Name:
Location: Jakarta, Indonesia

Tuesday, October 31, 2006

KESESUAIAN PENYAJIAN MAJALAH ILMIAH INDONESIA DENGAN
STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI 19-1950-1990) *

Sri Purnomowati**, Rini Yuliastuti ***, Maria Ginting ****

Abstract
The purpose of this study is to find out : 1. The compliance of Indonesian scientific periodicals with the Indonesian National Standard for periodicals presentation (SNI 19-1950-1990); 2. Identification of rules in SNI 19-1950-1990 which have been applied or not; 3. The differences of presentation qualities among publications published by some publishers. The study involved 288 titles of scientific and semi-scientific periodicals of PDII-LIPI holdings as samples which were taken by stratified random sampling. The study shows that none of the samples is in compliance with standard, 10,42% samples are in almost compliance with standard, 85,76 % samples are in less compliance with standard, and 3,82 % samples don’t comply with standard. Some of the rules in SNI 19-1950-1990 are properly or partly applied but the rest have not applied yet, such as the writing and allocation of ISSN. Publications of R&D University, University, R&D of Department/Non Department, and private enterprises, show significantly better presentation quality compared to college student publications. But there is no significant differences in presentation quality among R & D University, University, R & D Department/Non Department, Department/Non Department, and private enterprises publications.

Keyword : Indonesian scientific periodicals; SNI 19-1950-1990


LATAR BELAKANG

Majalah ilmiah merupakah media komunikasi yang sangat penting dalam dunia ilmu pengetahuan, sebagai sarana transfer informasi yang menjadi modal dasar bagi kemajuan Iptek. Kedudukan majalah ilmiah sedemikian pentingnya sehingga dijadikan indikator kemajuan Iptek suatu negara. Dengan adanya globalisasi ilmu pengetahuan, kerjasama antar ilmuwan di berbagai bidang ilmu semakin erat, dan kegiatan pertukaran informasi melalui jaringan internasional semakin meningkat. Oleh karena itu, adanya standar sangat diperlukan untuk mengurangi kendala yang diakibatkan oleh perbedaan wilayah, bahasa, institusi, karakteristik perorangan dan lain-lain (Lopez-Cozar and Perez, 1995).
Salah satu standar yang berkaitan dengan majalah adalah standar tentang penyajian majalah seperti ISO 8-1977 dan SNI 19-1950-1990. Standar tersebut antara lain memuat ketentuan-ketentuan mengenai informasi apa saja yang harus tercantum pada halaman sampul, halaman judul, daftar isi, halaman teks, cara menentukan judul majalah, menulis nomor terbitan, volume terbitan, dan lain-lain. Dalam hal ini, dinyatakan bahwa standar penyajian majalah tidak meningkatkan kualitas isi majalah, tetapi dapat meningkatkan kemampuan transfer isi suatu majalah (Lopez-Cozar and Perez, 1995). Proses transfer informasi dianggap berhasil jika suatu tulisan ilmiah setelah diolah dapat dimanfaatkan oleh pemakai untuk menghasilkan karya ilmiah baru, sehingga setiap tulisan ilmiah memberikan andil dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, keberhasilan suatu majalah ilmiah sebagai sarana komunikasi ilmiah, diukur dari seringnya artikel suatu majalah disitir orang.
Penyajian suatu majalah ilmiah dikatakan baik jika penyajiannya mampu mendukung proses transfer informasi yang mencakup proses: pengolahan, penyimpanan, temu kembali, penyebaran, integrasi, dan pertukaran informasi.

* Dimuat di Berita Iptek 40 (3) 1999 : 69-84.
** Peneliti di PDII-LIPI
*** Staf Sub Bidang Pengkajian Informasi Ilmiah PDII-LIPI
**** Kepala Sub Bidang Jaringan Informasi Ilmiah

Sementara kemampuan transfer isi suatu majalah dipengaruhi oleh kesesuaiannya dengan standar. Jadi, kualitas penyajian majalah diukur berdasarkan tingkat kesesuaiannya dengan standar. Dengan kata lain, semakin besar kesesuaiannya dengan standar, semakin besar kemampuan transfer isinya.
Perkembangan majalah di Indonesia boleh dikatakan cukup mengembirakan. Sekitar 400 judul majalah baru diterbitkan setiap tahunnya. Namun di tingkat internasional, penerbitan majalah ilmiah Indonesia masih kalah dibandingkan dengan negara-negara tetangga, seperti: Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina (Gibbs, 1995).
Sebagaimana kita ketahui bahwa PDII-LIPI merupakan lembaga yang ditunjuk sebagai perwakilan ISDS (International Serial Data System) di Paris yang bertugas mela-kukan pendaftaran terbitan berkala yang terbit di Indonesia dengan cara memberikan ISSN (International Standard Serial Number). Pada saat mengajukan permintaan ISSN, kelihatan bahwa penyajian majalah begitu bervariasi, mengindikasikan belum adanya satu pedoman atau standar yang baku. Berdasarkan hasil survei terhadap 90 orang peserta seminar : Penerapan Standar Internasional dan Standar Nasional Indonesia dalam Penerbitan Majalah di PDII-LIPI pada tanggal 19 Nopember 1998, menunjukkan bahwa sebagian besar peserta belum mengenal standar penyajian majalah. Kedua kondisi tersebut di atas memunculkan dugaan adanya masalah cukup mengkhawatirkan mengenai kualitas penyajian majalah Indonesia.
Selain kedua standar tersebut diatas, yaitu: ISO 8-1977 dan SNI 19-1950-1990, cara penulisan dan penempatan ISSN mengikuti ketentuan dalam ISO 3297-1986. Oleh karena itu, evaluasi penerapan ISO 3297 penting bagi PDII-LIPI untuk mengetahui keberhasilnya dalam memasyarakatkan standar tersebut.

