Name:
Location: Jakarta, Indonesia

Tuesday, October 31, 2006

PEMANFAATAN MIKROFIS DAN MIKROFILM KOLEKSI PDII-LIPI*

Sri Purnomowati** dan Rini Yuliastuti ***

Abstrak

Survei dilakukan terhadap 14 orang pemakai mikrofis/film koleksi PDII-LIPI dan 21 orang pengunjung perpustakaan non- pemakai mikrofis/film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koleksi mikrofis/film di PDII-LIPI belum dimanfaatkan secara optimal. Kendala yang dialami oleh pemakai antara lain disebabkan karena kurang nyamannnya cara penggunaan, kurang lengkapnya fasilitas, dan mahalnya biaya cetak. Sementara bagi non-pemakai, kendala yang menyebabkan mereka enggan menggunakan mikrofis/film adalah kurangnya promosi dan pendidikan pemakai, mahalnya biaya cetak, dan kurang lengkapnya fasilitas. Selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan, menghimpun semua sarana temu kembali koleksi mikrofis/film ke dalam OPAC, mengoptimalkan fasilitas yang telah tersedia, menghindari penambahan koleksi mikrofis/film selain untuk preservasi, dan perlu dipikirkannya alih media dengan teknologi yang lebih mutakhir..

Kata Kunci : Mikrofilm; Mikrofis; PDII-LIPI

Latar Belakang
Mikrofis dan mikrofilm pada awalnya dikembangkan di Perancis dan Jerman sebelum Perang Dunia II, dan sejak awal tahun 1960 pemerintah Amerika Serikat mulai menggunakannya sebagai sarana penyimpan informasi baik berupa buku, majalah, brosur, dan materi komunikasi lainnya. Mikrofis adalah lembaran film berukuran 7,5 x 12,5 cm atau 22,5 x 30 cm, yang memuat sederetan mikrofoto. Sedangkan mikrofilm didefinisikan sebagai mikrofoto negatif atau positif pada film, yang biasanya digunakan berupa lembaran atau gulungan film dengan ukuran lebar 15 mm, 36 mm atau 70 mm.Untuk melihat atau membacanya dibutuhkan alat pembaca khusus (Microreader)
PDII-LIPI saat ini mempunyai koleksi mikrofis/film yang memuat informasi-informasi penting dengan jumlah yang cukup banyak dan jumlahnya semakin bertambah dari tahun ke tahun. Pada awal tahun 1998 jumlahnya mencapai 54.428.judul meliputi: buku, majalah, koran, disertasi, thesis . dll. Koleksi tersebut merupakan aset berharga yang perlu didayagunakan untuk kepentingan kemajuan ilmu pengetahuan. Namun demikian, akhir-akhir ini kemajuan teknologi informasi semakin pesat sehingga muncul beberapa alternatif untuk menyimpan atau menemukan informasi seperti adanya CD-ROM, pangkalan data, ataupun jaringan internet.
Permasalahan saat ini adalah: apakah mikrofis/film masih bermanfaat ditengah kemajuan teknologi tersebut, khususnya sebagai sarana penyebaran informasi ? kendala apa saja yang dihadapi oleh pemakai selama ini? Apakah pemanfaatannya masih mungkin untuk ditingkatkan?. Untuk menjawab permasalahan tersebut, Sub Bidang Pengkajian Informasi Ilmiah PDII-LIPI melakukan suatu kajian dengan tujuan :1. Mengetahui pemanfaatan mikrofis/film sebagai sarana penyebaran informasi; dan 2. Mengetahui kendala yang mempengaruhi pemakaian mikrofis/film Hasil kajian ini diharapkan dapat membantu upaya untuk meningkatkan pemanfaatan dan fungsi mikrofis/film sebagai sarana penyebaran informasi, serta sebagai bahan masukan untuk para pimpinan demi efektifitas dan efisiensi penggunaan sumber dana dan sumber daya yang dimiliki.


