Name:
Location: Jakarta, Indonesia

Thursday, October 19, 2006

POLA KEPENGARANGAN DAN POLA PENGGUNAAN LITERATUR
DI BIDANG FISIKA

Sri Purnomowati *

Abstrak

Kajian dilakukan terhadap dua judul majalah Indonesia di bidang fisika terbitan tahun 1996–2000, terdiri dari 22 nomor terbitan dengan 101 judul artikel. Setiap nomor majalah rata-rata memuat 4,59 artikel dengan panjang artikel rata-rata 6,53 halaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepengarangan di bidang fisika masih didominasi oleh kaum pria, dengan tingkat kolaborasi yang cukup tinggi. Rata-rata jumlah pengarang per artikel mencapai 2,41 dan jumlah artikel karya pengarang ganda mencapai 67,33%. Produktivitas pengarang dilaporkan sebesar 33,76%, sedangkan subjek yang paling banyak ditulis adalah masalah kelistrikan dan elektronika. Setiap artikel rata-rata memuat 9,96 referensi, 12,13% di antaranya berupa otositiran, dan 58,42% artikel memuat otositiran. Sebagian besar sitiran (86,18%) berupa literatur asing, dan majalah merupakan jenis dokumen yang paling banyak dijadikan acuan. Majalah asing yang sering disitir adalah Physical Review, Geophysics dan Journal of Physics, sementara pengarang asing yang sering disitir adalah K Vozoff. Tak tampak adanya sitiran kepada majalah dan pengarang Indonesia dengan frekuensi yang cukup menyolok. Median usia sitiran di bidang fisika dilaporkan sebesar 10 tahun.

Kata kunci: Pola kepengarangan, Pola sitiran,
Majalah Indonesia bidang fisika



LATAR BELAKANG

Melimpahnya produksi informasi di dunia, menuntut para pengelola informasi untuk lebih selektif dalam memilih informasi yang diperlukan. Dengan meningkatnya nilai tukar rupiah terhadap uang asing maka harga literatur menjadi semakin mahal. Apalagi anggaran yang disediakan oleh pemerintah untuk pengadaan koleksi perpustakaan semakin terbatas, sehingga keputusan untuk pembelian koleksi harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Agar koleksi yang disediakan di perpustakaan digunakan secara optimal, maka perlu dilakukan identifikasi kebutuhan pemakai dan identifikasi ciri-ciri literatur yang digunakan oleh pemakai. Dengan demikian penggunaan dana pembelian koleksi akan lebih efektif dan efisien.
Sebagaimana diketahui bahwa masing-masing bidang ilmu mempunyai ciri masing-masing dalam menggunakan literatur. Sebagai contoh, jenis dokumen yang digunakan oleh peneliti di bidang ilmu-ilmu sosial berbeda dengan jenis dokumen yang digunakan oleh peneliti di bidang teknologi, demikian pula dengan kemutakhiran dokumen yang digunakan. Mengingat adanya perbedaan kondisi lingkungan, besar kemungkinan ciri-ciri tersebut berbeda antara negara yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu perlu diketahui ciri-ciri penggunaan literatur di masing-masing bidang ilmu. Apakah ciri-ciri penggunaan literatur di Indonesia sama dengan di luar negeri?

