Name:
Location: Jakarta, Indonesia

Tuesday, October 31, 2006

PENAMPILAN MAJALAH ILMIAH
: STANDAR DAN PENERAPANNYA*

Sri Purnomowati **


Abstrak

Majalah ilmiah mempunyai peran yang sangat penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan yaitu sebagai media komunikasi ilmiah. Dengan adanya globalisasi informasi, diperlukan adanya standarisasi penerbitan ilmiah. Sehubungan dengan hal itu, Indonesia telah menerbitkan standar penampilan majalah yaitu SNI 19-1950-1990, yang mengacu pada standar internasional ISO 8-1977. Standar tersebut antara lain memuat ketentuan-ketentuan mengenai informasi yang harus tercantum pada halaman sampul, halaman judul, daftar isi, halaman teks, cara menentukan judul majalah, menulis nomor majalah, volume majalah, dan lain-lain. Hasil kajian terhadap 288 judul majalah ilmiah dan semi ilmiah Indonesia menunjukkan bahwa tak satupun terbitan yang sepenuhnya memenuhi standar, dan hanya 10,42% terbitan yang mendekati standar.

Kata Kunci: Scientific publications; Periodicals; Indonesia


Abstract

A Journal plays an important role in the development of science. It functions as a medium of scientific communication. In relation to the emerging of information globalization, there should be a standardization of scientific publications. Responding to this need, Indonesia has published a standard for periodicals presentation SNI 19-1950-1990, having reference to International standards ISO 8-1977. The standard accommodates some rules, such as : which information should be presented on cover page, title page, table of content, content page, how to write the journal title, publication number, publication volume, etc. The study of 288 titles of Indonesian scientific and semi scientific periodicals shows that none of the samples is completely in compliance with the standard, and only 10,42% samples are in almost compliance with the standard.

Key Word : Scientific publications; Periodicals; Indonesia

* Dimuat di Baca 27 (1) 2003: 21-27.
** Peneliti Bidang Dokumentasi dan Informasi di PDII-LIPI
I. PENDAHULUAN
Majalah ilmiah mempunyai peran yang sangat penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, pengelolaan majalah sebagai sumber informasi Iptek perlu mendapatkan perhatian yang serius. Apalagi dengan adanya globalisasi informasi, akses informasi, penyatuan, dan pertukaran informasi di tingkat nasional dan internasional semakin meningkat, sehingga perlu kesamaan persepsi dalam pengelolaannya.
Mungkin masih banyak diantara kita yang belum mengetahui bahwa untuk kepentingan dokumentasi, soal penampilan majalah ini sudah ada aturannya, baik secara nasional maupun internasional. SNI 19-1950-1990, adalah standar nasional untuk penampilan terbitan berkala yang berlaku untuk: majalah, berita, buletin, laporan tahunan, dan lain-lain. Standar nasional tersebut antara lain mengacu pada standar internasional: ISO 8-1977 (Documentation – Presentation of Periodicals). Dalam standar tersebut memuat ketentuan-ketentuan mengenai informasi apa saja yang harus tercantum pada halaman sampul, halaman judul, daftar isi, halaman teks, cara menentukan judul majalah, menulis nomor majalah, volume majalah, dan lain-lain.
Sebagaimana kita ketahui bahwa azas penerapan standar ini adalah sukarela, jadi tidak ada sanksi bagi yang tidak menerapkannya. Namun demikian perlu disadari bahwa penerapan standar perlu dilakukan karena akan menjamin terwujudnya majalah yang konsisten dan taat azas baik di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa contoh keuntungan yang akan diperoleh dengan adanya standar tersebut adalah : 1) terjamin konsistensi mengenai kelengkapan dan penempatan unsur-unsur majalah; 2) kemudahan dalam penjilidan dan penyusunan majalah di rak ; 3) kemudahan dalam memberikan layanan informasi ; 4) kemudahan dalam pemanfaatan dokumen oleh pemakai.
Walaupun telah ada standar penampilan majalah, baik SNI 19-1950-1990 maupun ISO 8-1977 kenyataannya belum banyak masyarakat yang mengetahuinya . Oleh karena itu, ketentuan-ketentuan dalam standar penampilan majalah tersebut perlu disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan penerbitan majalah ilmiah.

