Name:
Location: Jakarta, Indonesia

Thursday, October 19, 2006

PENERAPAN ISO 11620-1998 DI PERPUSTAKAAN :
PENGUKURAN TINGKAT PENGGUNAAN FASILITAS
DAN KETERSEDIAAN FASILITAS*

Sri Purnomowati **

Abstrak

Pengukuran fasilitas dimaksudkan untuk menilai apakah fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan benar-benar tersedia untuk pemakai; menilai tingkat penggunaan fasilitas yang disediakan; dan menilai tingkat keterisian kursi/tempat duduk yang disediakan untuk membaca di perpustakaan. Fasilitas yang diukur adalah : kursi, OPAC (Online Public Access Cataloque), mesin fotokopi dan pembaca mikro (microreader). Metode pengukuran menggunakan cara yang tercantum dalam ISO 11620-1998. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa Tingkat Penggunaan OPAC di perpustakaan PDII-LIPI cukup tinggi, sementara Ketersediaan OPAC relatif rendah. Tingkat Penggunaan OPAC terlihat sangat tinggi di ruang referensi dan laporan penelitian, cukup tinggi di ruang majalah, dan relatif rendah di ruang koleksi PIWP. Tingkat Penggunaan mesin fotokopi terlihat sangat tinggi di ruang referensi di sepanjang hari dan di ruang laporan penelitian pada siang dan sore hari, sedangkan layanan fotokopi di ruang majalah terlihat kurang optimal. Walaupun Ketersediaan microreader cukup memadai, tetapi ternyata selama pengamatan, alat tersebut tidak pernah digunakan oleh pengunjung. Jumlah kursi yang disediakan oleh perpustakaan PDII-LIPI lebih dari cukup, dengan rata-rata Tingkat Keterisian Kursi sebesar 24%.

Kata Kunci : Pengukuran kinerja: Ketersediaan Fasilitas, Tingkat
Penggunaan Fasilitas; Tingkat Keterisian Kursi;
ISO 11620-1998; PDII-LIPI; Perpustakaan

Latar Belakang
Pesatnya produksi informasi di dunia dewasa ini, meningkatkan peran perpus-takaan dalam mengelola ilmu pengetahuan. Seiring dengan tuntutan jaman, perpustakaan perlu dikelola dengan lebih profesional menggunakan cara-cara manajemen modern. Menurut Queensland Departement of Education Virtual Library (1995), ukuran kinerja adalah pernyataan kuantitatif secara langsung tentang suatu kegiatan, sedangkan pengertian mengenai kinerja perpustakaan adalah efektivitas jasa
yang disediakan oleh perpustakaan dan efisiensi sumber daya yang dialokasikan dan digunakan untuk menyiapkan jasa tersebut (International Organization for Standardization 1998). Kinerja tidak dapat diukur secara langsung, tetapi melalui faktor-faktor yang dianggap berhubungan dengannya yang disebut indikator kinerja. Jadi indikator kinerja adalah pernyataan numerik, simbol atau verbal yang diperoleh dari statistik dan data perpustakaan yang digunakan untuk memberi ciri terhadap kinerja sebuah perpustakaan (International Organization for Standardization 1998). Suatu kutipan menarik berikut ini dapat menggambarkan pentingnya pengukuran kinerja :
Operating a library without the systematic employment of performance measurement could be compared to the experience of Christopher Columbus : when he set sail he did not know where he was going; when he got there he did not know where he was and when he got back he did not know where he had been, and he did it all on someone else’s money (Queensland Departement of Education Virtual Library 1995).