* Peneliti Muda di PDII-LIPI

Akhir-akhir ini metode bibliometrika yaitu penerapan metode matematika dan statistika untuk buku dan media komunikasi lain, telah digunakan secara luas. Selain sebagai metode kajian yang bersifat deskriptif, bibliometrika juga digunakan sebagai metode kajian yang bersifat evaluatif seperti mengkaji penggunaan literatur melalui analisis sitiran. Dalam hal ini, jenis dokumen yang dijadikan bahan kajian adalah majalah karena merupakan wadah untuk menyajikan hasil-hasil penelitian yang bersifat mutakhir, terbit teratur dan dipublikasikan secara luas. Melalui artikel yang dimuat dalam majalah dapat diketahui pula profil dan kinerja para peneliti di bidang masing-masing. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan, ciri-ciri kepengarangan di berbagai bidang ilmu juga berbeda satu sama lain. Tingkat kolaborasi pengarang di bidang ilmu sosial misalnya, dinyatakan lebih rendah dibanding ilmu lainnya.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia terdiri dari lima Kedeputian, yaitu Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian, Ilmu Pengetahuan Hayati, Ilmu Pengetahuan Teknik, Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusian, serta Jasa Ilmiah, yang masing-masing membawahi Pusat-Pusat Penelitian di bidang ilmu terkait. Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) merupakan salah satu lembaga di bawah LIPI yang bertugas untuk menyediakan informasi yang diperlukan oleh para peneliti. Oleh karena itu, PDII-LIPI sangat berkepentingan untuk mengetahui ciri-ciri kepengarangan, ciri-ciri literatur yang diperlukan maupun ciri-ciri literatur yang digunakan oleh para peneliti di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Informasi tersebut tidak hanya berguna bagi PDII-LIPI untuk mendukung tugas dan fungsinya, tetapi juga akan berguna bagi para pengelola informasi serta masyarakat ilmiah di Indonesia. Penelitian pola kepengarangan dan pola penggunaan literatur pertama kali dilakukan terhadap majalah ilmiah bidang ilmu-ilmu sosial, dan dilanjutkan pada bidang-bidang ilmu lainnya, antara lain adalah bidang fisika.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ciri-ciri kepengarangan dalam majalah bidang fisika dan mengetahui ciri-ciri penggunaan literatur oleh pengarang bidang fisika. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pimpinan lembaga penelitian untuk mendukung fungsi perencanaan dan evaluasi; bahan masukan bagi pimpinan perpustakaan untuk mendukung kebijakan pengadaan dan pengembangan koleksi, dan sebagai sumber informasi bagi para pengarang di bidang fisika sehubungan dengan kontribusinya dalam memajukan ilmu pengetahuan.


