Name:
Location: Jakarta, Indonesia

Tuesday, October 31, 2006

KONDISI MAJALAH INDONESIA BIDANG ILMU PERPUSTAKAAN
DAN INFORMASI DI AWAL ABAD 21*

Sri Purnomowati **

Abstrak
Hasil inventarisasi kembali terhadap 84 judul majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang ber-ISSN menunjukkan bahwa 46,43% majalah masih terbit. Deskripsi majalah adalah: 43,59% majalah diterbitkan oleh lembaga perguruan tinggi, 46,15% oleh lembaga Departemen/Non Departemen, dan 10,26% oleh lembaga swasta termasuk himpunan profesi. Sebagian besar majalah (74,36%) diterbitkan di wilayah Pulau Jawa. Tampilan majalah umumnya belum sesuai standar SNI 19-1950-1990. Sampai saat ini, belum ada majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang telah terakreditasi oleh DIKTI atau termasuk sebagai majalah ilmiah berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh P2JP - LIPI.
Kata kunci : Publikasi ilmiah; Ilmu perpustakaan dan informasi

Abstract
The reinventory of 84 titles of library and information science publication which has an ISSN shows that 46,43% publications are still published. The description was : 43,59% publications published by Academic institution, 46,15% published by Departement institution/ Non Departemen institution, and 10,26% published by private institution include professional association. The mayor of publications (74,36%) are published in P. Jawa area.. Generally, the presentation of publication are in less compliance with the standard SNI 19-1950-1990. Untill now, none of the library and information science publication is accredited by DIKTI or include as science publication base on assessment made by P2JP - LIPI.
Keyword : Scientific Publication; Library and information Science


* Dimuat dalam Baca 26 (1-2) 2001: 27-31.
** Peneliti bidang Pusdokinfo di PDII-LIPI

1. Pendahuluan
Majalah merupakan sarana komunikasi yang sangat penting bagi semua kalangan, baik masyarakat ilmiah maupun masyarakat umum. Majalah merupakan salah satu bentuk terbitan berkala, yaitu terbitan yang diterbitkan dalam bagian-bagian (nomor) yang berurutan dengan perwajahan dan judul sama, dan terbit menurut jadwal yang sudah ditetapkan dalam waktu yang tidak ditentukan. Terbitan yang termasuk dalam terbitan berkala selain majalah adalah: berita, buletin, laporan tahunan, dan lain-lain (Dewan Standardisasi Nasional).
Mengingat sifat penerbitannya yang berkala, kemutakhiran informasi yang terkandung di dalamnya, dan kepakaran para pengelolanya, majalah ilmiah sangat cocok sebagai sarana transfer informasi yang mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedemikian pentingnya kedudukan majalah ilmiah sehingga produktivitasnya bahkan dijadikan indikator untuk menunjukkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di suatu negara.
Di bidang ilmu perpustakaan dan informasi, kehadiran majalah khususnya majalah ilmiah semakin diperlukan. Hal ini antara lain disebabkan oleh: 1) pesatnya perkembangan teknologi informasi dan perkembangan ilmu perpustakaan dan informasi itu sendiri; 2) semakin berkembangnya pendidikan bidang ilmu perpustakaan dan informasi di Indonesia; 3) semakin berkembangnya jenis profesi yang terkait dengan bidang perpustakaan dan informasi termasuk kegiatan penelitian dan pengembangan. Oleh karena itu, optimalisasi fungsi majalah ilmiah sebagai sarana komunikasi dan transfer informasi antar ilmuwan, profesional/praktisi dan masyarakat, perlu segera dilakukan.
Sehubungan dengan tuntutan tersebut, perlu kita lihat bersama-sama kondisi majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi saat ini. Apakah kuantitas dan kualitasnya mampu mengemban fungsinya sebagai pendukung kemajuan ilmu perpusta -kaan dan informasi di Indonesia? Informasi mengenai kondisi majalah tersebut di atas tentunya perlu diketahui, agar dapat digunakan sebagai: 1) sumber informasi bagi para pengelola perpustakaan dalam rangka membangun koleksi majalah Indonesia yang lengkap; 2) sumber informasi bagi para penulis yang akan mengkomunikasikan karya ilmiahnya melalui majalah; dan 3) sumber informasi bagi para penyunting dan penerbit majalah Indonesia di bidang ilmu perpustakaan dan informasi.