II. KETENTUAN-KETENTUAN
Di bawah ini akan dijelaskan ketentuan-ketentuan penting yang perlu diketahui sehubungan dengan penampilan majalah ilmiah yang mengacu pada SNI 19-1950-1990 dan ISO 8-1977. Ketentuan selengkapnya dapat dilihat pada Pedoman Penampilan Majalah Ilmiah Indonesia (Suwahyono, Sri Purnomowati, dan Ginting 2002).
1. Judul majalah
Judul majalah adalah judul seragam pada majalah tersebut. Judul sebaiknya ringkas dan sesuai dengan bidang atau disiplin ilmu serta aktivitas yang dicakup oleh majalah tersebut. Jika judul berupa singkatan dapat ditambahkan sub judul untuk memperjelasnya. Jenis dan ukuran huruf harus konsisten.
2. Volume majalah
Volume majalah adalah nomor yang diberikan pada satu seri majalah untuk jangka waktu tertentu (umumnya satu tahun). Volume majalah hendaknya ditulis menggunakan angka Arab, tidak dengan angka Romawi dan dimulai dengan nomor satu dan seterusnya tanpa terputus.
3. Nomor majalah
Nomor majalah adalah nomor urut yang diberikan untuk setiap majalah dalam satu volume. Nomor majalah hendaknya ditulis dengan angka Arab, diawali dengan nomor 1 untuk terbitan pertama dari setiap volume. Tiap majalah hendaknya hanya memuat satu nomor saja.
4. Waktu terbit
Waktu terbit adalah tahun dan bulan saat majalah tersebut diterbitkan. Tahun terbit sebaiknya mengacu pada tahun yang sedang berjalan dan ditulis dengan angka Arab. Nama bulan, jika dicantumkan di halaman sampul harus dituliskan secara utuh (tidak disingkat).
5. ISSN (International Standard Serial Number)
ISSN adalah nomor standar internasional untuk majalah sebagai nomor pengenal majalah. ISSN harus dicantumkan pada halaman sampul di bagian sudut kanan atas, pada halaman judul dan halaman daftar isi. Format penulisan adalah ISSN XXXX-XXXX
Contoh: ISSN 0853-6031
6. Lajur Bibliografi
Lajur bibliografi adalah lajur yang disediakan untuk keterangan secara rinci mengenai data bibliografi majalah yang dicetak di bagian batas bawah halaman sampul. Lajur bibliografi disiapkan untuk memudahkan penjajaran majalah dan penyusunan sitasi.
7. Penanggungjawab Majalah
Penanggungjawab majalah adalah nama organisasi atau perorangan yang bertanggung jawab atas isi, distribusi dan/atau penerbitan majalah tersebut. Nama organisasi atau lembaga dicantumkan pada halaman judul di tempat yang mudah terlihat, dan setiap kali terbit penempatannya selalu sama.
8. Penerbit
Penerbit adalah nama dan alamat organisasi yang menerbitkan majalah tersebut, hendaknya dicantumkan di halaman judul.
9. Suplemen
Suplemen adalah terbitan yang merupakan bagian atau tambahan suatu majalah yang diterbitkan secara terpisah. Kata suplemen harus dicantumkan di halaman sampul dan halaman pertama teks atau halaman abstrak.
10. Judul Sirahan (Running Title)
Judul Sirahan adalah informasi bibliografi yang dicetak berulang-ulang di setiap halaman teks. Judul sirahan dapat ditempatkan pada pinggir atas atau pinggir bawah halaman yang kosong, pada posisi yang selalu sama setiap kali terbit. Informasi yang harus tercantum dalam halaman genap adalah:
a. Judul majalah atau singkatannya d. Waktu terbit
b. Volume majalah e. Cakupan halaman
c. Nomor majalah
Informasi yang harus tercantum pada halaman ganjil adalah :
a. Judul artikel atau singkatannya
b. Pengarang atau pengarang utama pada karya bersama