TINJAUAN LITERATUR

Kepengarangan
Beberapa hasil penelitian terhadap majalah Indonesia menunjukkan bahwa kepengarangan di beberapa bidang ilmu masih didominasi oleh kaum pria, yaitu berjumlah 59,12% pada majalah bidang perpustakaan Baca terbitan tahun 1974-1999 (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000), berjumlah 78,18% pada tiga majalah bidang dokumentasi dan informasi terbitan tahun 1991-1995 (Sri Purnomowati 2001), dan berjumlah 73,97% pada majalah bidang ilmu-ilmu sosial Masyarakat Indonesia terbitan tahun 1991-1995 (Sri Purnomowati 2002). Dominasi pengarang pria ternyata juga terjadi di luar negeri sebagaimana dilaporkan oleh Raptis (1992) serta Cunningham dan Dillon (1997). Namun demikian, kontribusi pengarang wanita dari tahun ke tahun dilaporkan cenderung mengalami kenaikan (Lipetz 1999).
Jenis pekerjaan pengarang maupun lembaga tempat bekerja pengarang tampaknya sangat dipengaruhi oleh jenis penerbit majalah yang bersangkutan. Dalam majalah Baca terbitan PDII-LIPI, 75,47% pengarang adalah pustakawan dan 69,18% berasal dari PDII-LIPI sendiri (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000). Dalam tiga judul majalah bidang dokumentasi dan informasi, 69,01% pengarang terdiri dari pustakawan dan 55,63% bekerja di lembaga departemen/non departemen (Sri Purnomowati 2001). Adapun dalam majalah Masyarakat Indonesia terbitan LIPI, 72,60% pengarang adalah peneliti dan 65,75% berasal dari LIPI (Sri Purnomowati 2002).
Salah satu ciri kepengarangan adalah kolaborasi, yaitu proses kerjasama antara ilmuwan dalam usahanya untuk mengkoordinasikan kecakapan, peralatan ataupun imbalan. Kolaborasi dapat diukur melalui : 1) Derajad Kolaborasi yaitu proporsi artikel pengarang ganda dalam keseluruhan artikel contoh. 2) Indeks kolaborasi yaitu rata-rata jumlah pengarang per artikel untuk keseluruhan artikel contoh. 3) Koefisien Kolaborasi yaitu rata-rata proporsi jumlah artikel dengan tiap nomor pengarang dan nilai di atur antara 0 sampai 1 (Gupta, Kumar dan Karisiddappa 1997).
Dinyatakan oleh Cuningham dan Dillon (1997) bahwa proporsi tinggi pada karya pengarang ganda adalah ciri ilmu pengetahuan alam dan fisika karena kerumitan dan mahalnya instrumen. Sebaliknya proporsi kepengarangan tunggal lebih tinggi pada ilmu sosial/kemanusiaan dan filsafat. Sebagai perbandingan, pada awal tahun tujuh puluhan kepengarangan ganda di bidang kimia adalah 83%, biologi 70%, fisika 67%, matematik 15% dan sejarah 4% (Meadows dalam Haan 1997).
Beberapa hasil penelitian terhadap majalah Indonesia menunjukkan bahwa tingkat kolaborasi pengarang khususnya di bidang sosial dan perpustakaan termasuk rendah. Artikel karya pengarang ganda dalam majalah Baca hanya 8,97% (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000), dalam tiga judul majalah bidang dokumentasi dan informasi hanya 9,23% (Sri Purnomowati 2001), dan dalam majalah Masyarakat Indonesia hanya 8,96% (Sri Purnomowati 2002).
Indeks Kolaborasi atau rata-rata jumlah pengarang per artikel dalam majalah Baca hanya 1,05 (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000), dalam tiga judul majalah bidang dokumentasi dan informasi 1,07 (Sri Purnomowati 2001), dan dalam majalah Masyarakat Indonesia 1,09 (Sri Purnomowati 2002). Indeks kolaborasi dari beberapa disiplin ilmu dilaporkan sebesar 3,34 dalam literatur biomedik (Steinberg dan Rossouw 1995), sebesar 2,34 pada majalah Genetics tahun 1916-1980 (Gupta, Kumar, dan Karisiddappa 1997), dan sebesar 1,86 pada Journal of Documentary Reproduction terbitan tahun 1916-1980 (Walker 1997).
Ciri-ciri kepengarangan lainnya adalah produktivitas pengarang yang dapat dihitung dari jumlah pengarang yang menulis dua artikel atau lebih, dibagi jumlah semua nama pengarang yang muncul, disajikan dalam bentuk persen. Produktivitas pengarang dalam majalah Baca dilaporkan sebesar 41,56% (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000), dalam tiga judul majalah bidang dokumentasi dan informasi sebesar 29,67% (Sri Purnomowati 2001) dan dalam majalah Masyarakat Indonesia sebesar 9,23% (Sri Purnomowati 2002).
Sementara itu, hasil penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa sebagian besar pengarang hanya menghasilkan satu artikel dan hanya sedikit pengarang yang menghasilkan lebih dari satu artikel (Walker 1997). Dalam majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi, hanya 8,30% pengarang yang menulis lebih dari satu artikel (Raptis 1992).