* Dimuat dalam Baca 24 (1-2) 1999:1-8.
** Kepala Sub Bidang Pengkajian Informasi Ilmiah
*** Staf Sub Bidang Pengkajian Informasi Ilmiah

Tinjauan Literatur
Beberapa alasan yang mendorong berkembangnya penggunaan mikrofis/film dinyatakan oleh beberapa penulis, antara lain karena kecepatan dan besarnya ketersediaan informasi yang dapat disebarkan (Campbell 1971), sangat efektifnya sebagai cara penggandaan laporan tehnik (Christ 1972), dan sangat bermanfaatnya bagi layanan perpustakaan pada suatu institusi pendidikan. (Veit 1997).
Selama ini PDII-LIPI telah menggunakan mikrofis/film untuk memberikan layanan informasi kepada para pemakai perpustakaan maupun sebagai sarana penyimpan dokumen yang dimiliki. Koleksi mikrofis/film yang pertama memuat informasi tentang Indonesia, khususnya masa sebelum perang. Kemudian, mikrofis/film bidang ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan - koleksi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Koleksi tersebut diberikan oleh pemerintah Belanda dan penyerahannya dilakukan oleh sekjen Koninklijk Instituut Voor De Tropen melalui duta besar Republik Indonesia di Negeri Belanda pada tanggal 24 Oktober 1977 (Berita LIPI 1978).
Berdasarkan catatan penerimaan mikrofis Sub Bidang Pengadaan PDII-LIPI, koleksi mikrofis/film yang dimiliki sampai saat ini merupakan perolehan dari beberapa instansi. Koleksi mikrofis/film PDII-LIPI menjadi semakin bertambah, dengan adanya produksi mikrofis/film dari koleksi disertasi dan laporan penelitian tentang wanita. Selanjutnya dalam upaya meningkatkan layanan pemakai, khususnya pemakai mikrofis/film sekaligus untuk kepentingan pelestarian bahan pustaka, PDII-LIPI telah mengalihmediakan buku, majalah, koran thesis dll, kedalam bentuk mikrofis/film.
Sesuai dengan Laporan Tahunan PDII-LIPI 1997-1998, sampai dengan tahun 1997/1998, telah berhasil dikerjakan alih media informasi dalam bentuk mikrofis/film sebanyak 1500 fis. Adapun data pemakai koleksi mikrofis/film berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh SubBidang Jasa Pembaca Perpustakaan PDII-LIPI disebutkan bahwa jumlah pemakai mikrofis/film 1995/ 1996 adalah 169 orang, tahun 1996/1997 571orang, tahun 1997/1998 berjumlah 638 orang. Dari sini terlihat bahwa pemakai mikrofis/film terlalu kecil dibandingkan dengan pengunjung PDII-LIPI yang rata-rata sekitar 7000-8000 orang per bulan
Metodologi
Responden dalam penelitian ini adalah pengunjung perpustakaan PDII-LIPI yang menggunakan dan tidak menggunakan mikrofis/mikrofilm.Pengumpulan data dilakukan selama 4 bulan sejak tanggal 28 Mei sampai 5 Oktober 1998. Kuesioner dibagikan kepada semua pengun jung perpustakaan PDII-LIPI yang akan meminjam mikrofis/film. Selama itu, hanya berhasil dikumpulkan 14 kuesioner yang berasal dari pemakai mikrofis/mikrofilm dengan tingkat pengembalian 50,72%. Untuk melengkapi informasi tentang kendala penggunaan mikrofis/ mikrofilm di PDII-LIPI, diambil juga responden dari pengunjung perpustakaan non pemakai mikrofis/film, dan terkumpul 21 kuesioner.