Perumusan Masalah
Secara umum permasalahan dalam penelitian ini adalah kualitas penyajian majalah Indonesia, khususnya yang termasuk kategori ilmiah. Secara rinci, masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Bagaimana kesesuaian penyajian majalah ilmiah Indonesia dengan Standar Nasional Indonesia (SNI 19-1950-1990)
2. Ketentuan mana dalam SNI 19-1950-1990 yang telah atau belum terpenuhi?
3. Apakah ada perbedaan kualitas penyajian antara majalah ilmiah yang diterbitkan oleh satu jenis penerbit dengan jenis penerbit lainnya?

Tujuan Penelitian
1. Mengetahui kesesuaian penyajian majalah ilmiah Indonesia dengan Standar Nasional Indonesia (SNI 19-1950-1990).
2. Mengidentifikasi ketentuan-ketentuan dalam SNI 19-1950-1990 yang sudah/belum terpenuhi.
3. Mengetahui perbedaan kualitas penyajian antara majalah ilmiah yang diterbitkan oleh satu jenis penerbit dengan jenis penerbit lainnya

Manfaat Penelitian
1. Sebagai sumber informasi bagi lembaga terkait untuk meningkatkan kualitas penyajian majalah ilmiah Indonesia
2. Sebagai sumber informasi bagi lembaga terkait untuk menyusun konsep sosialisasi standar penyajian majalah ilmiah di Indonesia
3. Sebagai sumber informasi bagi Pusat Standarisasi Nasional/Badan Standarisasi Nasional sehubungan dengan penerapan standar penyajian majalah di lapangan.
4. Sebagai sumber informasi bagi para penerbit maupun editor majalah ilmiah Indonesia, untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

KERANGKA TEORI

Majalah Ilmiah Indonesia
Majalah termasuk salah satu bentuk terbitan berkala, yang menurut SNI 19-1950-1990 didefinisikan sebagai : terbitan yang diterbitkan dalam bagian-bagian (nomor) yang berurutan dengan perwajahan dan judul sama, dan terbit menurut jadwal yang sudah ditetapkan dalam waktu yang tidak ditentukan. Selain majalah, yang termasuk dalam terbitan berkala adalah: berita, buletin, laporan tahunan, dan lain-lain.
Berdasarkan peringkat keilmiahannya, majalah dapat digolongkan menjadi beberapa kategori. Berdasarkan Surat Keputusan LIPI No. 722/Kep/H.1/83, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia membagi publikasi berseri menjadi 5 jenis, yaitu: majalah Ilmiah, majalah semi poluler, majalah populer, majalah teknis dan majalah umum. Sementara itu, Malangkay (1988) mengelompokkan majalah menjadi 4 jenis yaitu: ilmiah, semi ilmiah, ilmiah populer dan populer. Disamping itu, sejak tahun 1993, PDII-LIPI memberikan kategori tertentu pada majalah yang minta ISSN. Ada 7 macam kategori yang diberikan, yaitu: 1. Ilmiah, 2. Semi ilmiah, 3. Ilmiah populer, 4. Umum, 5. Sari/Indeks (Suwahyono 1996). Kriterian tersebut kemudian diperluas, ditambah lagi dengan jenis: 6. Statistik, dan 7. Prosiding.
Berdasarkan Surat Keputusan LIPI No. 8/Kep/H.10/1983, yang dimaksud majalah ilmiah adalah majalah yang memuat informasi mengenai hasil kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Paling sedikit majalah ilmiah ini mengandung salah satu dari ketiga aspek seperti: a. kumpulan atau akumulasi pengetahuan baru; b. Pengamatan empiris, dan c. pengembangan gagasan atau ide. Selanjutnya kriteria majalah ilmiah secara lengkap adalah sebagai berikut: a. bertujuan untuk menampung mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian ilmiah, dan atau konsep ilmiah dari disiplin ilmu pengetahuan tertentu; b. Ditujukan kepada masyarakat ilmiah/peneliti yang mempunyai disiplin-disiplin keilmuan yang relevan; c. diterbitkan oleh suatu organisasi/badan ilmiah; d. Mempunyai dewan redaksi yang terdiri dari para ahli menurut bidang keilmuan yang bersangkutan; e. Mempunyai ISSN; f. Sekali terbit paling sedikit sebanyak 300 eksemplar.
Sejak tahun 1975, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia telah melakukan akreditasi terhadap majalah yang terbit di Indonesia untuk kepentingan penilaian jabatan fungsional peneliti. Untuk meningkatkan kualitas majalah ilmiah di Indonesia, Ditjen DIKTI (1997) telah menerbitkan instrumen evaluasi untuk keperluan akreditasi terbitan berkala ilmiah Unsur-unsur yang dievaluasi dalam instrumen tersebut meliputi: nama berkala, kelembagaan penerbit, penyunting, kemantapan penampilan, gaya penulisan, substansi, keberkalaan, tiras, dan lain-lain.
Sesuai dengan data yang tercatat di PDII-LIPI, jumlah majalah yang mempunyai ISSN sampai awal Oktober 1998, tercatat 6.671 judul, sekitar 45% termasuk kategori ilmiah dan semi ilmiah. Adapun jumlah majalah yang masih terbit secara teratur sampai saat ini belum diketahui, karena belum pernah diinventarisir. Diperkirakan jumlahnya lebih kecil daripada yang terdaftar, karena ada majalah yang sudah tidak terbit lagi atau berganti judul.