Penggunaan Literatur
Pola penggunaan literatur dapat diketahui melalui analisis sitiran. Jumlah sitiran dalam majalah Baca dilaporkan berkisar antara 0-45 atau rata-rata sebesar 4,04 (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000), dalam tiga judul majalah bidang dokumentasi dan informasi berkisar antara 0-45 atau rata-rata sebesar 5,47 (Sri Purnomowati 2001) dan dalam majalah Masyarakat Indonesia berkisar antara 0-158 atau rata-rata sebesar 24,91 (Sri Purnomowati 2002). Dalam majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi di luar negeri, rata-rata jumlah sitiran per artikel adalah 16,78 sedangkan 11,73% artikel tidak punya sitiran (Raptis 1992). Penelitian terhadap majalah JASIS menunjukkan adanya kenaikan jumlah sitiran per artikel dari tahun ke tahun (Lipetz 1999).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, jenis dokumen yang banyak disitir di Indonesia umumnya adalah buku. Dalam majalah Baca sitiran berupa buku mencapai 48,20% (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000), dalam tiga judul majalah bidang dokumentasi dan informasi sebesar 57,16% (Sri Purnomowati 2001) dan dalam majalah Masyarakat Indonesia mencapai 64,05% (Sri Purnomowati 2002). Lain halnya dengan di luar negeri, menurut Raptis (1992) jenis dokumen yang paling banyak disitir adalah majalah yaitu mencapai 41,01%.
Penelitian Sellen terhadap dua majalah perpustakaan dalam Raptis (1992) melaporkan bahwa monografi atau artikel majalah yang disitir berusia sekitar 8 tahun atau kurang. Sementara median usia dokumen yang disitir dalam majalah Baca (bidang perpustakaan) adalah 5 tahun, dalam tiga judul majalah bidang dokumentasi dan informasi adalah 6 tahun, dalam majalah Masyarakat Indonesia (bidang ilmu-ilmu sosial) mencapai 11 tahun.
Kebiasaan menyitir karya sendiri atau otositiran terungkap dari hasil penelitian Raptis (1992) dan Lipetz (1999). Penelitian terhadap 5 majalah internasional di bidang perpustakaan dan informasi menunjukkan bahwa 27,60% artikel ternyata menyitir karya sendiri (Raptis 1992). Sementara itu, penelitian Lipetz (1999) terhadap majalah JASIS menunjukkan bahwa jumlah artikel yang menyitir karya sendiri semakin banyak. Dalam majalah Baca jumlah artikel yang memuat otositiran mencapai 10,60%, sedangkan dalam tiga judul majalah bidang dokumentasi dan informasi mencapai 16,42%, dan dalam majalah Masyarakat Indonesia mencapai 35,82%.

METODOLOGI

Penelitian ini menggunakan cara bibliometrika, terdiri dari deskripsi kepengarang -an dan analisis sitiran. Bahan kajian ini terdiri dari 2 judul majalah ilmiah Indonesia di bidang fisika terbitan tahun 1996-2000, mewakili penerbit perguruan tinggi dan penerbit lembaga penelitian non departemen.
Majalah Kontribusi Fisika Indonesia (selanjutnya disingkat KFI) terbitan Institut Teknologi Bandung (ITB) dipilih karena telah terakreditasi oleh DIKTI, dan majalah Telaah terbitan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dipilih karena merupakan salah satu dari sedikit majalah fisika yang memperoleh klasifikasi ilmiah oleh P2JP-LIPI.
Periode terbitan ditentukan selama 5 tahun, dari tahun 1996 - 2000 karena cukup mutakhir ditinjau dari informasi yang terkandung didalamnya dan cukup terjamin ketersediaannya dalam koleksi.

Batasan Istilah
1. Pola kepengarangan yang diteliti mencakup: jenis kelamin pengarang, enis pekerjaan pengarang, lembaga tempat bekerja pengarang, tingkat kolaborasi pengarang, produktivitas pengarang, subjek artikel.
2. Pola penggunaan literatur yang diteliti mencakup : jumlah sitiran, jenis dokumen yang disitir, usia dokumen yang disitir, jumlah sitiran pada karya sendiri (otositiran), nama pengarang yang banyak disitir, dan judul majalah yang banyak disitir.
3. Pengarang adalah individu yang tercantum di bawah judul karangan atau artikel. Perhitungan menggunakan sistem Normal Count (Diodato 1994) yaitu setiap pengarang dianggap menulis satu artikel tanpa membedakan apakah dia pengarang utama atau kopengarang.


HASIL PENELITIAN

Deskripsi Artikel
Responden dalam penelitian ini adalah 2 judul majalah ilmiah Indonesia di bidang fisika, mewakili terbitan perguruan tinggi dan terbitan Lembaga Pemerintah Non Departemen (Lihat Tabel 1).
Tabel 1
Sumber Data
Judul Majalah
Lembaga Penerbit
ISSN
Tahun Terbit
Telaah
Puslitbang Fisika Terapan-LIPI
0125-9121
1996-2000
Kontribusi Fisika Indonesia (KFI)
Jurusan Fisika FMIPA-ITB
0854-6878
1996-2000

Terbitan yang dikaji mencakup 22 nomor majalah, memuat 101 judul artikel. Dengan demikian, setiap nomor terbitan rata-rata memuat 4,59 artikel, dan setiap artikel rata-rata terdiri dari 6,53 halaman. Artikel berbahasa Inggris mencapai 15,84% dari keseluruhan artikel.