* Dimuat di Berita Iptek 42(3) 2001: 161-169.
** Peneliti bidang Pusdokinfo di PDII-LIPI

Untuk memenuhi tuntutan tersebut, International Organization for Standardi-zation (1998) telah menerbitkan ISO 11620 mengenai indikator kinerja perpustakaan yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja semua jenis perpustakaan di semua negara. Dalam ISO 11620-1998, terdapat 5 kegiatan, mencakup 12 aspek yang dapat diukur melalui 29 indikator. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa uji coba pengukuran indikator di perpustakaan luar negeri yang serba canggihpun masih terdapat hambatan yang disebabkan karena tidak tersedianya data (Farrel and Wynne 1997).
Sebenarnya para pengelola perpustakaan selama ini sudah biasa mengumpulkan data statistik sebagai bahan laporan tahunan. Menurut ISO 2789-1974 (International Organization for Standardization 1988), statistik perpustakaan mencakup beberapa jenis data, yaitu : jumlah perpustakaan (sebagai unit administrasi atau unit layanan), populasi yang dilayani, jumlah koleksi, tambahan koleksi, jumlah judul majalah yang dilanggan, jumlah anggota perpustakaan, jumlah dokumen yang dipinjam keluar, jasa silang layan dalam negeri, jasa silang layan tingkat internasional, jasa fotokopi, anggaran belanja, dan jumlah pegawai. Walaupun data statistik tersebut cukup membantu, tetapi tidak dapat mencerminkan produktivitas operasional perpustakaan. Dalam pengukuran kinerja, data statistik tersebut dikaitkan satu sama lain, misalnya input dengan output, input dengan penggunaan, output dengan penggunaan atau penggunaan dengan penyebaran sehingga data statistik yang terlihat sama belum tentu menunjukkan kinerja yang sama pula.
Sampai saat ini belum ada pedoman untuk mengukur kinerja perpustakaan yang berlaku secara nasional. Oleh karena itu, pada tahun 2000 PDII-LIPI melakukan studi dalam rangka menentukan indikator yang sesuai untuk mengukur kinerja perpustakaan PDII-LIPI. Hasil studi melaporkan bahwa diantara 29 indikator yang tersedia dalam ISO 11620, terpilih 15 indikator yang akan diukur, yaitu : Kepuasan Pemakai, Persentase Target Pemakai yang Dicapai, Kunjungan ke Perpustakaan per Kapita, Ketersediaan Judul Dokumen, Penggunaan di Perpustakaan per Kapita, Tingkat Penggunaan Dokumen, Peminjaman per Kapita, Tingkat Ketepatan Jawaban yang Diberikan, Tingkat Keberhasilan Penelusuran Melalui Katalog Judul, Tingkat Keberhasilan Penelusuran Melalui Katalog Subyek, Ketersediaan Fasilitas, Tingkat Penggunaan Fasilitas, Tingkat Keterisian Kursi, Ketersediaan Sistem Otomasi, dan Median Waktu Pengolahan Dokumen (Sri Purnomowati 2001a). Selanjutnya pada tahun 2001, PDII-LIPI melakukan uji coba pengukuran indikator kinerja untuk : mengetahui kesulitan dan permasalahan dalam hal pengumpulan data, memperkirakan besarnya waktu dan tenaga yang dibutuhkan, sekaligus mengidentifikasi kejelasan, kelengkapan dan kelemahan instrumen yang termuat dalam ISO 11620-1998. Mengingat adanya keterbatasan dana, waktu, dan tenaga, hanya 8 indikator kinerja dari 15 indikator yang berhasil diujicobakan pada tahun 2001 (Sri Purnomowati 2001b).
Dari delapan indikator kinerja, fasilitas merupakan salah satu aspek kinerja yang perlu diukur dengan tujuan untuk : 1) menilai apakah fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan PDII-LIPI benar-benar tersedia untuk pemakai; 2) menilai tingkat penggunaan fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan PDII-LIPI; dan 3) menilai tingkat keterisian kursi/tempat duduk yang disediakan untuk membaca atau belajar di perpustakaan. Hasil pengukuran tersebut diharapkan dapat bermanfaat dalam: 1) menyediakan sumber informasi untuk mendukung kegiatan monitoring, evaluasi, dan perencanaan; 2) merintis penerapan ISO 11620 untuk mengukur kinerja perpustakaan di Indonesia; dan 3) memberi masukan kepada Badan Standarisasi Nasional dalam rangka penerbitan Standar Nasional Indonesia mengenai indikator kinerja perpustakaan. Dalam hal ini, aspek fasilitas dapat diukur melalui indikator: Ketersediaan Fasilitas, Tingkat Penggunaan Fasilitas, dan Tingkat Keterisian Kursi, sedangkan pengukuran indikator Ketersediaan Sistem Otomasi akan dilakukan pada kegiatan selanjutnya.