Standar Nasional dan Internasional
Pada tingkat nasional, Indonesia telah menerbitkan SNI 19-1950-1990, yaitu standar nasional untuk penyajian terbitan berkala yang mencakup majalah, berita, buletin, laporan tahunan, dan lain-lain. Standar nasional tersebut antara lain mengacu pada standar internasional: ISO 8-1977 (Documentation - Presentation of Periodicals) dan ISO 18-1981 (Documentation - Contents List of Periodicals). Standar Nasional Indonesia yang berhubungan dengan penerbitan berkala adalah: SNI 19-1936-1990 (Patokan Penyingkatan Judul Terbitan Berseri), SNI 19-1946-1990 (Indeks penerbitan), dan terjemahan ISO/R 215-1961 (Presentation of contributions to periodicals). Pada dasarnya, kedua standar tersebut tidak jauh berbeda, hanya ada beberapa ketentuan pada SNI yang sifatnya lebih rinci dibandingkan dengan ISO 8-1977.
Sebagaimana kita ketahui bahwa PDII-LIPI merupakan lembaga yang ditunjuk sebagai perwakilan ISDS (International Serial Data System) di Paris yang bertugas mela-kukan pendaftaran terbitan berkala yang terbit di Indonesia dengan cara memberikan ISSN (International Standard Serial Number). Pencantuman ISSN pada terbitan diatur dalam ISO 3297-1986 yang menyatakan bahwa: ISSN harus dicetak di pojok kanan atas sampul depan terbitan. ISSN terdiri dari delapan digit dalam angka Arab. Cara penulisan didahului dengan singkatan ISSN diikuti 8 digit nomor yang ditulis menjadi 2 kelompok, masing-masing terdiri dari dari empat digit dan dipisahkan dengan tanda hubung (-).

Kerangka Pemikiran
Kesesuaian Penyajian majalah dengan standar
Sebagaimana dinyatakan di atas, bahwa kurang sesuainya penyajian majalah ilmiah Indonesia dengan standar dapat mengakibatkan terhambatnya proses transfer informasi. Dengan kata lain, semakin besar kesesuaiannya dengan standar, semakin tinggi kualitas penyajiannya, maka semakin besar kemampuan transfer isinya. Jika kondisi penyajian majalah ilmiah di Indonesia dapat diketahui, maka dapat diperoleh gambaran kemampuan transfernya. Dengan demikian dapat dilakukan upaya-upaya pembenahan, misalnya dengan cara menyusun konsep sosialisasi standar.

Penerapan standar
Selain belum memasyarakatnya standar, ketidak-sesuaian penyajian majalah kemungkinan disebabkan karena sulit dipenuhinya ketentuan-ketentuan dalam standar. Hal ini dapat terjadi karena tidak adanya informasi mengenai pelaksanaan standar di lapangan sehingga terwujud standar yang kurang akomodatif. Jika ketentuan standar yang telah/belum dipenuhi dapat diidentifikasi, maka selain sebagai bahan masukan bagi para pembuat standar juga memudahkan upaya peningkatan kualitas penyajian majalah. Selain untuk mengevaluasi penerapan standar, evaluasi penerapan ISO 3297 untuk ISSN merupakan salah satu cara untuk mengetahui keberhasilan PDII-LIPI dalam mema-syarakatkan standar tersebut.

Perbedaan kualitas penyajian majalah dari beberapa jenis penerbit.
Kualitas penyajian majalah antara lain ditentukan oleh penerbit beserta anggota redaksi atau penyuntingnya. Dalam hal ini, penerbit dikelompokkan menjadi 6 jenis, yaitu lembaga Litbang perguruan tinggi, lembaga perguruan tinggi (non litbang) dan lembaga Litbang departemen/non departemen, lembaga departemen/Non departemen non litbang, lembaga swasta dan mahasiswa. Beberapa faktor yang diperkirakan mempengaruhi kualitas penyajian majalah, antara lain adalah: kemampuan SDM dari para anggota redaksi atau penyunting, kelengkapan sarana dan prasarana, serta intensitas komunikasi ilmiah. Mengingat adanya perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh penerbit menyangkut ketiga faktor tersebut, maka wajar jika ada perbedaan dalam hal kualitas penyajian majalah yang diterbitkannya.
Hipotesa dalam penelitian ini adalah: ada perbedaan kualitas penyajian antara majalah ilmiah yang diterbitkan oleh satu jenis penerbit dengan jenis penerbit lainnya.

Ruang Lingkup/Batasan Penelitian
1. Penelitian dilakukan terhadap majalah ilmiah dan semi ilmiah dengan definisi sesuai dengan Surat Keputusan LIPI No. 8/Kep/H.10/1983. Pelaksanaannya mengacu pada daftar majalah yang telah diakreditasi oleh P2JP-LIPI tahun 1992, Daftar majalah yang rekomendasi oleh Direktorat Perguruan Tinggi tahun 1996, serta hasil penilaian dari pengelola ISSN di PDII-LIPI.
2. Majalah yang diambil sebagai sampel adalah majalah yang masih terbit sekurang-kurangnya sampai tahun 1995.
3. Kualitas penyajian suatu majalah diukur berdasarkan kesesuaian 35 unsur dalam terbitan dengan ketentuan dalam SNI 19-1950-1990, mencakup : 7 unsur yang harus ada di halaman kulit, 9 unsur yang harus ada di halaman judul, 10 unsur yang harus ada di daftar isi, 4 unsur yang harus ada di halaman teks, dan 5 unsur lain-lain. Khusus untuk penulisan dan penempatan ISSN, mengikuti ketentuan dalam ISO 3297-1986.
4. Penelitian ini tidak mengevaluasi unsur-unsur yang memerlukan pengamatan terhadap majalah lebih dari satu nomor terbitan seperti : perubahan judul, pengga-bungan beberapa judul, pemecahan judul, atau konsistensi format terbitan.
5. Penerbit dikelompokkan menjadi 6 jenis, yaitu: Litbang Perguruan Tinggi, Perguruan Tinggi, Mahasis-wa, Litbang Departemen/ Non Departemen, Swasta, dan Depar-temen/Non Departemen.