Pola Kepengarangan
Pola kepengarangan yang akan diuraikan disini mencakup semua informasi yang berkaitan dengan pengarang, yaitu: jenis kelamin, jenis pekerjaan, lembaga tempat berkerja, subjek tulisan, tingkat kolaborasi dan produktivitas.

a. Jenis Kelamin
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengarang pria umumnya masih mendo-minasi kepengarangan di bidang fisika. Dari 101 artikel yang dievaluasi, terdata 243 nama pengarang, terdiri dari 183 nama pria (75,31%), 58 nama wanita (23,87%), dan 2 nama pengarang (0,82%) tak diketahui jenis kelaminnya. Dominasi kepengarangan pria ini semakin menyolok di kalangan majalah terbitan perguruan tinggi (KFI), yaitu mencapai 80,82%.

b. Lembaga Tempat Bekerja
Hasil analisa data menunjukkan bahwa pengarang yang bekerja di perguruan tinggi lebih banyak (67,49%) dibanding lembaga departemen/LPND (31,69%), sementara 2 orang pengarang (0,82%) tak diketahui tempat bekerjanya.

c. Subjek Artikel
Dalam penelitian ini, identifikasi subyek artikel menggunakan klasifikasi persepuluhan Dewey. Bidang fisika bergerak diantara klas 530 sampai 539, sementara fisika terapan berkisar di klas 621. Subjek yang paling banyak ditulis ternyata adalah mengenai kelistrikan/elektronika. Perlu dilaporkan bahwa artikel dalam majalah Telaah ternyata tidak hanya menyangkut bidang fisika terapan, tetapi juga bidang-bidang lain seperti: teknologi, bioteknologi dan kimia.

d. Kolaborasi
Sebagaimana diuraikan di atas bahwa kolaborasi pengarang dapat diukur melalui Derajad Kolaborasi yaitu proporsi artikel karya pengarang ganda dalam keseluruhan artikel contoh; dan Indeks kolaborasi yaitu rata-rata jumlah pengarang per artikel untuk keseluruhan artikel contoh. Dalam bidang fisika, rata-rata jumlah pengarang per artikel mencapai 2,41, sedangkan jumlah artikel karya pengarang ganda dalam kedua majalah bidang fisika tersebut mencapai 67,33%.

e. Produktivitas
Dari 101 artikel yang diteliti, terdapat 243 nama pengarang yang terdiri dari 157 nama orang yang berbeda, 104 orang diketahui menulis satu judul artikel, dan 53 orang menulis lebih dari 1 judul artikel. Dengan kata lain, produktivitas pengarang (jumlah pengarang yang menulis dua artikel atau lebih, dibagi dengan jumlah semua nama pengarang yang muncul) sebesar 33,76%.

Pole Penggunaan Literatur
Pola penggunaan literatur dalam penelitian ini dilihat melalui analisis sitiran, mencakup : jumlah sitiran, jenis dokumen yang disitir, asal dokumen, usia sitiran, majalah yang disitir, dan pengarang yang sering disitir.

a. Jumlah Sitiran
Dari 101 judul artikel, berhasil diidentifikasi 1.006 sitiran, setiap artikel memuat 2 - 28 sitiran atau rata-rata 9,96 sitiran per artikel. Jumlah otositiran mencapai 12,22% dari keseluruhan referensi, dan jumlah artikel yang memuat otositiran mencapai 58,42% dari keseluruhan artikel.

b. Jenis Dokumen
Hasil penelitian menunjukkan bahwa majalah merupakan jenis dokumen yang paling banyak dijadikan referensi yaitu mencapai 52,09%, kemudian buku 29,72%, makalah/prosiding 7,46%, laporan penelitian 6,06%, tesis/disertasi 2,39% dan dokumen lain-lain 2,28% (Lihat Grafik 1).

c. Asal Dokumen
Hasil penelitian menunjukkan bahwa literatur bidang fisika sangat tergantung dengan sumber-sumber informasi terbitan asing. Perlu dilaporkan bahwa 86,18% sitiran berupa dokumen terbitan asing, sedangkan sitiran terhadap dokumen terbitan dalam negeri hanya 13,82%.