Definisi
1. Ketersediaan Fasilitas adalah persentase fasilitas yang tersedia pada waktu pengamatan. Alat-alat yang sedang digunakan oleh pemakai tidak dihitung sebagai sedang tersedia. Demikian pula alat-alat yang sedang rusak, tak dapat dioperasikan, belum dihidupkan atau dimatikan, tidak termasuk kategori tersedia tetapi termasuk dalam jumlah alat secara keseluruhan.
2. Tingkat Penggunaan Fasilitas adalah persentase fasilitas yang digunakan pada waktu pengamatan. Alat-alat yang sedang rusak, tak dapat dioperasikan, belum dihidupkan atau dimatikan, tidak termasuk kategori digunakan tetapi termasuk dalam jumlah alat secara keseluruhan.
3. Tingkat Keterisian Kursi adalah persentase kursi yang digunakan pada waktu pengamatan.

Metodologi
Fasilitas yang diukur adalah alat yang disediakan untuk keperluan pengunjung perpustakaan, sedangkan alat yang disediakan untuk petugas tidak dimasukkan dalam perhitungan. Demikian pula, kursi yang diukur adalah kursi di ruang baca, tidak termasuk kursi petugas, kursi di ruang rapat, dan ruang seminar. Fasilitas yang dimaksud dalam hal ini adalah kursi, katalog berkomputer atau Online Public Access Cataloque (OPAC), mesin fotokopi dan pembaca mikro (microreader). Pengukuran dilakukan terhadap fasilitas di seluruh ruangan perpustakaan PDII-LIPI yang terdiri dari: ruangan koleksi umum dan referensi, koleksi majalah, koleksi laporan penelitian, dan koleksi PIWP (Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan).
Teknik pengukuran menggunakan cara yang tercantum dalam ISO 11620 (Interna-tional Organization for Standardization 1998) dengan rumus perhitungan sebagai berikut.
Ketersediaan Fasilitas adalah :
A/B x 100%
A = Jumlah fasilitas yang tersedia (siap) untuk digunakan
B = Jumlah fasilitas secara keseluruhan
Hasil akhir dibulatkan menjadi angka dengan satu desimal.

Tingkat Penggunaan Fasilitas adalah :
A/B x 100%
A = Jumlah fasilitas yang sedang digunakan
B = Jumlah fasilitas secara keseluruhan
Hasil akhir dibulatkan menjadi angka dengan satu desimal.

Tingkat Keterisian Kursi adalah :
A/B x 100%
A = Jumlah kursi yang sedang digunakan
B = Jumlah kursi secara keseluruhan
Hasil akhir dibulatkan menjadi angka dengan satu desimal.

Pengukuran kinerja dilakukan selama 3 bulan, yaitu bulan Mei-Juli 2001. Setiap bulan dilakukan pengamatan selama 1 minggu (5 hari kerja), yaitu minggu pertama bulan Mei, minggu kedua bulan Juni dan minggu ke tiga bulan Juli 2001. Setiap hari dilakukan 3 kali pengamatan, yaitu 1 jam setelah perpustakaan buka (Jam 9.30), tengah hari (Jam 12.00), dan 1 jam sebelum perpustakaan tutup (Jam 14.30), sehingga diperoleh 45 kali pengamatan. Setiap kali pengamatan dicatat berapa alat yang digunakan, berapa alat yang tersedia (siap digunakan tetapi tidak sedang digunakan) dan berapa jumlah alat secara keseluruhan. Analisis data dilakukan terhadap fasilitas perpustakaan PDII-LIPI secara keseluruhan dan fasilitas perpustakaan di masing-masing ruangan. Pengukuran ketiga indikator ini melibatkan 1 orang peneliti dan 3 orang staf untuk melakukan pengamatan.