III. SISTEMATIKA PENAMPILAN
Majalah ilmiah yang lengkap terdiri dari 6 bagian, yaitu : halaman sampul, halaman judul, halaman daftar isi, halaman teks, lembar abstrak, dan halaman indeks. Unsur-unsur apa saja yang harus ada di masing-masing bagian akan diuraikan di bawah ini.
1. Halaman Sampul
Halaman sampul disebut juga halaman depan, halaman kulit atau cover, adalah halaman paling depan yang memuat identitas suatu majalah. Halaman sampul tidak perlu diberi nomor halaman. Unsur majalah yang harus tercantum disini adalah:
a. Judul majalah d. Waktu terbit
b. Volume majalah e. ISSN
c. Nomor majalah f. Lajur data bibliografi
Nama penerbit dapat juga dicantumkan disini.
2. Halaman Judul
Halaman Judul adalah halaman setelah halaman sampul. Halaman judul harus ada di setiap volume, hendaknya di awal volume. Halaman judul tidak diberi nomor halaman dan tidak diperhitungkan dalam urutan penomoran. Unsur majalah yang harus tercantum disini adalah:
a. Judul majalah e. ISSN
b. Volume majalah f. Penanggung jawab majalah
c. Nomor majalah g. Penerbit
d. Waktu terbit h. Suplemen, jika ada
3. Halaman Daftar Isi
Daftar isi adalah daftar judul artikel dari suatu nomor majalah. Halaman daftar isi harus dicetak di setiap nomor majalah, tidak diberi nomor halaman, dan ditempatkan di halaman pertama setelah halaman judul. Unsur-unsur majalah yang harus tercantum di atas daftar isi :
a. Judul majalah d. Waktu terbit
b. Volume majalah e. ISSN
c. Nomor majalah
Unsur-unsur majalah yang harus tercantum dalam daftar isi:
a. Nama pengarang c. Nomor halaman awal artikel
b. Judul artikel d. Nomor halaman akhir artikel
Selain daftar isi, ada daftar isi kumulatif yaitu lembaran yang memuat kumpulan daftar isi untuk satu volume dan dimuat pada akhir volume.
4. Halaman Teks
Halaman teks adalah halaman dalam majalah yang memuat teks/artikel. Penomoran halaman menggunakan angka Arab, dimulai dari halaman teks pertama dan berkelanjutan dalam satu volume. Unsur majalah yang harus tercantum dalam halaman teks adalah judul sirahan.
5. Lembar Abstrak
Lembar abstrak adalah lembar yang memuat semua abstrak artikel dari suatu majalah.
6. Halaman Indeks
Halaman indeks adalah halaman yang memuat indeks baik kumulatif maupun tahunan yang dimuat pada akhir volume untuk satu tahun periode.

