Name:
Location: Jakarta, Indonesia

Tuesday, October 31, 2006

POLA KEPENGARANGAN DAN POLA SITIRAN
DALAM BULETIN PERPUSTAKAAN IKIP YOGYAKARTA (BPIY)
TAHUN 1995-1999 *

Sri Purnomowati **


Abstrak

Kajian dimaksudkan untuk mengetahui pola kepengarangan dan pola sitiran dalam Buletin Perpustakaan IKIP Yogyakarta (BPIY) yang terbit tahun 1995-1999. Hasil kajian terhadap 20 nomor terbitan dengan 21 artikel menunjukkan bahwa rata-rata tiap nomor terbitan memuat 1,05 artikel, dan setiap artikel rata-rata terdiri dari 3,86 halaman. Pengarang dalam BPIY didominasi oleh kaum pria, sebagian besar pengarang adalah pustakawan dan umumnya berasal dari Perpustakaan IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta). Semua artikel dalam BPIY ditulis oleh pengarang tunggal, sehingga Indeks Kolaborasi sebesar 1,00 dan Derajad Kolaborasi sebesar 0%. Selama 5 tahun penerbitannya, hanya ada 11 orang penulis artikel, sementara produktifitas pengarang mencapai 45,45%. Subjek yang paling banyak ditulis adalah tentang: organisasi/manajemen dan personalia perpustakaan. Setiap artikel dalam BPIY rata-rata memuat 5 referensi dengan jumlah otositiran mencapai 7,77% dari keseluruhan referensi, dan jumlah artikel yang memuat otositiran mencapai 28,57% dari keseluruhan artikel. Buku merupakan jenis dokumen yang paling banyak dijadikan acuan (73,79%), sementara median usia dokumen yang disitir adalah 6 tahun.




* Dimuat dalam Papirus, 30 (1) 2001 : 4-11.
** Peneliti Muda Bidang Dokumentasi dan Informasi PDII-LIPI



Latar belakang

Majalah merupakan sumber informasi yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, penerbitan majalah merupakan hal yang layak untuk diprioritaskan. Seperti kita ketahui bahwa penerbitan majalah di Indonesia masih banyak menghadapi kendala, seperti : kala terbit yang tidak teratur, tidak terjaminnya kelangsungan penerbitan majalah, dan mudah berganti judul. Dalam hal ini, BPIY layak dibanggakan karena berhasil bertahan sejak pertama terbit tahun 1971 sampai sekarang. Selama masa pengabdiannya yang panjang tersebut, artikel-artikel yang dimuat tentu memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang ilmu perpustakaan dan informasi. Sehubungan dengan prestasi tersebut, BPIY diambil sebagai salah satu responden dalam penelitian tentang pola kepengarangan dan pola sitiran tiga judul majalah Indonesia bidang perpustakaan dan informasi (Sri Purnomowati 2001). Pola kepengarangan dan pola sitiran ini sangat menarik untuk diselidiki, mengingat adanya kecenderungan-kecenderungan yang terjadi di dunia internasional, seperti meningkatnya : kontribusi pengarang wanita, derajad kolaborasi pengarang, produktivitas pengarang, jumlah sitiran dan otositiran. Bagaimana kecenderungan-kecenderungan yang terjadi di Indonesia?
Sebagai penghormatan terhadap prestasi BPIY di usia yang ke 30 tahun, penulis mencoba melakukan kajian terhadap pola kepengarangan dan pola sitiran dalam BPIY terbitan tahun 1995-1999. Dengan demikian akan diketahui kontribusi penulis berdasarkan jenis pekerjaan, jenis instansi, jenis kelamin, produktifitas pengarang dan derajad kolaborasi pengarang, dan subjek yang diminati. Disamping itu, akan diketahui pula jenis dokumen yang paling banyak disitir, tingkat kemutakhiran dan jumlahnya. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi atau bahan masukan bagi pimpinan Perpustakaan Universitas Negeri Yogyakarta, pengelola BPIY, dan para penulis, untuk meningkatkan mutu BPIY selanjutnya.