2. Jumlah dan Deskripsi Majalah
PDII-LIPI selama ini merupakan lembaga yang ditunjuk sebagai perwakilan ISDS (International Serial Data System) di Paris yang bertugas melakukan pendaftaran terbitan berkala yang terbit di Indonesia dengan cara memberikan ISSN (International Standard Serial Number). Sejak tahun 1974 sampai sekarang, jumlah majalah yang telah mempunyai ISSN sekitar 6.750 judul dengan pertambahan rata-rata 400 judul majalah baru per tahun. Dari jumlah tersebut, jumlah majalah yang masih terbit dapat dipastikan lebih kecil daripada yang terdaftar, karena adanya majalah yang sudah tidak terbit lagi atau telah berganti judul. Meskipun penerbitan majalah baru boleh dikatakan cukup menggembirakan, tetapi di tingkat internasional, penerbitan majalah ilmiah Indonesia masih kalah dibandingkan dengan negara-negara tetangga, seperti: Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina (Gibbs 1995). Suatu kenyataan yang sulit dielakkan adalah sedikitnya majalah Indonesia yang diindeks oleh lembaga pengindeksan luar negeri, dan sedikitnya artikel majalah ilmiah Indonesia yang disitir oleh penulis asing. Dalam hal ini, keterbatasan bahasa kemungkinan juga ikut berperan, mengingat hanya sebagian kecil majalah ilmiah Indonesia yang berbahasa asing.
Banyak kendala yang dihadapi oleh para penerbit majalah, salah satunya adalah masalah pendanaan. Sampai saat ini rasanya masih sedikit sekali majalah yang dapat mandiri dalam mengelola terbitannya. Sebagian besar majalah masih bergantung pada dana yang diberikan oleh lembaga induknya, baik berupa dana rutin, dana proyek atau dana lainnya. Banyaknya hambatan menyebabkan majalah Indonesia terbit dengan kala yang tidak teratur, sering kali baru terbit beberapa nomor lalu berhenti terbit atau berganti judul, atau setelah mati bertahun-tahun tiba-tiba hidup kembali. Beberapa majalah terbit dengan peredaran yang terbatas, sehingga informasi yang terkandung di dalammya hanya dibaca oleh kalangan sendiri.
Untuk memastikan berapa jumlah majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang masih terbit sampai saat ini, Sri Purnomowati dan Yuliastuti (2000a) melakukan inventarisasi terhadap 84 judul majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang terdaftar telah memiliki ISSN. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa 46,43% majalah (39 judul) menyatakan masih terbit, 11,9% majalah menyatakan sudah tidak terbit lagi, 3,57% majalah telah berganti judul, dan 38,10% majalah tidak diketahui statusnya. Banyaknya majalah yang tidak diketahui statusnya antara lain disebabkan karena: kuesioner tidak kembali, penerbit sudah pindah alamat, atau data yang dikirim tidak sesuai dengan data majalah yang ditanyakan. Selain itu, walaupun majalah mengalami hambatan dalam penerbitannya, umumnya mereka keberatan menyatakan tidak terbit karena masih ada harapan akan terbit kembali.
Deskripsi 39 judul majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang masih terbit sampai saat ini menunjukkan bahwa 43,59% majalah diterbitkan oleh lembaga perguruan tinggi, 46,15% majalah diterbitkan oleh lembaga Departemen/Non Departemen, dan 10,26% majalah diterbitkan oleh lembaga swasta termasuk himpunan profesi. Berdasarkan kota terbit, penerbitan majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi ternyata masih terkonsentrasi di wilayah Pulau Jawa yaitu 29 judul (74,36%), sementara di wilayah Indonesia bagian timur penerbitan majalah masih relatif lemah, yaitu 4 judul (10,25%). Di wilayah Pulau Jawa, penerbit terbanyak adalah DKI Jakarta (11 Judul), kemudian DI Yogyakarta (7 Judul), Jawa Barat (7 Judul) dan Jawa Tengah dan Jawa Timur masing-masing 2 Judul.
Ditinjau dari tahun terbit, pertambahan majalah baru paling menonjol terjadi pada periode tahun 1991-1995, kemudian menurun pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor anggaran pemerintah yang memang meningkat pada periode 1991-1995 dan menurun setelah adanya krisis moneter pada tahun 1997. Namun demikian dunia kepustakawanan Indonesia pantas berbangga karena walaupun menghadapi banyak kendala sebagian dari majalah tetap setia menekuni bidangnya. Dari majalah yang masih terbit sampai saat ini, 33,33% majalah telah berusia 20-29 tahun, 17,96% majalah berusia 10 –19 tahun, dan 48,74% majalah berusia kurang dari 10 tahun (Lihat Tabel 1). Majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi umumnya berbahasa Indonesia dan kala terbit terbanyak adalah tiga bulanan.