METODOLOGI
Penelitian survei ini dilakukan di PDII-LIPI pada bulan Juli 1998 sampai Mei 1999. Populasi dalam penelitian ini adalah majalah ilmiah yang terbit di Indonesia terutama majalah yang termasuk kategori ilmiah dan semi ilmiah. Jumlah keseluruhan majalah yang mempunyai ISSN sampai awal Oktober 1998, tercatat 6.671 judul, tetapi belum pernah diinventarisasi apakah majalah tersebut masih terbit secara teratur sampai saat ini. Data majalah yang minta ISSN sejak tahun 1995 sampai tahun 1997 tercatat berjumlah 1.182 judul, 45% diantaranya atau 538 judul termasuk kategori ilmiah dan semi ilmiah. Berdasarkan data tersebut di atas, dapat diperkirakan bahwa jumlah majalah ilmiah dan semi ilmiah yang terbit atau pernah terbit di Indonesia adalah 45% x 6.671= 3.000 judul. Tetapi jumlah majalah yang masih terbit secara teratur sampai saat ini belum diketahui, karena belum pernah diinventarisir. Diperkirakan jumlahnya lebih kecil karena ada majalah yang sudah tidak terbit lagi, atau berganti judul.
Teknik pengambilan contoh dilakukan secara acak berstrata (Stratified Random Sampling) sesuai proporsi jenis penerbit, berjumlah sekitar 10% dari populasi. Penge-lompokan jenis penerbit berdasarkan bentuk kelembagaan yang selama ini dipakai dalam pengolahan data ISSN.
Instrumen dalam penelitian ini berupa kuesioner yang dibuat berdasarkan ketentuan-ketentuan pokok yang termuat dalam SNI 19-1950-1990, memuat 35 unsur terbitan. Setiap unsur yang dievaluasi, jika ada dan sesuai standar diberi angka 2, jika ada tetapi tidak sesuai standar diberi angka 1, jika tidak muncul dalam terbitan, diberi angka 0. Berdasarkan perolehan angka tersebut, hasil evaluasi dapat digolongkan menjadi 4 kategori, yaitu:
Nilai 70 : Memenuhi standar
Nilai 51- 69 : Mendekati standar
Nilai 31- 50 : Kurang memenuhi standar
Nilai <31 : Tidak mengikuti standar
Penelitian ini melibatkan satu variabel bebas yaitu jenis penerbit, dan satu variabel terikat yaitu kualitas penyajian majalah. Kualitas majalah berupa angka yang diperoleh dari tingkat kesesuaian penyajian unsur-unsur dalam terbitan dengan ketentuan yang termuat dalam SNI 19-1950-1990. Untuk mengetahui perbedaan kualitas penyajian majalah berdasarkan jenis penerbit, digunakan uji statistik Anava (Analisis Ragam Klasifikasi Satu Arah), dengan taraf nyata 0,05.

HASIL PENEITIAN DAN PEMBAHASAN
Identitas Responden
Sampel dalam penelitian ini adalah 288 judul majalah ilmiah dan semi ilmiah Indonesia koleksi PDII-LIPI yang masih terbit sekurang-kurangnya sampai tahun 1995. Dari 288 judul majalah yang dievaluasi, sebagian besar diterbitkan oleh Lembaga Perguruan Tinggi (48,26%), kemudian oleh swasta (16,67%), Litbang Departemen/LPND (13,54%), Litbang Perguruan Tinggi (10,76%), Departemen/LPND (6,60%), dan paling sedikit dterbitkan oleh mahasiswa (4,47%)
Sesuai dengan urutan prioritas, majalah dengan kategori ilmiah merupakan bagian terbesar (73, 26%). Mengingat banyaknya majalah ilmiah yang sudah tidak terbit atau tak ada dalam koleksi PDII-LIPI, maka diambil majalah dengan kategori semi ilmiah (24,31%). Karena kesulitan mendapatkan terbitan mahasiswa dengan kategori ilmiah dan semi ilmiah, maka terpaksa diambil terbitan dengan kategori populer (2,43%) untuk mewakili terbitan mahasiswa.

Kesesuaian Penyajian Majalah dengan Standar
Evaluasi dilakukan terhadap 35 unsur dalam terbitan. Berdasarkan perolehan angka, hasil evaluasi dapat digolongkan menjadi 4 kategori, yaitu : Memenuhi standar (Nilai 70), Mendekati standar (Nilai 51-69), Kurang memenuhi standar (Nilai 31-50), Tidak mengikuti standar (Nilai <31).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tak satupun terbitan yang memenuhi standar, hanya sebagian kecil terbitan (10,47%) yang mendekati standar, sebagian besar majalah (85,76%) kurang memenuhi standar dan 3,82% tidak mengikuti standar (lihat Tabel 1).