Grafik 1. Jenis dokumen yang disitir

d. Usia Sitiran
Dari 1.006 sitiran, diketahui bahwa 27 sitiran (2,68%) tanpa tahun, 23,46% dokumen berusia 0-4 tahun, 22,46% dokumen berusia 5-9 tahun, 19,98% dokumen berusia 10-14 tahun, 11,33% dokumen berusia 15-19 tahun, 7,06% dokumen berusia 20-24 tahun, 4,87 % dokumen berusia 25-29 tahun, 3,78% dokumen berusia 30-34 tahun, 4,37% dokumen berusia lebih dari 34 tahun. Dari data tersebut diperoleh median usia sitiran sebesar 10 tahun.

e. Majalah yang Disitir
Dari 1.006 sitiran, dokumen berupa majalah disitir 523 kali. Dari jumlah tersebut, majalah Indonesia disitir 35 kali (6,69%), terdiri dari 11 judul majalah, dan majalah asing disitir 488 kali (93,31%), terdiri dari 160 judul majalah. Majalah asing yang paling sering disitir adalah Physical Review (disitir 67 kali), kemudian Geophysics (disitir 30 kali) dan Journal of Physics (disitir 27 kali), Journal of Applied Physics (disitir 19 kali), Physics Letters (disitir 17 kali).

f. Pengarang yang Disitir
Dari 1.006 sitiran, teridentifikasi 1.455 orang pengarang yang terdiri dari 152 orang (10,45%) pengarang Indonesia dan 1.303 orang (89,55%) pengarang asing. Jika dilacak lebih lanjut, sitiran kepada pengarang Indonesia tersebut umumnya berupa otositiran atau menyitir diri sendiri. Sebaliknya, pengarang asing sangat berperan sebagai bahan referensi, bahkan beberapa pengarang memperoleh sitiran dengan frekuensi yang cukup menyolok, seperti K. Vozoff (disitir 15 kali). Diantara nama-nama pengarang asing yang disitir, terlihat cukup banyak nama-nama pengarang asal Jepang yang dijadikan acuan.


PEMBAHASAN

Pola Kepengarangan
Temuan bahwa kepengarangan di bidang fisika masih didominasi kaum pria ternyata mendukung temuan sebelumnya. Jadi, dominasi kepengarangan pria ternyata bersifat universal, yaitu meliputi berbagai bidang ilmu baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Disamping itu, temuan bahwa tingkat kolaborasi pengarang di bidang fisika cukup tinggi, juga sejalan dengan temuan-temuan sebelumnya di luar negeri yang menyatakan bahwa tingkat kolaborasi pengarang di bidang fisika lebih tinggi dibanding ilmu-ilmu sosial. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa rata-rata jumlah pengarang bidang fisika per artikel yang mencapai 2,41 ternyata jauh lebih besar dibandingkan dalam majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan yang sebesar 1,05 dan 1,07 atau dibandingkan dengan dalam majalah Indonesia bidang ilmu-ilmu sosial yang sebesar 1,09. Bukti lain adalah jumlah artikel pengarang ganda dalam kedua majalah bidang fisika yang mencapai 67,33%, hampir sama dengan laporan Meadows dalam Haan (1997) yang menyebutkan kepengarangan ganda di bidang fisika adalah 67%. Angka yang menunjukkan tingkat kolaborasi tersebut ternyata jauh lebih besar dibanding artikel pengarang ganda dalam majalah Indonesia bidang perpustakaan yang sebesar 8,97% dan 9,23% atau dibanding majalah Indonesia bidang ilmu-ilmu sosial yang sebesar 8,96%.
Angka produktivitas pengarang bidang fisika yang mencapai 33,76% boleh dikatakan cukup baik dibandingkan dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya, yaitu sebesar 9,23% pada majalah Masyarakat Indonesia 1991-1995, sebesar 41,56% pada majalah Baca 1974-1999, dan sebesar 29,67% pada tiga majalah Dokumentasi dan Informasi 1991-1995. Sementara itu, hasil penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa hanya sedikit pengarang yang menghasilkan lebih dari satu artikel, bahkan dalam majalah internasional bidang ilmu perpustakaan dan informasi, hanya 8,30% pengarang yang menulis lebih dari satu artikel.
Pola kepengarangan yang tidak memberikan ciri-ciri khusus adalah tempat bekerja pengarang karena sangat dipengaruhi oleh lembaga dimana majalah tersebut diterbitkan. Demikian pula tentang topik atau subjek yang diminati penulis. Dalam majalah Telaah misalnya, selain menyangkut bidang fisika dan fisika terapan, juga menyangkut bidang lain, seperti : teknologi, bioteknologi dan kimia. Hal ini kemungkinan sesuai dengan kebijakan redaksi majalah tersebut yang menerima naskah hasil penelitian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara dalam majalah KFI, walaupun banyak melibatkan pengarang dari perguruan tinggi lain, tetapi subyek masih terfokus pada bidang fisika, antara lain mencakup fisika teori, fisika terapan, fisika modern, geofisika, elektronika, magnetisme, dan komputer.