Hasil Penelitian
1. Deskripsi Responden
Responden dalam kajian ini dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok pemakai dan non pemakai.Responden Pemakai Mikrofis/film ternyata sebagian besar (78,57%) terdiri dari mahasiswa, dan tidak dijumpai pemakai dari kalangan pelajar dan peneliti. Lebih dari setengah responden (57,14%) terdiri dari pria, dan sebagian besar berasal dari perguruan tinggi (85,71%). Sebagian responden berusia antara 21-30 tahun (50%) dan kurang dari 21 tahun (35,71%). Tak dijumpai pemakai diatas usia 40 tahun (Lihat Tabel 1).
Komposisi responden Non-Pemakai Mikrofis/film nampaknya tidak jauh berbeda, yaitu:
sebagian besar (66,67%) terdiri dari mahasiswa, dan tidak dijumpai responden dari kalangan pelajar. Kebanyakan responden (71,43%) terdiri dari pria, dan sebagian besar berasal dari perguruan tinggi (66,67%). Sebagian besar responden (71,43%) berusia antara 21-30 tahun, dan tak dijumpai pemakai diatas usia 40 tahun (Lihat Tabel 1).

Tabel 1
Deskripsi Responden

Variabel
Kategori
Pemakai
N=14
(%)
Non-Pemakai
N=21
(%)
Status
Pelajar
0,00
0,00

Mahasiswa
78,57
66,67

Pengajar/Dosen
7,14
4,76

Peneliti
0,00
9,52


Karyawan

14,29

14,29



Lain-lain

0,00

4,76

Jenis Kelamin

Pria

57,14

71,43



Wanita

42,86

28,57

Instansi

Perguruan Tinggi

85,71

66,67



Departemen/LPND

7,14

4,76



Industri

7,14

14,29



Swasta dll.

0,00

14,29

Usia

<21> 50 tahun

0,00

0,00


2. Pemanfaatan Mikrofis/film
Uraian mengenai pemanfaatan mikrofis/film terdiri dari alasan pemakai, frekuensi pemakaian, penggunaan informasi, cakupan bahasa, bidang ilmu, tahun publikasi, jenis dokumen, aktifitas pencarian informasi, seberapa banyak informasi yang diperoleh, dan besarnya dana yang tersedia untuk membeli informasi.
Alasan Penggunaan Mikrofis/film
Data yang terkumpul menunjukkan bahwa 50% responden menggunakan mikrofis/ film karena sesuai petunjuk katalog perpustakaan PDII-LIPI yang menyebutkan bahwa data atau informasi yang mereka cari memang ada dalam bentuk mikrofis/film, dan hanya 1 orang responden (7,14%) yang menyatakan bahwa informasi bentuk cetak yang ada di PDII-LIPI hilang/rusak, sementara sisanya (42,86%) tidak menyatakan pendapatnya. Dari data tersebut terlihat bahwa katalog perpustakaan memegang peranan penting dalam pemanfaatan mikrofis/film.

Frekuensi Pemakaian Mikrofis/Film
Dari jumlah tersebut, 28,57% responden menyatakan baru satu kali menggunakan mikrofis /film; 28,57% lainnya menyatakan telah 2-5 kali menggunakan mikrofis/film, sisanya (42,86%) tidak menyatakan pendapatnya. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pada akhir waktu penelitian dilaksanakan, alat baca mikrofis/film mengalami kerusakan sehingga pemakai yang baru meminjam untuk pertama kalinya menjadi batal menggunakannya. Sementara itu, tidak ada responden yang menyatakan lebih dari 5 kali menggunakan mikrofis/film. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa mikrofis/film hanya sekali-sekali saja digunakan.

Penggunaan Informasi
Hasil kajian menunjukkan 33,33 % informasi yang diperoleh melalui mikrofis/film digunakan untuk menyusun skripsi/tesis/disertasi; 19,05% untuk menyusun proposal/laporan penelitian dan 23,81% untuk menulis makalah, 9,52% untuk meningkatkan pengetahuan, dan 14,29% digunakan untuk lain-lain. Ternyata tak ada informasi yang digunakan sebagai bahan untuk mengajar. Hal ini sesuai dengan deskripsi responden yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa, sehingga informasi umumnya dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar.