Tabel 1
Kesesuaian Penyajian Majalah dengan Standar
Kriteria
Nilai
Jumlah sampel
Jumlah sampel (%)
Memenuhi standar
70
0
0,00
Mendekati standar
51-69
30
10,42
Kurang memenuhi standar
31-50
247
85,76
Tidak mengikuti standar
<31
11
3,82
Jumlah

288
100,00

Dari data tersebut terlihat bahwa kesesuaian penyajian majalah Indonesia dengan standar masih memprihatinkan. Oleh karena itu, upaya peningkatan kualitas penyajian majalah perlu segera dilakukan. Alasan pertama rendahnya kualitas penyajian majalah Indonesia kemungkinan disebabkan karena belum memasyarakatnya standar penyajian majalah sehingga mereka belum mengetahui ketentuan-ketentuan yang seharusnya dipenuhi. Hal ini sesuai dengan hasil survei terhadap 90 orang peserta seminar : Penerapan Standar Internasional dan Standar Nasional Indonesia dalam Penerbitan Majalah, di PDII-LIPI pada tanggal 19 Nopember 1998, yang menyatakan bahwa sebagian besar peserta belum mengenal standar penyajian majalah. Alasan kedua, kemungkinan karena penerapan standar yang sifatnya sukarela, sehingga para penerbit merasa tidak ada keharusan untuk mentaatinya karena tak ada sanksi yang dikenakan bagi mereka yang tidak memenuhinya. Kemungkinan ketiga, kesalahan terletak pada standar itu sendiri, yang tuntutannya begitu tinggi sehingga sulit untuk dipenuhi. Untuk memastikan kebenaran dari berbagai alasan tersebut memang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Penerapan SNI 19-1950-1990
Penerapan ketentuan dalam SNI 19-1950-1990 dapat diketahui dari angka kesesuaian setiap unsur yang dievaluasi. Dari 35 unsur terbitan yang dievaluasi, 7 unsur ada pada halaman kulit, 9 unsur ada pada halaman judul, 10 unsur ada pada daftar isi, 4 unsur ada pada halaman teks dan 5 unsur lain-lain. Penjelasan secara rinci adalah sebagai berikut:

Penyajian Halaman Kulit
Tujuh unsur pada halaman kulit yang dievaluasi yaitu: cara penulisan judul majalah, keseragaman penulisan judul, penulisan nomor terbitan, volume terbitan, ISSN, waktu terbit, dan penomoran halaman kulit.
Hasil evaluasi (Lihat Tabel 2) menunjukkan bahwa unsur-unsur yang penyajiannya hampir memenuhi standar adalah : penulisan judul, keseragaman judul dan penomoran halaman kulit. Beberapa kesalahan yang terlihat adalah pencantuman singkatan pada judul tanpa memberikan kepanjangannya, dan adanya ketidak seragaman antara judul yang termuat dalam halaman kulit, halaman judul dan daftar isi. Ketidak seragaman tersebut menyangkut ejaan, penambahan atau pengurangan kata depan, tanda baca, judul tambahan/anak judul. Unsur lain yang penyajiannya mendekati standar adalah: penulisan nomor terbitan, dan penulisan waktu terbit. Kesalahan yang umumnya dilakukan dalam penulisan nomor terbitan adalah penggunaan istilah edisi, penggunaan angka romawi, nomor terbitan tidak dimulai dengan nomor 1 setiap ganti volume, melainkan berlanjut terus. Adapun kesalahan dalam penulisan waktu terbit umumnya tanpa mencantumkan bulan dan nama bulan disingkat, misalnya Desember ditulis Des.
Unsur dalam halaman kulit yang penyajiannya kurang memenuhi standar adalah : penulisan volume terbitan, dan penulisan ISSN. Kesalahan yang paling banyak dilakukan dalam penulisan volume adalah penggunaan angka Romawi, padahal seharusnya menggunakan angka Arab. Kadang-kadang istilah volume diganti dengan istilah edisi, jilid, atau tahun ke. Dalam hal penulisan ISSN, boleh dikatakan bahwa hampir semua terbitan membuat kesalahan dalam penulisan atau penempatan ISSN. Penulisan ISSN sering kali ditambahi tanda baca yang seharusnya tidak ada, seperti penambahan titik (ISSN.), titik dua (ISSN:), penambahan kata No. (ISSN No.); dan penempatan yang bukan di pojok kanan atas. Banyaknya kesalahan dalam penulisan ISSN ini menunjukkan bahwa PDII-LIPI sebagai lembaga yang bertugas memberikan nomor ISSN belum optimal dalam mensosialisasikan ketentuan yang berlaku.
Sebagai informasi tambahan, hanya sebagian kecil terbitan yang sudah mencan-tumkan terjemahan judul majalah dalam bahasa Inggris, suatu hal yang memang bukan suatu keharusan.

Tabel 2
Kesesuaian Unsur-unsur terbitan dengan standar
Bagian Terbitan
Unsur Terbitan
Nilai rata-rata
Keterangan
Halaman Kulit
Judul terbitan
1,97
Mendekati standar