Pola Penggunaan Literatur
Sebagaimana kita ketahui bahwa majalah bidang fisika yang diteliti adalah termasuk kategori ilmiah. Tetapi rata-rata jumlah sitiran per artikel tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan majalah ilmiah bidang ilmu-ilmu sosial (Masyarakat Indonesia) yang rata-rata mencapai 24,91 sitiran. Apakah sedikitnya jumlah sitiran ini merupakan ciri-ciri dari ilmu pengetahuan terapan, perlu dibuktikan melalui penelitian lebih lanjut, menyangkut kasus-kasus sejenis di bidang-bidang ilmu lain dan mencakup responden yang lebih besar.
Temuan mengenai jenis dokumen yang disitir ternyata tidak sejalan dengan hasil penelitian sejenis di bidang lain di Indonesia. Jika dalam bidang fisika majalah merupakan jenis dokumen yang paling banyak disitir, dalam majalah Baca sitiran terbanyak berupa buku mencapai 48,20%, dalam tiga judul majalah bidang dokumentasi dan informasi sebesar 57,16%, dalam majalah Masyarakat Indonesia bahkan mencapai 64,05%. Sebaliknya temuan sejalan dengan hasil penelitian sejenis di luar negeri yang menyatakan bahwa jenis dokumen yang paling banyak disitir adalah majalah.
Dari temuan ini terlihat bahwa literatur asing khususnya majalah, sangat berperan sebagai sumber referensi di bidang fisika. Hal ini perlu diketahui oleh para pimpinan perpustakaan, agar dapat lebih memprioritaskan pengadaan majalah terbitan internasional. Demikian pula, temuan mengenai median usia sitiran dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh pimpinan perpustakaan untuk menyusun kebijakan penyiangan koleksi.
Dari temuan ini juga terlihat bahwa pengarang Indonesia kurang berperan sebagai sumber referensi. Kalaupun ada sitiran kepada pengarang Indonesia, mereka umumnya menyitir dirinya sendiri. Sebaliknya, beberapa pengarang asing memperoleh sitiran dengan frekuensi yang cukup menyolok, seperti K. Vozoff. Selain itu, terlihat cukup banyak nama-nama pengarang asal Jepang yang disitir. Hal ini kemungkinan disebabkan karena banyak diantara pengarang pernah menempuh pendidikan di negara tersebut.

Komunikasi ilmiah
Seperti kita ketahui bahwa adanya sitiran menunjukkan keterhubungan antara penyitir dan yang disitir, atau adanya hubungan antara sesama penyitir. Mengingat tidak adanya kesamaan judul majalah maupun pengarang Indonesia yang disitir oleh pengarang, maka mengindikasikan kurangnya keterhubungan diantara pengarang dalam kedua majalah yang diteliti. Dalam kasus ini, boleh dikatakan bahwa komunikasi ilmiah di kalangan para ilmuwan fisika Indonesia belum terjalin dengan baik. Keterhubungan antar pengarang justru ditunjukkan oleh kesamaan judul majalah maupun pengarang asing yang disitir yang jumlahnya sangat sedikit.
Hal yang perlu digaris bawahi adalah kenyataan bahwa tak ada artikel majalah Telaah yang menyitir tulisan dalam majalah yang sama dalam kurun waktu 5 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi ilmiah dalam satu instansi ataupun lingkungan terdekatpun belum berjalan dengan lancar. Namun hal ini tidak terjadi pada majalah KFI karena terjadi saling menyitir diantara mereka.