IV. PENERAPAN STANDAR
Karena belum tersosialisasikannya ketentuan-ketentuan dalam standar tersebut serta tidak adanya sanksi-sanksi tertentu, maka sebagian besar penampilan majalah ilmiah Indonesia belum sesuai standar. Hasil kajian Sri Purnomowati dan Yuliastuti (1999) terhadap 288 judul majalah ilmiah dan semi ilmiah Indonesia koleksi PDII-LIPI menunjukkan bahwa tak satupun terbitan yang memenuhi standar, hanya 10,42% terbitan mendekati standar, 85,76% terbitan kurang memenuhi standar, dan 3,82% terbitan tidak mengikuti standar. Majalah terbitan Litbang Perguruan Tinggi, Perguruan Tinggi, Litbang Departemen/LPND dan swasta, nyata menunjukkan kualitas penyajian yang lebih baik dibandingkan dengan majalah terbitan mahasiswa. Tetapi tak ada perbedaan nyata dalam kualitas penyajian antara terbitan : Litbang Perguruan Tinggi, Perguruan Tinggi, Litbang Departemen/LPND, Departemen /LPND, dan terbitan swasta.
Sistematika penampilan majalah Indonesia pada umumnya hanya terdiri dari 4 bagian saja yaitu: halaman sampul, halaman judul, daftar isi dan halaman teks, sedangkan lembar abstrak dan halaman indeks masih jarang ditemukan. Sampai saat ini masih banyak majalah dengan judul yang tidak mencerminkan cakupan bidang ilmu. Penulisan volume seringkali diganti dengan istilah tahun ke, jilid, ataupun edisi, dan masih banyak yang menuliskannya dengan angka Romawi. Demikian pula masih ada majalah yang nomornya berkelanjutan, jadi tidak dimulai dengan nomor satu setiap ganti volume .
Beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam penulisan ISSN adalah penambahan titik dua ( : ), No. dibelakang ISSN. Demikian pula penempatannya kadang tidak sesuai dengan ketentuan, misalnya ISSN dicetak di sebelah kiri atas, tengah bawah, miring dan sebagainya. Sampai saat ini pencantuman lajur bibliografi masih jarang ditemukan. Penomoran halaman teks umumnya tidak berkelanjutan dalam satu volume. Jadi setiap kali terbit satu nomor, nomor halaman dimulai dengan nomor 1.
Pada halaman judul, masih banyak majalah yang tidak mencantumkan lima unsur majalah, yaitu : judul, volume, nomor, waktu terbit, ISSN. Disamping itu, banyak majalah yang menempatkan daftar isi di halaman sampul depan atau belakang. Seringkali ke lima unsur yang harus ada di atas daftar isi, yaitu : judul, volume, nomor, waktu terbit, dan ISSN tidak tercantum. Hal ini akan mengakibatkan majalah kehilangan sumber acuan, jika halaman sampul tidak disertakan dalam penjilidan. Dalam daftar isi, umumnya hanya mencantumkan nomor halaman awal tanpa nomor halaman akhir. Sementara daftar isi kumulatif dalam majalah Indonesia masih jarang. Walaupun banyak majalah yang telah mencantumkan judul sirahan, tetapi umumnya belum sesuai ketentuan.
Umumnya kita berasumsi bahwa majalah terbitan luar negeri tentu lebih baik dan sering dijadikan contoh. Namun demikian, pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Hasil kajian terhadap 102 judul majalah ilmiah terbitan luar negeri koleksi PDII-LIPI (Sri Purnomowati, Yuliastuti, dan Ginting 1999) menunjukkan bahwa penampilan 23,53% majalah asing mendekati standar, sedikit lebih baik dibanding majalah Indonesia yang hanya 10,42%. Ketentuan dalam ISO 8-1977 yang umumnya belum dilaksanakan dengan baik oleh majalah asing adalah: pencantuman ISSN pada halaman sampul, pencantuman volume/nomor terbitan, tahun terbit dan ISSN pada halaman judul, pencantuman ISSN dan nomor halaman akhir artikel pada daftar isi, pencantuman judul sirahan pada halaman teks, pencantuman lembar abstrak dan lajur bibliografi.

PENUTUP
Sebagai upaya sosialisasi dan pembinaan, penerbit majalah ilmiah baru yang minta ISSN akan mendapatkan penjelasan mengenai standar tersebut dan dihimbau untuk mengikutinya. Namun bagi majalah yang telah terlanjur terbit, perbaikan tergantung kesadaran masing-masing penerbit. Jika pembaca ingin penjelasan lebih lanjut mengenai penampilan majalah ilmiah, dapat menghubungi pengelola ISSN di PDII-LIPI.

DAFTAR PUSTAKA
Dewan Standardisasi Nasional. Terbitan Berkala. Standar Nasional Indonesia 19-1950-1990.
International Organization for Standardization. 1977. ISO 8. Documentation-Presentation of periodicals.
Sri Purnomowati; Rini Yuliastuti. 1999. Kesesuaian penyajian majalah ilmiah luar negeri dengan Standar Internasional (ISO 8 – 1977). Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan dan Kearsipan 1 (2) : 94-113.
Sri Purnomowati; Rini Yuliastuti, Maria Ginting. 1999. Kesesuaian penyajian majalah ilmiah Indonesia dengan Standar Nasional Indonesia (SNI 19-1950-1990). Berita Iptek 40 (3) : 69-83.
Suwahyono, Nurasih; Sri Purnomowati; Maria Ginting. 2002. Pedoman penampilan majalah ilmiah Indonesia. Jakarta : PDII-LIPI.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home