Keseragaman judul terbitan
1,89
Mendekati standar

Penulisan nomor terbitan
1,69
Mendekati standar

Penulisan volume terbitan
1,21
Kurang memenuhi standar

Penulisan ISSN
1,08
Kurang memenuhi standar

Penulisan waktu terbit
1,70
Mendekati standar

Penomoran halaman kulit
1,95
Mendekati standar




Halaman Judul
Judul terbitan
1,71
Mendekati standar

Susunan Redaksi
1,94
Mendekati standar

Penulisan nomor terbitan
0,60
Tidak mengikuti standar

Penulisan volume terbitan
0,42
Tidak mengikuti standar

Penulisan ISSN
0,49
Tidak mengikuti standar

Penulisan waktu terbit
0,57
Tidak mengikuti standar

Nama & Alamat Penerbit
0,87
Tidak mengikuti standar

Tahun pertama terbit
0,46
Tidak mengikuti standar

Penomoran halaman judul
1,82
Mendekati standar




Daftar Isi
Judul terbitan
1,34
Kurang memenuhi standar

Penulisan nomor terbitan
0,94
Tidak mengikuti standar

Penulisan volume terbitan
0,69
Tidak mengikuti standar

Penulisan waktu terbit
0,90
Tidak mengikuti standar

Penulisan ISSN
0,48
Tidak mengikuti standar

Penempatan daftar isi
1,52
Mendekati standar

Nama penulis artikel
1,75
Mendekati standar

Judul lengkap artikel
1,97
Mendekati standar

Nomor halaman awal
1,90
Mendekati standar

Nomor halaman akhir
0,15
Tidak mengikuti standar

Terjemahan judul artikel
0,11
Tidak mengikuti standar




Halaman Teks
Judul Sirahan hlm genap
0,85
Tidak mengikuti standar

Judul Sirahan hlm ganjil
0,90
Tidak mengikuti standar

Penomoran halaman
1,41
Kurang memenuhi standar

Keseragaman huruf teks
1,99
Mendekati standar




Lain-lain
Frekuensi penerbitan
0,91
Tidak mengikuti standar

Penerbit
1,93
Mendekati standar

Alamat redaksi
1,68
Mendekati standar

Lembar abstrak
0,00
Tidak mengikuti standar

Lajur bibliografi
0,01
Tidak mengikuti standar

Keterangan : Angka 2 = Unsur termuat dan sesuai standar
Angka 1 = Unsur termuat tetapi tidak sesuai standar
Angka 0 = Unsur tidak termuat dalam terbitan

Penyajian Halaman Judul
Ada 9 unsur pada halaman judul yang dievaluasi yaitu: cara penulisan judul majalah,
Adanya susunan redaksi, penulisan nomor terbitan, volume terbitan, ISSN, waktu terbit, nama dan alamat penerbit, tahun pertama terbit, dan penomoran halaman judul.
Hasil evaluasi (Lihat Tabel 2) menunjukkan bahwa unsur-unsur yang penyajiannya telah memenuhi standar adalah : susunan redaksi, penulisan judul, dan penomoran halaman judul. Adapun unsur lainnya tidak memenuhi standar. Hal ini disebabkan karena halaman judul yang ada tidak mencantumkan unsur-unsur yang seharusnya ada seperti : nomor terbitan, volume terbitan, ISSN, waktu terbit dan tahun pertama terbit. Umumnya terbitan memuat nama penerbit tetapi tidak mencantumkan alamatnya. Kemungkinan hal ini disebabkan karena alamat penerbit sama dengan alamat redaksi.
Menurut ketentuan, halaman judul ini setidak-tidaknya harus ada pada setiap akhir volume. Namun demikian, tidak ada salahnya jika halaman judul ada pada setiap nomor terbitan.

Penyajian Daftar Isi
Ada 10 unsur pada halaman daftar isi yang dievaluasi yaitu unsur yang harus ada di atas daftar isi mencakup: judul majalah, nomor terbitan, volume terbitan, ISSN, waktu terbit; unsur yang harus ada dalam daftar isi mencakup: nama penulis artikel, judul lengkap artikel, nomor halaman awal, nomor halaman akhir, dan penempatan daftar isi.
Hasil evaluasi (Lihat Tabel 2) menunjukkan bahwa daftar isi belum mencantumkan unsur-unsur yang harus ada di atas daftar isi, seperti : judul majalah, nomor terbitan, volume terbitan, ISSN, dan waktu terbit. Hal ini menyebabkan halaman daftar isi kehilangan sumber referensi, ketika halaman kulit dan halaman judul dibuang pada waktu dilakukan penjilidan. Ada kalanya unsur-unsur yang seharusnya ada di atas daftar isi ditampilkan sebagai judul sirahan yaitu informasi yang dicetak berulang-ulang pada bagian atas atau bawah halaman teks.
Unsur yang harus ada dalam daftar isi yang sudah memenuhi standar adalah penulisan nama penulis artikel, judul lengkap artikel, dan nomor halaman awal. Masih jarang daftar isi yang mencantumkan halaman akhir artikel. Ada kalanya dalam satu nomor terbitan terdapat 2-3 daftar isi, dan daftar isi tidak memuat judul lengkap artikel tetapi memuat rubrik dan sejenisnya.
Penempatan daftar isi yang benar adalah diletakkan tersendiri setelah halaman judul. Tetapi beberapa terbitan masih ada yang menempatkannya di halaman kulit depan, halaman kulit belakang atau menyatu dengan halaman judul. Sebagai catatan, perlu diketahui bahwa masih sedikit sekali terbitan yang mencantumkan terjemahan judul artikel dalam daftar isi. Hal ini kemungkinan disebabkan karena sasaran pembacanya terbatas pada orang Indonesia.

Penyajian Halaman Teks
Ada 4 unsur pada halaman teks yang dievaluasi yaitu unsur judul sirahan pada halaman genap, judul sirahan pada halaman ganjil, penomoran halaman, dan keseragaman huruf dalam teks.
Hasil evaluasi (Lihat Tabel 2) menunjukkan bahwa penulisan judul sirahan, baik pada halaman genap maupun halaman ganjil, belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kesalahan yang banyak dilakukan adalah: pencantuman judul sirahan yang kurang lengkap atau berlebihan dan kesalahan dalam penempatannya. Beberapa majalah bahkan belum mencantumkan judul sirahan.
Penomoran halaman umumnya masih banyak kesalahan, yaitu tidak berurutan dalam satu volume, tetapi selalu dimulai dengan nomor 1 pada setiap nomor terbitan. Selain itu, nomor awal halaman tidak dimulai pada halaman pertama teks, tetapi pada halaman sebelumnya, misalnya pada halaman kulit, halaman judul atau daftar isi.
Sebagai catatan, perlu diketahui bahwa keseragaman huruf dalam teks dan penempatan gambar atau tabel umumnya sudah benar.