Tabel 1
Tahun Terbit Majalah

Tahun Terbit
Jumlah terdaftar
Jumlah Masih terbit
Jumlah
Masih terbit (%)
Tahun 1971-1975
12
3
7,69
Tahun 1976-1980
20
10
25,61
Tahun 1981-1985
7
3
7,69
Tahun 1986-1990
9
4
10,27
Tahun 1991-1995
28
12
30,78
Sesudah tahun 1995
8
7
17,96
Jumlah
84
39
100,00

Walaupun sempat mengalami pasang surut, beberapa majalah bidang perpustakaan dan informasi patut mendapat acungan jempol dalam prestasi mencapai usia terbit lebih dari 25 tahun, seperti : Buletin IKIP Yogyakarta terbitan Perpustakaan IKIP Yogyakarta sejak tahun 1971, Baca yang diterbitkan oleh PDII-LIPI sejak tahun 1974, dan Buletin Sangkakala terbitan Perpusda DIY sejak tahun 1975.

3. Tampilan Majalah
Tampilan majalah adalah penyajian majalah secara fisik, tidak mencakup kualitas isi atau substansi majalah. Tampilan majalah antara lain menyangkut cara menyajikan informasi pada halaman sampul dan halaman judul seperti: cara membuat, menuliskan, atau menempatkan judul majalah, nomor terbitan, volume terbitan, waktu terbit, ISSN, nama dan alamat penerbit, susunan redaksi, dan kala terbit. Disamping itu juga mengenai penempatan daftar isi, informasi apa saja yang harus ada dalam daftar isi, cara penomoran halaman teks, cara menampilkan judul sirahan pada halaman teks, dan lain-lain. Walaupun tampilan majalah tidak berkaitan langsung dengan kualitas isi majalah, tetapi tampilan majalah dinyatakan dapat meningkatkan kemampuan transfer isi suatu majalah (Lopez-Cozar and Perez 1995).
Dalam hal tampilan majalah, Indonesia telah menerbitkan SNI 19-1950-1990 (Dewan Standardisasi Nasional), yaitu standar nasional untuk penyajian terbitan berkala, mencakup majalah, berita, buletin, laporan tahunan, dan lain-lain. Standar nasional tersebut antara lain mengacu pada standar internasional: ISO 8-1977 (International Organization for Standardization 1988). Pada dasarnya, kedua standar tersebut tidak jauh berbeda, hanya ada beberapa ketentuan pada SNI yang sifatnya lebih rinci dibandingkan dengan ISO 8-1977. Pada dasarnya, penerapan standar adalah sukarela, jadi tak ada sangsi bagi terbitan yang tidak mengikutinya. Namun demikian, jika ketentuan-ketentuan tersebut dilaksanakan, akan terasa manfaatnya terutama pada proses pengolahan, penyimpanan, temu kembali, penyebaran, integrasi, dan pertukaran informasi. Apalagi dengan adanya globalisasi ilmu pengetahuan, kegiatan pertukaran informasi melalui jaringan internasional semakin meningkat sehingga semakin diperlukan adanya standar untuk mengurangi kendala yang diakibatkan oleh perbedaan wilayah, bahasa, institusi, bidang ilmu, dan karakteristik perorangan lainnya. Sayangnya informasi mengenai standar tersebut kurang memasyarakat sehingga banyak penerbit atau pengelola majalah yang belum mengetahuinya. Dengan demikian mulai muncul pertanyaan, bagaimana kesesuaian majalah Indonesia dengan standar tersebut? Apakah terbitan asing juga sudah melaksanakan ketentuan-ketentuan yang termuat dalam standar internasional?
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Sri Purnomowati, Yuliastuti, dan Ginting (1999) telah melakukan penelitian tentang tampilan majalah Indonesia secara umum. Hasil penelitian terhadap 288 judul majalah ilmiah dan semi ilmiah Indonesia menunjukkan bahwa tak satupun terbitan yang memenuhi SNI 19-1950-1990, hanya 10,42% terbitan mendekati standar, 85,76% terbitan kurang memenuhi standar, dan 3,82% terbitan tidak mengikuti standar. Jadi, hanya sebagian ketentuan dalam SNI 19-1950-1990 telah dilaksanakan dengan benar atau mendekati benar, dan sebagian lagi belum dilaksanakan termasuk cara penulisan dan penempatan ISSN. Temuan tersebut setidak-tidaknya dapat memberikan gambaran mengenai kondisi tampilan majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi. Walaupun demikian, keadaan ini hendaknya tidak terlalu membuat kita berkecil hati, karena secara umum tampilan majalah asingpun tidak jauh berbeda, hanya relatif sedikit lebih baik. Hasil penelitian Sri Purnomowati dan Yuliastuti (1999) terhadap 102 judul majalah ilmiah asing menunjukkan bahwa tak ada terbitan yang sepenuhnya memenuhi ISO 8-1977, hanya 23,53% terbitan mendekati standar, dan 76,47% terbitan kurang memenuhi standar.
Mengingat begitu bervariasinya tampilan majalah Indonesia, serta banyaknya pertanyaan mengenai tampilan majalah dari redaksi/penerbit majalah baru, maka PDII-LIPI berinisiatif menerbitkan buku panduan mengenai penyajian terbitan berkala (Suwahyono, Sri Purnomowati, Ginting 1999) yang mengacu pada SNI 19-1950-1990 dan ISO 8-1977. Sebagai salah satu upaya pembinaan, ketentuan-ketentuan yang ada dalam panduan tersebut disosialisasikan terutama kepada penerbit majalah baru yang akan minta ISSN.