Cakupan Bahasa
Hasil kajian menyebutkan bahwa sebagian besar Informasi yang dicari (64,71%) adalah dalam bahasa Indonesia, 35,29% dalam bahasa Inggris, dan tidak ada informasi dalam bahasa lainnya. Keadaan ini menunjukkan bahwa data atau informasi dalam bahasa Indonesia merupakan kebutuhan utama, sekaligus menunjukkan bahwa penguasaan bahasa asing di kalangan pemakai, khususnya mahasiswa, masih terbatas.

Cakupan Bidang Ilmu
Dari jawaban yang terkumpul, dapat diketahui bahwa 27,27% informasi yang dicari adalah bidang umum, 22,73% bidang teknologi/ilmu terapan, 13,64% bidang ilmu sosial, 13,64% bidang ilmu murni/matematika, 9,09% bidang sejarah dan geografi, 4,55% bidang agama, 4,55% seni dan kesusastraan, dan 4,55% bidang lain-lain. Tak ada responden yang mencari informasi di bidang bahasa, filsafat dan psikologi.

Cakupan Tahun Publikasi
Dari data yang dikumpulkan diketahui bahwa tahun publikasi yang banyak dicari oleh responden adalah terbitan tahun 1991 - sekarang (41,18%); 23,53% informasi terbitan sebelum tahun 1951; 5,88% publikasi antara tahun 1961-1970; 11,76% publikasi tahun 1971-1980; dan 17,65% publikasi tahun 1981-1990.
Tadinya kita mengira bahwa koleksi sebelum perang kemerdekaan yang cukup lengkap merupakan koleksi unggulan yang banyak diminati. Tetapi dari data tersebut terlihat bahwa informasi berusia sepuluh tahun terakhir merupakan kebutuhan terbesar, dan pemakaian informasi sebelum tahun 1951 hanya menduduki tempat di urutan ke dua.

Cakupan Jenis Dokumen
Laporan penelitian ternyata merupakan dokumen yang paling banyak dicari oleh responden (25,93%); adapun dokumen lainnya yang diminati secara berturut-turut adalah : makalah seminar (22,22%), tesis/disertasi (18,52%), buku (11,11%), majalah (7,41%), standar/paten (3,70%), surat kabar (3,70%), dan lain-lain (7,41%).

Aktifitas Pencarian Informasi
Berdasarkan jawaban yang ada, dapat diketahui bahwa 7,14% responden ketika mencari informasi melalui mikrofis/film, hanya sekedar membaca; 64,29% responden melakukan kegiatan membaca dan mencatat informasi, dan hanya 28,57% yang meminta petugas untuk mencetak informasi diperoleh melalui mikrofis/film.
Dari data tersebut terlihat bahwa permintaan untuk mencetak kurang dari sepertiga pemakai yang jumlahnya sangat kecil dibandingkan dengan pengunjung perpustakaan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena rendahnya daya beli pemakai yang rata-rata terdiri dari mahasiswa. Kalaupun disediakan mesin pencetak, hampir dapat dipastikan membutuhkan waktu lama untuk kembali modal.

Perolehan Informasi
Hasil kajian menyebutkan bahwa 14,29% responden memperoleh semua informasi yang dibutuhkan dari mikrofis/film, 85,71% responden hanya memperoleh sebagian dari informasi yang dibutuhkan , dan tidak ada responden yang sama sekali tidak memperoleh informasi dari mikrofis/film.

Penyediaan Dana
Sebagain besar responden (64,29%) ternyata mempunyai daya beli informasi yang rendah, yaitu hanya menyediakan dana kurang dari Rp.100.000,- per tahun untuk kegiatan mencari informasi. Sementara 14,29% responden menyediakan dana Rp.100.000,- - Rp.500.000,- 7,14% responden mengalokasikan dana antara Rp.500.000,- - Rp.1.000.000,- per tahun dan 14,29% pemakai tidak menyebutkan dana yang disediakan. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat sebagian besar pemakai terdiri dari mahasiswa.