Penyajian Unsur lain-lain
Ada 5 unsur lain-lain yang harus ada pada terbitan adalah: frekuensi penerbitan, alamat redaksi, penerbit, lembar abstrak dan lajur bibliografi. Dari unsur-unsur tersebut, hanya dua unsur yang telah ditaati yaitu pencantuman nama penerbit dan alamat redaksi. Karena kebanyakan alamat penerbit sama dengan alamat redaksi, maka apabila penerbit sudah mencantumkan alamat, maka alamat redaksi biasanya dianggap tidak perlu lagi. Baru sebagain terbitan yang telah mencantumkan frekuensi penerbitan.
Ketentuan dalam standar yang belum dilaksanakan adalah adanya lembar abstrak, dan adanya lajur bibliografi. Pencantuman kedua unsur ini terlihat belum memasyarakat di kalangan penerbit majalah. Keadaan ini kemungkinan disebabkan karena belum disosiali-sasikannya standar yang ada, atau belum diketahuinya manfaat pencantuman unsur tersebut bagi penerbit maupun pembaca. Hal ini dapat dimengerti, mengingat majalah-majalah asing yang biasanya dibuat acuanpun belum banyak yang melaksanakannya.
Sebagai catatan, perlu diketahui bahwa masih sedikit terbitan yang mencantumkan harga satuan/langganan. Hal ini disebabkan karena umumnya terbitan tidak diperjual belikan atau beredar untuk kalangan terbatas. Disamping itu, masih sedikit terbitan yang mencantumkan judul pada punggung buku, dan cara penulisannya umumnya belum benar.
Dari data tersebut di atas dapat diketahui bahwa masih banyak kekurangan dalam penyajian halaman judul, daftar isi, dan pencantuman judul sirahan pada halaman teks. Adapun penyajian lembar abstrak dan lajur bibliografi sama sekali belum dilaksanakan. Temuan ini setidak-tidaknya mengundang pertanyaan, bagaimana kesesuaian penyajian majalah asing dengan standar internasional?, apakah permasalahan yang terjadi sama dengan majalah Indonesia? Pertanyaan ini tentu saja belum dapat dijawab karena belum pernah dilakukan evaluasi mengenai hal itu.

Perbedaan Kualitas Penyajian Majalah
Nilai rata-rata kualitas penyajian majalah pada Tabel 3 menunjukkan bahwa majalah terbitan swasta ternyata mempunyai angka rata-rata paling tinggi (43,2084), selanjutnya secara berturut-turut adalah terbitan Perguruan Tinggi (42,2734), Litbang Perguruan Tinggi (42,2581), Litbang Departemen/Non Departemen (40,6923), Departemen /Non Departemen (40,1579), sedangkan terbitan mahasiswa mempunyai angka rata-rata paling rendah (32,75).

Tabel 3
Nilai Kesesuaian Penyajian Majalah dengan Standar
No
JENIS PENERBIT
N
Nilai
Terendah
Nilai
Tertinggi
Nilai
Rata-rata
1
Litbang Perguruan Tinggi
31
29
59
42,2581
2
Perguruan Tinggi
139
26
59
42,2734
3
Mahasiswa
12
29
40
32,7500
4
Litbang Dep/LPND
39
26
58
40,6923
5
Departemen/LPND
19
20
51
40,1579
6
Swasta
47
31
58
43,2083

Berdasarkan hasil analisa dengan Anava (Analisisis ragam klasifikasi satu arah) pada taraf nyata sebesar 0,05, menunjukkan bahwa nilai F hitung = 5, 27203, lebih besar dari nilai F tabel (2,2100). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada perbedaan kualitas penyajian majalah yang nyata diantara ke enam jenis penerbit tersebut.
Uji statistik selanjutnya menunjukkan bahwa perbedaan kualitas penyajian terse-but terjadi pada majalah:
1. Terbitan Litbang Perguruan Tinggi dengan terbitan mahasiswa.
2. Terbitan Perguruan Tinggi dengan terbitan mahasiswa.
3. Terbitan Litbang Departemen/LPND dengan terbitan mahasiswa
4. Terbitan swasta dengan terbitan mahasiswa
Dengan kata lain, kualitas penyajian majalah : Litbang Perguruan Tinggi, Perguruan Tinggi, Litbang Departemen/LPND dan swasta lebih baik dibandingkan dengan terbitan mahasiswa. Sementara itu tak ada perbedaan kualitas penyajian yang nyata antara majalah terbitan : Litbang Perguruan Tinggi, Perguruan Tinggi, Litbang Departemen/LPND, Departemen/LPND dan swasta (lihat Tabel 4).

Tabel 4
Uji Statistik Perbedaan Kualitas Penyajian Majalah Antar Penerbit
NO
Perbandingan
Nilai P
Keterangan
1
Litbang PT dengan Perguruan Tinggi
>0,8
Tidak signifikan
2
Litbang PT dengan Mahasiswa
0,0002
Signifikan
3
Litbang PT dengan Litbang Dep/LPND
0,3403
Tidak signifikan
4
Litbang PT dengan Departemen.LPND
0,2928
Tidak signifikan
5
Litbang PT dengan Swasta
0,5446
Tidak signifikan
6
Perguruan Tinggi dengan Mahasiswa
<0,0001
Signifikan
7
Perguruan Tinggi dengan Litbang Dep/ LPND
0,1996
Tidak signifikan
8
Perguruan Tinggi dengan Departemen/LPND
0,2037
Tidak signifikan
9
Perguruan Tinggi dengan Swasta
0,4109
Tidak signifikan
10
Mahasiswa dengan Litbang Dep/LPND
0,0009
Signifikan
11
Mahasiswa dengan Departemen/LPND
0,0060
Tidak signifikan
12
Mahasiswa dengan Swasta
<0,0001
Signifikan
13
Litbang Dep/LPND dengan Dep/LPND
0,7791
Tidak signifikan
14
Litbang Dep/LPND dengan Swasta
0,0886
Tidak signifikan
15
Dep/LPND dengan Swasta
0,1016
Tidak signifikan

