan baik itu perpustakaan PDII-LIPI, Perpustakaan Puslit, maupun perpustakaan lain (Lihat Tabel 2).
Tabel 2
Peran Penyedia Layanan Informasi
Penyedia Jasa
1
(Tdk ada)
2
3
4
5
(Sgt besar)
Juml
Rata2
Internet
0
0
4
14
30
48
4,54
PDII-LIPI
3
7
14
15
8
47
3,38
Perpust. Puslit
1
12
11
18
4
46
3,26
Perpust. lain
3
5
4
9
1
22
3,0

Perpustakaan Pusat Penelitian
Ditinjau dari aspek pendidikan, SDM unit dokumentasi/Informasi/perpustakan boleh dikatakan cukup memadai mengingat adanya tenaga berpendidikan S2 (1 orang di Puslit Metalurgi dan 1 orang di Puslit KIM) dan tenaga S1 (3 orang di Puslit Fisika, 1 orang di Puslit Kimia, 1 orang di Puslit Metalurgi dan 1 orang di Puslit KIM) tetapi yang berlatar belakang ilmu perpustakaan masih langka. Selain mengerjakan pekerjaan perpustakaan, petugas perpustakaan ternyata juga dibebani tugas lainnya. Bahkan tidak semua perpustakaan mempunyai tenaga fungsional pustakawan, hanya Puslit KIM yang mempunyai 4 orang pustakawan.
Pada umumnya peneliti mengeluh tentang koleksi perpustakaan yang kurang nya jumlah koleksi dan kemutakhirannya. Jumlah koleksi perpustakaan Puslit Fisika termasuk yang terbanyak (1.795 judul), kemudian Puslit Metalurgi (1.260 Judul), Puslit KIM (265 judul) dan Puslit Kimia (255 judul). Demikian pula jumlah tambahan koleksi per tahun, Puslit Fisika (150 judul), Puslit Metalurgi (14 Judul), Puslit KIM (15 judul) dan Puslit Kimia (10 judul).
Kondisi perpustakaan di masing-masing Puslit di Serpong tidak sama, baik ditinjau dari fasilitas perpustakaan seperti: luas ruangan, jumlah kursi, dan jumlah komputer untuk bekerja dan untuk layanan, maupun dari jenis layanan yang disediakan. Ada perpustakaan yang hanya menyediakan layanan membaca dan peminjaman, ada yang telah menyediakan layanan lainnya seperti : penelusuran dan kesiagan informasi, bahkan ada yang sudah maju dengan layanan elektroniknya, seperti: katalog berkomputer, CD-ROM, internet, jaringan local dan Home Page (Lihat Tabel 3).
Tabel 3
Fasilitas dan Layanan Perpustakaan
Aspek
Uraian
Puslit Fisika
Puslit Kimia
Puslit Metal
Puslit KIM
Fasilitas
Ruangan (m2)
114
12
16
15

Kursi (buah)
15
6
15
25

Komputer Kerja (Unit)
2
-
1
1

Komputer Jasa (Unit)
2
-
-
-

Mesin Fotokopi
-
-
-
-
Layanan Perpust.
Baca/Pinjam
+
+
+
+

Fotokopi
+
-
+
-

Penelusuran
+
-
+
+

Kesiagaan Info
-
-
+
+
Layanan elektr.
OPAC (Online Public Access Cataloque)
+
-
-
+