4. Substansi Majalah
Selama ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia telah menilai dan membuat klasifikasi terhadap majalah yang terbit di Indonesia untuk kepentingan penilaian jabatan fungsional peneliti. Berdasarkan Surat Keputusan LIPI No. 1482/SK/Ket/J.10/81, untuk keperluan penilaian hasil-hasil karya tulis ilmiah para peneliti Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menetapkan klasifikasi majalah menjadi 3, yaitu: majalah ilmiah, majalah ilmiah semi poluler, dan majalah ilmiah populer. Syarat minimal yang harus dipenuhi oleh majalah ilmiah adalah sebagai berikut: a) bertujuan untuk menampung mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian ilmiah, dan atau konsep ilmiah dari disiplin ilmu pengetahuan tertentu; b) ditujukan kepada masyarakat ilmiah/peneliti yang mempunyai disiplin-disiplin keilmuan yang relevan; c) diterbitkan oleh suatu organisasi/ badan ilmiah; d) mempunyai dewan redaksi yang terdiri dari para ahli menurut bidang keilmuan yang bersangkutan; e) mempunyai ISSN; dan f) sekali terbit paling sedikit seba-nyak 300 eksemplar. Berdasarkan Daftar majalah yang telah dinilai oleh anggota P2JP- LIPI, sampai pertengahan tahun 1999, belum ada majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang tergolong sebagai majalah ilmiah.
Sementara itu, untuk meningkatkan kualitas majalah ilmiah di lingkungan Perguruan Tinggi di Indonesia, Ditjen DIKTI (1997) telah menerbitkan instrumen evaluasi untuk keperluan akreditasi terbitan berkala ilmiah Unsur-unsur yang dievaluasi dalam instrumen tersebut meliputi: nama terbitan berkala, kelembagaan penerbit, penyunting, kemantapan penampilan, gaya penulisan, substansi, keberkalaan, tiras, dan lain-lain. Hasil penilaian yang diperoleh adalah tidak terakreditasi atau terakreditasi. Majalah ilmiah yang telah terakreditasi dapat masuk peringkat A jika majalah berpredikat sangat baik, masuk peringkat B jika majalah berpredikat baik dan majalah masuk peringkat C jika majalah berpredikat cukup.
Ditinjau dari peringkat ilmiahnya, kondisi majalah bidang perpustakaan dan informasi masih memprihatinkan. Majalah yang terbit umumnya berfungsi sebagai sarana komunikasi antar sesama pengelola informasi dan pemakai informasi. Walaupun beberapa diantaranya bermaksud mengelola majalah bersifat ilmiah, tetapi tampaknya belum mendapatkan pengakuan dari lembaga yang berwenang. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 69/DIKTI/Kep/2000 tentang hasil akreditasi jurnal ilmiah Direktorat Pendidikan Tinggi tahun 1999/2000, sampai saat ini belum ada majalah ilmiah bidang perpustakaan dan informasi yang telah terakreditasi.
Sehubungan dengan kualitas artikel ilmiah dalam majalah ilmiah Indonesia, Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat-DIKTI mengidentifikasi lemahnya peran serta himpunan profesi dalam memajukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Hal ini dibuktikan dengan kecilnya jumlah majalah ilmiah terbitan himpunan profesi yang telah terakreditasi. Dari 816 majalah ilmiah di kalangan perguruan tinggi yang diajukan, telah terakreditasi 226 majalah ilmiah, diantaranya hanya 14 judul (6%) yang diterbitkan oleh himpunan profesi. Sehubungan dengan hal itu, Direktur Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat bermaksud menganggarkan sejumlah dana untuk membantu pengembangan jurnal yang diterbitkan oleh himpunan profesi.