Hasil Pengukuran

OPAC (Online Public Access Cataloque)
Untuk melayani pengunjung perpustakaan, PDII-LIPI menyediakan 7 set OPAC dengan rincian : 4 set OPAC di ruang koleksi umum/referensi, 1 set OPAC di ruang koleksi majalah (pada akhir periode pengamatan ditambah 1 set OPAC sehingga berjumlah 2 set OPAC), 1 set OPAC di ruang laporan penelitian, dan 1 set OPAC di ruang koleksi PIWP.
Hasil pengukuran Tingkat Penggunaan OPAC (disingkat Guna) sekaligus Ketersediaan OPAC (disingkat Sedia) di tiap ruang perpustakaan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1
Tingkat Penggunaan dan Ketersediaan OPAC

Ruang
Guna
Pagi
(%)
Sedia
Pagi
(%)
Guna
Siang (%)
Sedia
Siang (%)
Guna
Sore
(%)
Sedia
Sore
(%)
Guna
Rata-2
(%)
Sedia
Rata-2 (%)
Referensi
95,0
5,0
100,0
0,0
96,7
3,3
97,2
2,8
Majalah
44,0
36,0
76,0
4,0
76,0
4,0
65,3
14,7
Laporan
93,9
6,7
100,0
0,0
100,0
0,0
97,8
2,2
PIWP
33,3
66,7
53,3
46,7
33,3
66,7
40,0
60,0
PDII
75,7
20,0
88,7
7,0
84,3
11,3
82,9
12,8

Jika keadaan fasilitas tidak ada masalah seperti: rusak atau tidak siap dioperasikan, maka jumlah OPAC yang digunakan ditambah jumlah OPAC yang tersedia (siap dioperasikan) sama dengan jumlah OPAC secara keseluruhan atau berjumlah 100%. Dari data tersebut di atas dapat diketahui bahwa Tingkat Penggunaan OPAC di Perpustakaan PDII-LIPI cukup tinggi (rata-rata 82,9%), sementara Ketersediaan OPAC relatif rendah (rata-rata 12,8%). Penggunaan tertinggi terjadi pada siang hari, sedangkan pada pagi hari penggunaan OPAC lebih rendah.
Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa Tingkat Penggunaan OPAC di ruang koleksi PIWP tampak belum optimal bahkan paling rendah (rata-rata 40%) atau Ketersediaannya cukup tinggi (rata-rata 60%). Hal ini dapat dimengerti mengingat jumlah pengunjung yang sedikit (kurang dari 10 orang per hari), sehingga jumlah OPAC yang hanya satu set masih cukup memadai.
Ternyata jumlah angka Tingkat Penggunaan dan Ketersediaan OPAC di ruang majalah hanya 80%. Hal ini disebabkan karena pada waktu pengamatan salah satu OPAC yang tersedia sedang rusak sehingga kehilangan 20% kapasitasnya.
Di ruang referensi dan ruang laporan penelitian, terlihat Tingkat Penggunaan OPAC sangat tinggi atau Ketersediaan OPAC sangat rendah bahkan mencapai 0% pada siang hari. Hal ini menunjukkan bahwa pengunjung harus menunggu atau antri jika ingin menggunakannya. Walaupun tidak tercantum dalam instrumen ISO 11620, peneliti melakukan pencatatan jumlah pengunjung yang sedang berdiri untuk antri, untuk mendukung data penggunaan OPAC. Jumlah orang yang antri kemudian dibagi dengan jumlah OPAC yang tersedia disajikan dalam bentuk persen. Hasil pencatatan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2
Antrian Pemakai OPAC
Ruangan
Pagi (%)
Siang (%)
Sore (%)
Rata-2 (%)
Referensi
33,3
60,0
40,0
44,4
Majalah
16,0
68,0
64,0
49,3
Laporan
0,0
66,7
93,3
53,3
PIWP
0,0
13,3
0,0
4,4
PDII
20,9
56,5
47,0
41,47

Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah antrian cukup tinggi, rata-rata mencapai 41,5% dari jumlah komputer secara keseluruhan, bahkan pada jam-jam sibuk mencapai 93,3% yang terjadi di ruang laporan penelitian pada sore hari. Data tersebut tidak termasuk pengunjung yang menunggu sambil duduk atau sambil mengerjakan hal-hal lain. Dari data antrian tersebut dapat memberikan gambaran kasar mengenai berapa jumlah komputer yang perlu ditambahkan untuk meniadakan antrian dan meningkatkan ketersediaan OPAC.

Mesin Fotokopi
Secara keseluruhan, perpustakaan PDII-LIPI menyediakan 4 buah mesin fotokopi dengan rincian : 2 mesin fotokopi di ruang koleksi umum/ referensi, 1 mesin fotokopi di ruang koleksi majalah, dan 1 mesin fotokopi di ruang laporan penelitian. Dalam hal ini, 2 mesin fotokopi yang disediakan untuk keperluan karyawan tidak ikut diperhitungkan.
Hasil pengukuran Tingkat Penggunaan mesin fotokopi (disingkat Guna) sekaligus Ketersediaan mesin fotokopi (disingkat Sedia) di tiap ruang perpustakaan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3
Tingkat Penggunaan dan Ketersediaan Mesin Fotokopi

Ruang
Guna
Pagi
(%)
Sedia
Pagi
(%)
Guna
Siang
(%)
Sedia
Siang
(%)
Guna
Sore
(%)
Sedia
Sore
(%)
Guna
Rata-2
(%)
Sedia
Rata-2
(%)
Referensi
90,0
0,0
86,7
0,0
96,7
0,0
91,1
0,0
Majalah
0,0
53,3
6,7
6,7
53,3
6,7
20,0
22,2
Laporan
0,0
100,0
100,0
0,0
100,0
0,0
66,7
33,3
PDII
45,0
38,3
70,0
1,7
86,7
1,7
67,2
5,6

Jika keadaan fasilitas tidak ada masalah seperti: rusak, tak ada petugas, atau belum siap dioperasikan, maka jumlah mesin fotokopi yang digunakan ditambah jumlah mesin fotokopi yang tersedia (siap dioperasikan) sama dengan jumlah mesin fotokopi secara keseluruhan atau berjumlah 100%.
Dari data tersebut di atas dapat diketahui bahwa Tingkat Penggunaan mesin fotokopi terlihat sangat tinggi dan Ketersediaannya sangat rendah di ruang umum/ referensi sepanjang hari, dan di ruang laporan penelitian pada siang dan sore hari. Penggunaan mesin fotokopi di ruang majalah dan di ruang laporan penelitian pada pagi hari umumnya masih nol, kemungkinan karena pengunjung baru datang dan sedang dalam tahap pencarian dokumen, atau petugas fotokopi belum siap di tempat.
Data pada Tabel 3 menunjukkan bahwa layanan fotokopi di ruang majalah belum optimal karena Tingkat Penggunaan rata-rata hanya 20%, sementara Ketersediaan mesin fotokopi rata-rata hanya 20,2%. Hal ini disebabkan karena petugas yang berhalangan hadir, cuti ataupun istirahat makan, tidak disediakan penggantinya.
Hasil pengamatan dengan metode ini ternyata hanya diperoleh gambaran penggunaan mesin fotokopi secara kasar. Untuk memperoleh data Tingkat Penggunaan dan Ketersediaan yang lebih akurat dapat digunakan cara kedua dari ISO 11620 yaitu mendaftar atau mencatat penggunaan/ketersediaan mesin fotokopi tersebut dalam satu periode pemantauan tertentu dengan perhitungan sebagai berikut.
Tingkat Penggunaan/Ketersediaan mesin fotokopi adalah :
A/B x 100%
A = Jumlah waktu dimana mesin fotokopi digunakan/tersedia.
B = Jumlah waktu pengamatan secara keseluruhan.
Hasil akhir dibulatkan menjadi angka dengan satu desimal.