CD-ROM
+
-
-
-

Internet
+
-
-
-

Jaringan Lokal
+
-
-
-

Home Page
+
-
-
-

Variasi juga terdapat pada jenis pemakainya. Ada perpustakaan yang dikunjungi hanya oleh peneliti (Puslit Kimia) tetapi ada juga yang terbuka untuk umum (Puslit Fisika, Metalurgi dan KIM). Mengingat perbedaan fasilitas, SDM, koleksi, maka jumlah layanan yang dilakukan seperti: jumlah pengunjung, peminjaman koleksi, koleksi yang dibaca di tempat, permintaan penelusuran, juga berbeda.
Berdasarkan kondisi di atas dan mengingat kebutuhan peneliti yang cenderung menginginkan layanan elektronik maka fasilitas maupun SDM perpustakaan Pusat Penelitian harus ditingkatkan. Selain pengetahuan mengenai perpustakaan, SDM perpustakaan juga perlu menguasai teknologi komputer sebagai sarana pengolahan dan akses informasi. Alangkah baiknya apabila ada standar tertentu yang harus dipenuhi oleh perpustakaan Puslit sehingga kondisi antara perpustakaan yang satu dan yang lain tidak jauh berbeda.
Untuk merealisasikan layanan elektronik, masing-masing unit kerja tidak dapat bekerja sendiri, melainkan berkerja sama secara sinergi. PDII-LIPI siap sebagai fasilitator layanan elektronik, Puslit siap dengan sarana akses informasi dan LIPI secara keseluruhan siap dengan fasilitas jaringan.
Layanan PDII-LIPI
Untuk mengetahui sejauh mana peneliti telah memanfaatkan layanan PDII-LIPI, dilakukan pengukuran indikator kinerja perpustakaan berdasarkan ISO 11620, yaitu Persentase Populasi Target yang Dicapai. Sasaran indikator ini adalah untuk menilai keberhasilan perpustakaan mencapai populasi yang menjadi target pada tahun tertentu. Pengumpulan data dilakukan dengan menanyakan kepada setiap orang dalam sampel apakah mereka pernah mengunjungi perpustakaan atau menggunakan layanan perpustakaan dengan cara lain, selama setahun terakhir (tahun 2002-2003).
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa Populasi Target yang Dicapai di kalangan peneliti LIPI di kawasan Serpong setahun terakhir paling tinggi adalah Pusat Penelitian Metalurgi 75%, kemudian Pusat Penelitian Fisika 72,73%, Pusat Penelitian Kimia 66,67%, dan paling rendah adalah Pusat Penelitian KIM 44,44% atau rata-rata adalah 63%.
Dengan kata lain, sekitar 37% peneliti tidak menggunakan jasa PDII-LIPI. Hal ini diduga disebabkan karena berbagai faktor, antara lain : 1) Semua kebutuhan peneliti telah terpenuhi baik melalui internet atau dari sumber lain; 2) peneliti tidak tahu mengenai layanan yang disediakan; 3) layanan yang disediakan tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka; 4) peneliti sedang berada di tempat lain, misalnya sedang pendidikan di luar negeri; 5) peneliti merasa cukup menggunakan informasi apa adanya.
Dari data di atas terlihat bahwa sebagian besar peneliti LIPI di Serpong telah menggunakan layanan PDII-LIPI. Indikator ini sepertinya memang lebih cocok dipakai untuk mengukur kinerja perpustakaan dengan layanan langsung. Dengan semakin berkembangnya layanan elektronik, bisa saja fungsi layanan langsung cenderung berfungsi sebagai fasilitator sehingga istilah “menggunakan layanan” menjadi semakin kabur. Sebagai contoh, apabila PDII-LIPI melanggan jurnal elektronik dan dapat diakses dari tempat lain belum tentu peneliti mengenalinya sebagai layanan PDII-LIPI.
Selanjutnya dilaporkan bahwa jenis layanan PDII-LIPI yang digunakan peneliti adalah fotokopi (32,39%), kemudian penelusuran (29,57%), Jasa perpustakaan (22,53%), Info kilat (14,10%), Paket (1,41%). Hal ini mendukung temuan terdahulu yang menunjukkan bahwa peneliti memang membutuhkan artikel lengkap melalui jasa fotokopi.
Selain PDII-LIPI, peneliti juga menggunakan perpustakaan lain, seperti perpustakaan perguruan tinggi (ITB, IPB, UGM,UI,ITI,ITS), perpustakaan Pusat Penelitian di lingkungan LIPI (Geotek, Fisika, Kimia, KIM, Metalurgi), dan perpustakaan lain (Batan, BSN, Deprindag, Lingk. Hidup, British Council). Adapun layanan perpustakaan lain yang mereka gunakan umumnya adalah internet, kemudian jasa perpustakaan dan fotokopi.
Mengingat begitu besar peran internet bagi peneliti maka agar perpustakaan tetap dikunjungi dan dibutuhkan, hendaknya menyediakan sarana akses internet serta mengembangkan layanan berbasis internet.

KESIMPULAN
Peneliti umumnya menggunakan informasi untuk mendukung penelitian yang sedang dilakukan dan literatur merupakan sumber informasi utama. Peneliti membutuhkan informasi dalam bidang tertentu secara lengkap, mendalam, dan mutakhir, terutama jurnal terbitan internasional. Informasi lebih diutamakan dalam bentuk digital walaupun bentuk cetak masih tetap dianggap penting. Sesuai peruntukannya, baik bentuk teks lengkap maupun abstrak sama pentingnya. Layanan informasi yang diinginkan cenderung mengarah ke layanan elektronik walaupun layanan secara konvensional masih diperlukan. Dalam menyusun karya ilmiah, disitirnya suatu tulisan oleh peneliti lain, belum merupakan aspek yang dianggap penting oleh semua peneliti. Dalam proses pencarian informasi, internet menjadi tumpuan utama bahkan mengungguli peran perpustakaan-perpustakaan yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Allen, Thomas J. 1985. Managing the flow of technology: technology transfer and the dissemination of technological information. Massachusetts: The MIT Press.

David, Antoinette. 1984. Metodological approach for identifying the information needs of the engineer. Paris : UNESCO.

Kremer, Jeannette. 1980. Information flow among engineer in a design company. Ph. D. Diss. University of Illinois at Urbana-Champaign, UMI 80-17965.

Krikelas, James. 1983. Information seeking behavior : pattern and concepts. Drexel Library Quarterly, 19 (2) : 5-20.

Nicholas, David. 1996. Assesing information needs: tools and techniques. London: Aslib The Association for Information Management. 56 p.

Nobel, Ruth L. ; Coughlin, Carol. 1997. Information seeking practices of Canadian Academic Chemist: a study of information needs and uses of resources in chemistry. Canadian Journal of Communication, 22 (3/4): 20-34.

Pinelli, Thomas. 1991. The information seeking habits and practices of engineers. In Information seeking and communicating behavior of scientists and enginners. Ed. Steinke, Cynthia. New York: The Haworth Press.

Scuchman, Hedvah L. 1981. Information transfer in engineering. Glastonbury, CT: The Futures (Group)

Simpson, J. 1981. Information needs of commerce and industry. S. Afr. Libr. 48 (3): 119-121.

Sismita, Arifah. 1997. Perilaku pencarian dan pemanfaatan informasi paten di kalangan peneliti kawasan Puspiptek Serpong : tesis. Depok : Program Studi Ilmu Perpustakaan Program Pascasarjana Universitas Indonesia. 136 hal.

Sri Purnomowati et al. 1995. Kebutuhan informasi dan perilaku pencarian informasi tenaga penelitian dan pengembangan di kalangan Industri Strategis : laporan penelitian. Jakarta : PDII-LIPI. 57 hal.

Suhendi. 1999. Perilaku penggunaan internet terhadap pemenuhan kebutuhan informasi : suatu studi deskriptif tentang perilaku penggunaan internet terhadap pemenuhan kebutuhan informasi di UPT Perpustakaan Institut Teknologi Bandung. Laporan Penelitian. Bandung: ITB.

Troot, Fiona. 1986. Library and Information Research Report 51. London : British Library.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home