5. Pola Kepengarangan dan Pola Sitiran
Hasil studi mengenai pola kepengarangan dan pola sitiran tiga majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi oleh Sri Purnomowati (2001) menyimpulkan bahwa sebagian besar pengarang adalah pustakawan pria dengan tingkat kolaborasi yang tergolong rendah. Jumlah referensi per artikel tergolong kecil dan sebagian besar acuan berupa buku. Hasil studi sejenis terhadap majalah Baca terbitan tahun 1974-1999 menunjukkan bahwa pengarang dalam majalah tersebut didominasi oleh kaum pria, yang terdiri dari pustakawan PDII-LIPI sendiri. Walaupun tingkat kolaborasi pengarang tergolong rendah, tetapi terlihat adanya kenaikan tingkat kolaborasi pengarang khususnya pada periode 5 tahun terakhir. Buku merupakan jenis dokumen yang paling banyak dijadikan acuan, dan sebagian besar referensi berupa dokumen yang cukup mutakhir. Selama 25 tahun penerbitannya, artikel dalam majalah Baca yang merupakan hasil penelitian, baru muncul pada periode 10 tahun terakhir (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000b).

6. Penutup
Berdasarkan data-data tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa walaupun majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang terbit saat ini sudah berfungsi sebagai sarana komunikasi diantara para pengelola informasi dan masyarakat pemakainya, tetapi belum optimal dalam mengemban fungsinya sebagai sarana komunikasi ilmiah untuk mendukung kemajuan ilmu perpustakaan dan informasi. Dengan kondisi tersebut segenap insan Indonesia yang peduli dengan bidang ilmu perpustakaan dan informasi hendaknya tergugah untuk memberikan perhatian yang lebih banyak dan lebih serius dalam hal pengelolaan majalah ilmiah. Langkah konkret yang mungkin dapat dilakukan antara lain adalah : 1) partisipasi pengurus himpunan profesi dalam mendorong dan menggerakkan penerbitan majalah ilmiah bidang ilmu perpustakaan dan informasi; 2) partisipasi para pakar dan ilmuwan di bidang ilmu perpustakaan dan informasi dalam memberikan curah waktu dan curah pikir yang lebih banyak dan lebih intensif untuk menangani pengelolaan majalah ilmiah; 3) partisipasi para teorisi dari kalangan Perguruan Tinggi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas penulisan karya-karya ilmiah; 4) partisipasi lembaga-lembaga yang terkait dengan bidang perpustakaan dan informasi dalam meningkatkan pengalokasian dana untuk keperluan pengelolaan dan penerbitan majalah ilmiah; 5) partisipasi berbagai pihak untuk meningkatkan kemampuan SDM di bidang teknik penulisan, penyuntingan, penyajian terbitan, dan pengelolaan majalah, baik melalui pendidikan formal maupun melalui kursus dan pelatihan.


6. Daftar Pustaka

Dewan Standardisasi Nasional. Terbitan Berkala. Standar Nasional Indonesia 19-1950-1990.

Ditjen Dikti. 1997. Instrumen evaluasi untuk akreditasi berkala ilmiah. Jakarta. Ditjen Dikti.

Gibbs, W.Wayt. 1995. Lost Science in the third world. Scientific American (August): 92-99.

International Organization for Standardization.1988. Documentation-Presentation of periodicals: ISO 8-1977. In Documentation and information : ISO Standars handbook 1, 3 rd ed., 412-415. Geneva: International Organization for standardization.

Lopez-Cozar, Emilio Delgado and Rafael Ruiz Perez. 1995. A model for assessing Compliance of scientific journals with international standards. Libri 45: 145-159.

Sri Purnomowati, Rini Yuliastuti, Maria Ginting. 1999. Kesesuaian penyajian majalah ilmiah Indonesia dengan Standar Nasional Indonesia (SNI 19-1950-1990). Berita Iptek 40 (3) : 69-83.

Sri Purnomowati dan Rini Yuliastuti. 1999. Kesesuaian penyajian majalah ilmiah luar negeri dengan standar internasional (ISO 8-1977). Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan 1 (2) :94-113.

----------. 2000a. Inventarisasi majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi. Marsela 2 (2) : 13-16.

----------. 2000b. Pola kepengarangan dalam majalah Baca tahun 1974-1999. Baca 25 (1-2) : 20-30.

Sri Purnomowati. 2001. Pola kepengarangan dalam tiga majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi. Berita Iptek 42 (1) : 125-140.

Suwahyono, Nurasih, Sri Purnomowati, Maria Ginting. 1999. Sistematika penyajian terbitan berkala sesuai standar nasional dan internasional. Jakarta : PDII-LIPI.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home