Alat Pembaca Mikro (Microreader)
Perpustakaan PDII-LIPI menyediakan 2 buah microreader untuk keperluan pengunjung perpustakaan yang ditempatkan di ruang laporan penelitian. Dari 2 alat tersebut hanya satu mesin yang siap dioperasikan sedangkan satu alat tidak siap dioperasikan terbukti dari kabel yang tergulung dan tidak terhubung dengan saluran listrik.
Hasil pengukuran Tingkat Penggunaan microreader (disingkat Guna) sekaligus Ketersediaan microreader (disingkat Sedia) dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4
Tingkat Penggunaan dan Ketersediaan Microreader

Ruang
Guna
Pagi
(%)
Sedia
Pagi
(%)
Guna
Siang
(%)
Sedia
Siang (%)
Guna
Sore
(%)
Sedia
Sore
(%)
Guna
Rata-2
(%)
Sedia
Rata-2
(%)
PDII
0,0
50,0
0,0
50,0
0,0
50,0
0,0
50,0

Dari data tersebut di atas terlihat bahwa Tingkat Penggunaan microreader setiap saat baik pagi, siang ataupun malam ternyata 0%, sementara 50% dari microreader yang disediakan oleh perpustakaan (satu diantara dua microreader) siap digunakan oleh pengunjung.
Dari data tersebut di atas dapat diketahui bahwa selama pengamatan, microreader yang disediakan di perpustakaan tidak pernah digunakan oleh pengunjung. Dengan kata lain, koleksi mikrofis/mikrofilm selama ini juga tidak dimanfaatkan. Hal ini mendukung penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa penggunaan koleksi mikrofis dan mikrofilm belum optimal (Sri Purnomowati dan Rini Yuliastuti 1999).

Kursi/Tempat Duduk
Secara keseluruhan perpustakaan PDII-LIPI menyediakan 144 buah kursi untuk keperluan membaca di perpustakaan dengan rincian : 35 buah kursi di ruang koleksi umum, 37 buah kursi di ruang koleksi referensi, 41 buah kursi di ruang koleksi majalah, 19 buah kursi di ruang laporan penelitian, dan 12 buah kursi di ruang koleksi PIWP. Kursi yang disediakan untuk keperluan karyawan, tamu, rapat, pertemuan/seminar, tidak ikut diperhitungkan.
Dalam ISO 11620 penggunaan kursi dijadikan indikator tersendiri, yaitu Tingkat Keterisian Kursi (Seat Occupancy Rate). Hasil pengukuran Tingkat Keterisian Kursi pada Tabel 5 menunjukkan bahwa penggunaan kursi di semua ruangan perpustakaan PDII-LIPI terlihat belum optimal. Dengan kata lain, kursi yang disediakan masih lebih dari cukup walaupun pada jam-jam sibuk sekalipun. Tingkat Keterisian Kursi tertinggi mencapai 48,2% terjadi di ruang koleksi majalah pada siang hari, sedangkan Tingkat Keterisian Kursi terendah mencapai 3, 9% terjadi di ruang koleksi laporan penelitian pada pagi hari (1jam setelah perpustakaan buka). Berarti, sampai saat ini perpustakaan PDII-LIPI belum perlu merencanakan penambahan kursi untuk keperluan pengunjung perpustakaan.