Dari data tersebut dapat terlihat bahwa terbitan Lembaga Litbang yang diperkirakan mempunyai SDM, dan komunikasi ilmiah yang lebih intensif, tidak menghasilkan terbitan yang lebih baik dibanding terbitan lembaga non litbang. Sementara itu, majalah terbitan mahasiswa merupakan terbitan yang paling memprihatinkan, baik dari peringkat ilmiahnya maupun kualitas penyajiannya. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kurangnya pembinaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab perguruan tinggi masing-masing. Namun demikian hal ini dapat dimengerti mengingat terbitan perguruan tinggi sendiri ternyata masih perlu dibina.
Dari hasil pengolahan data tersebut dapat ditentukan urutan prioritas peningkatan kualitas penyajian majalah. Mengingat bahwa Lembaga Litbang adalah penghasil karya ilmiah berupa hasil penelitian, maka kemampuan transfer informasi baik di tingkat nasional dan internasional perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, sudah selayaknya jika peningkatan kualitas penyajian majalah di lembaga litbang perlu mendapatkan prioritas utama, sedangkan pembinaan untuk Lembaga Perguruan tinggi dan lembaga departemen/LPND mendapatkan prioritas selanjutnya.

KESIMPULAN
1. Kesesuaian penyajian majalah ilmiah Indonesia dengan standar masih mempri-hatinkan. Sebagian besar majalah (85,76%) kurang memenuhi standar, hanya 10,42% majalah yang mendekati standar, 3,82% tidak mengikuti standar dan tak satupun yang memenuhi standar.
2. Baru sebagian dari ketentuan dalam SNI 19-1950-1990 yang telah dilaksanakan dengan benar atau mendekati benar, dan sebagian lagi belum dilaksanakan. Ketentuan dalam ISO 3297-1986 tentang penulisan dan penempatan ISSN umumnya belum dilaksanakan dengan benar.
3. Kualitas penyajian majalah yang diterbitkan oleh Litbang Perguruan Tinggi, Perguruan Tinggi, Litbang Departemen/LPND dan swasta nyata lebih baik dibandingkan dengan terbitan mahasiswa. Tetapi tak ada perbedaan nyata antara terbitan : Litbang Perguruan Tinggi, Perguruan Tinggi, Litbang Departemen/LPND, Departemen/LPND dan swasta.

SARAN
1. Perlu dilakukan sosialisasi standar penyajian majalah (SNI 19-1950-1990) di kalangan penerbit di Indonesia. Untuk itu, perlu adanya kerjasama antar instansi terkait misalnya: Badan Standarisasi Nasional, PDII-LIPI sebagai agen ISSN di Indonesia dan lembaga perguruan tinggi, departemen maupun non departemen.
2. Sosialisasi standar penyajian majalah diprioritaskan kepada penerbit di lingkungan lembaga Litbang baik perguruan tinggi maupun departemen/non departemen, baru kemudian ke lembaga perguruan tinggi, departemen, dan non departemen. Adapun pembinaan terbitan mahasiswa sebaiknya dilakukan oleh perguruan tinggi masing-masing.
3. PDII-LIPI perlu lebih meningkatkan upaya untuk lebih memasyarakatkan ISO 3297 •1986 tentang penulisan dan penempatan ISSN
4. PDII-LIPI sebagai lembaga yang berwenang memberikan ISSN, dapat berfungsi sebagai pembina kualitas penyajian majalah sekaligus pemberi sanksi bagi terbitan baru yang tidak mengikuti ketentuan
5. Perlu dilakukan penelitian mengenai kesesuaian majalah asing dengan standar internasional sebagai studi perbandingan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terimakasih kami ucapkan kepada pimpinan Proyek Pengembangan Sistem Informasi Guna Menunjang Pembangunan PDII-LIPI yang telah mengalokasikan 2 orang tenaga peserta Program Pemberdayaan Mahasiswa yaitu Sdr. Rina dan Sdr. Rahmadani untuk membantu pengumpulan data.


DAFTAR PUSTAKA

Ditjen Dikti. 1997. Instrumen evaluasi untuk akreditasi berkala ilmiah. Jakarta.

Gibbs, W.Wayt. 1995. Lost Science in the third world. Scientific American (August): 92-99.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 1992. Daftar majalah yang telah dinilai oleh anggota P2JP LIPI.

Lopez-Cozar, Emilio Delgado and Rafael Ruiz Perez. 1995. A model for assessing Compliance of scientific journals with international standards. Libri 45: 145-159.

Malangkay, H.H.B. 1988. Kriteria majalah ilmiah populer. Widya, 5 (32): 15-17.

Suwahyono, Nurasih. 1996. Dasar-dasar pengelompokan majalah di lingkungan PDII-LIPI. Baca 21 (1-2): 32-35.

Dewan Standardisasi Nasional. Terbitan Berkala. Standar Nasional Indonesia 19-1950-1990.

International Organization for Standardization. 1977. ISO 8. Documentation-Presentation of periodicals.

International Organization for Standardization. 1986. ISO 3297. International Standard serial numbering (ISSN).

0 Comments:

Post a Comment

<< Home