3. Kendala dalam Penggunaan Mikrofis/film
Pembahasan mengenai kendala dibagi menjadi dua, yaitu kendala yang nyata dialami oleh pemakai langsung dan hambatan yang menyebabkan pemakai enggan memakai mikrofis/film.

Kendala bagi pemakai
Sebagian besar pemakai mikrofis/film (61,54%) ternyata menyatakan mengalami hambatan selama pemakaian, sedangkan sisanya (38,46%) menyatakan tidak mengalami hambatan. Hambatan utama ternyata berkaitan dengan kurang lengkapnya sarana dan kendala yang diakibatkan karena kurang canggihnya teknologi. Secara berurutan kendala tersebut adalah sebagai berikut : cepat melelahkan mata, ruang baca kurang nyaman, hasil fotokopi tidak dapat segera diperoleh, format dan tampilan di layar kurang jelas, membutuhkan banyak waktu, dan biaya cetak cukup mahal. Responden menyangkal bahwa bimbingan petugas kurang memadai dan tidak mengetahui adanya koleksi mikrofis dan mikrofilm di PDII-LIPI.
Kendala tersebut dapat dimengerti mengingat saat penelitian ini dilakukan, gedung PDII sedang direnovasi sehingga penempatan koleksi masih dalam keadaan darurat atau sementara. Disamping itu keadaan mesin pencetak sedang mengalami kerusakan sehingga pencetakan mikrofis/film harus di lakukan di luar. Kendala yang berhubungan dengan kelengkapan sarana dapat diatasi dengan cara menambah dan meningkatkan fasilitas. Tetapi, kendala yang berhubungan dengan kelemahan teknologi, seperti: cepat melelahkan mata, format dan tampilan di layar kurang jelas, membutuhkan banyak waktu dan sejenisnya, sulit untuk diatasi. Hal ini merupakan kekurangan yang harus diterima dan dimaklumi karena teknologi yang digunakan memang sudah kuno apalagi dibandingkan dengan teknologi komputer yang saat ini semakin canggih.
Kendala yang disebabkan karena kelemahan teknologi ini akan selalu menjadi menghambat pemakaian mikrofis/film, walaupun fasilitas telah diperlengkap. Oleh karena itu, selama dokumen cetak tersedia, nampaknya penggunaan mikrofis/film sebagai pilihan terakhir.

Kendala bagi Non Pemakai
Jika Pemakai langsung dapat merasakan kekurangan-kekurangan mikrofis/mikrofilm, maka Non-pemakai hanya dapat merasakan faktor-faktor yang menjadikan mereka enggan menggunakan mikrofis/film. Oleh karena itu dapat dimengerti jika mereka mengemukakan hambatan yang berbeda. Bagi Non-Pemakai faktor utama yang menyebabkan mereka enggan menggunakan mikrofis/film secara berturut-turut adalah: tidak tahu cara menggunakannya, biaya cetak cukup mahal, bimbingan petugas kurang memadai, jumlah alat baca terbatas, sistem peminjaman kurang praktis, tidak mengetahui ada koleksi mikrofis/film di PDII-LIPI dan seterusnya (Lihat Tabel 2).
Dari kendala tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa promosi, pendidikan pemakai, biaya, dan kelengkapan sarana merupakan kendala bagi Non-pemakai. Hal ini dapat diatasi dengan cara meningkatkan promosi dan pendidikan pemakai, dan menambah fasilitas mesin cetak yang mampu mencetak dengan bahan kertas biasa sehingga biaya cetak tidak terlalu mahal.