Tabel 5
Tingkat Keterisian Kursi

Ruangan
Jumlah
Kursi
Pagi
(%)
Siang
(%)
Sore
(%)
Rata-2
(%)
Umum
35
15,2
33,0
27,2
25,1
Referensi
37
9,0
25,6
15,7
16,8
Majalah
41
9,2
48,2
40,8
32,7
Laporan
19
3,9
33,7
26,0
21,2
PIWP
12
9,0
24,0
21,5
18,2
PDII
144
9,9
34,6
27,4
24,0


Kesimpulan
1. Tingkat Penggunaan OPAC di PDII-LIPI cukup tinggi (rata-rata 82,9%), sementara Ketersediaan OPAC relatif rendah (rata-rata 12,8%). Penggunaan OPAC terlihat sangat tinggi di ruang referensi dan laporan penelitian, cukup tinggi di ruang majalah, dan relatif rendah di ruang koleksi PIWP. Sementara Ketersediaan OPAC umumnya rendah kecuali di ruang koleksi PIWP dan di ruang majalah pada pagi hari.
2. Penggunaan mesin fotokopi terlihat sangat tinggi di ruang referensi di sepanajang hari dan di ruang laporan penelitian pada siang dan sore hari. Ketersediaan mesin fotokopi terlihat cukup tinggi di ruang majalah dan laporan penelitian di pagi hari. Sementara itu, layanan fotokopi di ruang majalah terlihat kurang optimal.
3. Microreader yang disediakan di ruang laporan penelitian tidak pernah digunakan oleh pengunjung walaupun Ketersediaannya cukup memadai.
4. Jumlah kursi yang disediakan oleh perpustakaan PDII-LIPI untuk keperluan pengunjung perpustakaan lebih dari cukup, dengan Tingkat Keterisian Kursi berkisar antara 3,9% - 48,2% atau rata-rata sebesar 24%.

Saran
Pengukuran indikator Ketersediaan Fasilitas, Tingkat Penggunaan Fasilitas, dan Tingkat Keterisian Kursi, dapat dilakukan secara reguler dan dilaksanakan oleh unit kerja terkait.
Perlu dilakukan penambahan jumlah OPAC di ruang umum/referensi, ruang laporan penelitian, dan ruang majalah, berjumlah sekitar 100% dari jumlah OPAC yang ada saat ini.
Perlu mengoptimalkan penggunaan mesin fotokopi di ruang majalah dengan cara menyiapkan petugas pengganti jika yang bersangkutan berhalangan hadir atau istirahat, sementara penambahan mesin fotokopi di ruangan lain perlu pengkajian lebih lanjut.
Perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan pemanfaatan koleksi mikrofis dan mikrofilm, misalnya dengan cara meningkatkan kemudahan akses, melalui promosi, ataupun pendidikan pemakai.

Daftar Pustaka
Farrel, Jack O and Peter Wynne. 1997. Evaluation and quality in library performance: sistem for Europe.Http://roxy.dcu.ie/library/eqlipse.

International Organization for Standardization. 1998. Information and documentation-Library performance indicators: ISO 11620-1998 (E).

International Organization for Standardization. 1988. International library statistic: ISO 2789-1974. In Documentation and information: ISO Standards handbook 1, 3 rd ed., 562-565. Geneva: International Organization for Standardization.

Queensland Departement of Education Virtual Library. 1995. Measuring quality and productivity: performance measures for non school libraries. http://www. qednsl.gld.gov.au.

Sri Purnomowati dan Rini Yuliastuti. 1999. Pemanfaatan mikrofis dan mikrofilm koleksi PDII-LIPI. Baca 24 (1-2) : 1-8.

Sri Purnomowati. 2001a. Penerapan ISO 11620-1998 di perpustakaan : pemilihan indikator kinerja (Belum dipublikasikan).

Sri Purnomowati. 2001b. Penerapan ISO 11620-1998 di perpustakaan : uji coba pengukuran delapan indikator kinerja (Belum dipublikasikan).

0 Comments:

Post a Comment

<< Home