KESIMPULAN DAN SARAN

Disimpulkan bahwa kepengarangan di bidang fisika ternyata didominasi oleh kaum pria dengan tingkat kolaborasi dan produktivitas cukup tinggi. Jumlah rata-rata pengarang per artikel mencapai 2,41 dan sejumlah 67,33% artikel adalah karya pengarang ganda. Dinyatakan bahwa 33,76% pengarang menulis lebih dari satu artikel, adapun subjek yang paling banyak ditulis adalah kelistrikan dan elektronika.
Dilaporkan bahwa pengarang bidang fisika banyak menggunakan literatur terbitan asing (86,18%). Dokumen yang paling banyak disitir adalah majalah (52,09%), dan 6,69% nya berupa majalah Indonesia. Literatur yang digunakan di bidang fisika tidak banyak (rata-rata 9,96 judul per artikel), otositiran 12,13% dari referensi, dan jumlah artikel yang memuat otositiran mencapai 58,42% dari keseluruhan artikel. Median usia sitiran dilaporkan sekitar 10 tahun.
Dalam penelitian ini tidak tampak adanya sitiran kepada majalah dan pengarang Indonesia dengan frekuensi yang berarti. Sitiran kepada pengarang Indonesia umumnya berupa sitiran pada karya sendiri. Adapun majalah asing yang sering disitir adalah Physical Review, Geophysics dan Journal of Physics, sedangkan pengarang asing yang paling sering disitir adalah K. Vosoff.
Selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian sejenis di berbagai bidang ilmu sebagai bahan perbandingan. Majalah yang diambil sebagai sumber data hendaknya benar-benar terfokus pada bidang khusus, dan sumber data hendaknya mencakup lebih banyak judul majalah.
Disamping kepengarangan dan penggunaan literatur, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai kebutuhan informasi dan perilaku peneliti dalam mencari informasi, baik di bidang fisika maupun bidang-bidang ilmu lainnya untuk mengetahui alasan-alasan yang melatarbelakangi pola penggunaan literatur.


DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, Sally Jo, and S.M. Dillon. 1997. Authorship pattern in information systems. Scientometrics 39 (1): 19-27.

Diodato, Virgil. 1994. Dictionary of bibliometrics. New York: The Haworth Press.

Gupta, B.M., Suresh Kumar, and C.R. Karisiddappa. 1997. Collaboration profile of theoretical population genetics speciality. Scientometrics 39 (3): 293-314.

Haan, J. De. 1997. Authorship pattern in Dutch sosiology. Scientometrics 39 (2): 197-208.

Lipetz, Ben-Ami. 1999. Aspects of JASIS authorship through five decades. Journal of American Society for Information Science 50 (11) : 994-1003.

Raptis, Paschalis. 1992. Authorship characteristics in five international library science journals. Libri 47 : 35-52.

Sri Purnomowati, dan Rini Yuliastuti. 2000. Pola kepengarangan dalam majalah Baca tahun 1974-1999. Baca 25 (1-2) : 20-30.

Sri Purnomowati. 2001. Pola kepengarangan dan pola sitiran dalam tiga judul majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi. Berita Iptek 42 (1) : 125-140.

Sri Purnomowati. 2002. Ciri-ciri kepengarangan dan penggunaan literatur di bidang ilmu-ilmu sosial : studi kasus majalah Masyarakat Indonesia tahun 1991-1995. (Belum dipublikasikan)

Steynberg, Susan, and Steve F. Rossouw. 1995. Multiple Authorship in biomedical papers: South African case study. Journal of American Society for Information Science 46 (6) : 468-472.

Walker, Thomas D. 1997. Journal of documentary reproduction, 1938-1942: domain as reflected in characteristics of authorship and citation. Journal of American Society for Information Science 48 (4) : 361-368.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home