Tabel 2
Kendala Penggunaan Mikrofis/film


Faktor Penyebab

Nilai Rata-rata
(Pemakai)
N=14

Nilai Rata-rata (Non Pemakai)
N=21

Biaya cetak cukup mahal

0.21

0,67

Tidak mengetahui cara penggunaan mikrofis/film

0.07

0,71

Jumlah alat baca terbatas

0.07

0.48

Sistem peminjaman kurang praktis

0.14

0,43

Ruang baca mikrofis/film kurang nyaman

0.36

0,24

Cepat melelahkan mata

0,36

0,24

Bimbingan petugas kurang memadai

-0,21

0,57

Hasil fotokopi tidak dapat segera diperoleh

0,29

0,19

Membutuhkan banyak waktu

0,21

0,24

Format dan tampilan di layar kurang jelas

0,29

0,14

Tidakmengetahui ada koleksi mikrofis/film di PDII

-0,07

0,33

Kualitas hasil fotokopi kurang memuaskan

0,0

0,05







Keterangan: Angka 1 = Setuju, Angka 0 = Ragu-Ragu, Angka -1 = Tidak Setuju



Kesimpulan
1. Koleksi mikrofis/film di PDII-LIPI belum dimanfaatkan secara optimal. Mereka yang menggunakan koleksi mikrofis/film, sebagian besar mencari informasi 10 tahun terakhir, umumnya berbahasa Indonesia dan sebagian berbahasa Inggris, kebanyakan menyangkut bidang umum dan teknologi. Bentuk dokumen yang dicari kebanyakan berupa laporan penelitian, makalah seminar, tesis dan disertasi. Setengah dari responden menggunakan katalog sebagai sarana temu kembali, dan hanya seperempat pemakai yang minta petugas untuk mencetak dokumen, sementara anggaran yang disediakan untuk membeli informasi sangat terbatas.
2. Kendala yang dialami oleh pemakai antara lain disebabkan karena kurang nyamannya cara penggunaan, kurang lengkapnya fasilitas, dan mahalnya biaya cetak. Sementara Bagi Non-Pemakai kendala yang menyebabkan mereka enggan menggunakan mikrofis/film adalah kurangnya promosi dan pendidikan pemakai, mahalnya biaya cetak, dan kurang lengkapnya fasilitas.

SARAN
Mengingat sedikitnya responden yang berhasil dijaring, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah responden lebih banyak dan lokasi penelitian yang berbeda. Adapun sesuai dengan hasil penelitian di atas, kami sarankan untuk:
1. Meningkatkan kemampuan akses ke koleksi mikrofis/film dengan cara menghimpun semua sarana temu kembalinya kedalam katalog yang ada (OPAC). Hindari adanya indeks yang terpisah, karena akan menyulitkan pemakai maupun petugas.
2. Mengoptimalkan penggunaan peralatan yang ada karena penambahan fasilitas pendukung dipandang tidak efisien mengingat sedikitnya pemakai dan rendahnya daya beli pemakai.
3. Penambahan koleksi dalam bentuk mikro, kecuali untuk tujuan preservasi atau pengawetan, hendaknya dijadikan pilihan terakhir karena ketidaknyamanan penggunaan akan menjadi kendala yang sulit diatasi..
4. Perlu dipikirkan upaya pengawetan dokumen dengan teknologi mutakhir, misalnya CD-ROM, demi mencapai tingkat pemanfaatan yang lebih baik.

Daftar Pustaka
Pengarang (nn). 1978. Proyek Mikrofis Bahan Sumber Tertulis Mengenai Indonesia Sebelum Perang. Berita LIPI, 22 (1):48-49.
Campbell, B.W. 1971. Microfische : A Study of User Attitides and Reading Habits. Special Libraries, 62(3): 136-142.
Christ, JR., C.W. 1972. Microfiche: A Study of User Attitudes and Reading Habits. Journal of The American Society for Information Science, (Jan-Feb) : 34.
PDII-LIPI. 1998. Laporan Tahunan 1997/1998. Jakarta.
Veit, Fritz. 1997. Microforms, Microform Equipment and Microform Use in The Educational Environment. Library Trends, (Apr) : 449-451.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home