Tinjauan literatur
Ciri-ciri Pengarang
Hasil penelitian dari berbagai bidang ilmu menunjukkan bahwa penulis pria relatif lebih banyak dibandingkan dengan penulis wanita (Raptis 1992; Cunningham dan Dillon 1997; Walker 1997; Lipetz 1999, Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000; Sri Purnomowati 2001).
Jenis pekerjaan pengarang dalam tiga judul majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi didominasi oleh pustakawan yaitu mencapai 69,01% (Sri Purnomowati 2001), sedangkan pada majalah Baca, pengarang pustakawan mencapai 75,47%, sedangkan penulis dari PDII-LIPI sendiri mencapai 69,18% (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000). Sementara pada majalah JASIS dan pada majalah ilmu perpustakaan dan informasi, sebagian besar pengarang berasal dari kalangan perguruan tinggi (Raptis 1992; Lipetz 1999).
Subjek yang paling diminati pada tiga judul majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi adalah personalia perpustakaan, hubungan perpustakaan dengan masyarakat, komputer, dan jasa informasi (Sri Purnomowati 2001), sedangkan pada majalah Baca, subyek yang paling diminati adalah jasa informasi, komputerisasi, sumber informasi, personalia perpustakaan, kerjasama, hubungan perpustakaan dengan masyarakat, organisasi/manajemen dan penerbitan (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000). Adapun penelitian Raptis (1992) menunjukkan bahwa subyek yang diminati antara lain adalah: pendidikan ilmu perpustakaan dan informasi, sejarah, perpustakaan dan jasa informasi, pemakai, kataloging, otomasi, pengadaan, kerjasama, pelatihan, dan jaringan.

Kolaborasi dan produktivitas pengarang
Hasil-hasil penelitian terdahulu menunjukkan adanya peningkatan kolaborasi pengarang di semua bidang ilmu, tetapi sangat bervariasi antara subjek yang satu dengan yang lainnya. Jumlah artikel karya pengarang tunggal pada 5 majalah internasional di bidang perpustakaan dan informasi mencapai 86,46% (Raptis 1992), pada 5 majalah sistem informasi sebesar 37,74% (Cunningham dan Dillon 1997), pada tiga judul majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi sebesar 90,77% (Sri Purnomowati 2001), pada majalah Baca mencapai 91,03% (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000). Jumlah karya pengarang tunggal tersebut cenderung menurun dari tahun ke tahun (Raptis 1992; Lipetz 1999).
Jumlah rata-rata pengarang per artikel pada tiga judul majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi adalah 1,07 (Sri Purnomowati 2001), sementara pada majalah Baca sebesar 1,05 (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000). Hasil penelitian di luar negeri melaporkan bahwa rata-rata jumlah pengarang per artikel di bidang ilmu perpustakaan memang tergolong rendah dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Cunningham dan Dillon (1997) melaporkan bahwa jumlah pengarang per artikel di bidang: Ilmu perpustakaan (1,17), anthropologi (1,79), rekayasa kimia (2,13), ilmu kimia (2,82), ilmu politik (3,54), biologi (3,97), dan psikologi (4,58). Angka rata-rata pengarang per artikel tersebut dari tahun ke tahun ada kecenderungan naik seperti yang terjadi pada majalah JASIS (Lipetz 1999).
Produktivitas pengarang yaitu jumlah pengarang yang menulis lebih dari satu artikel dibagi jumlah semua pengarang yang ada pada tiga judul majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi adalah 29,67% (Sri Purnomowati 2001), sedangkan pada majalah Baca mencapai 41,56% (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000). Pada 5 majalah internasional di bidang perpustakaan dan informasi berjumlah 8,30% (Raptis 1992). Hasil penelitian Lipetz (1999) terhadap majalah JASIS menunjukkan kecenderungan meningkatnya produktivitas pengarang.

Pola sitiran
Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa buku merupakan dokumen yang paling banyak dijadikan acuan. Pada tiga judul majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi, 57,16% referensi berupa buku (Sri Purnomowati 2001), sementara pada majalah Baca, buku merupakan 48,20% dari keseluruhan referensi (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000). Di luar negeri, majalah merupakan jenis dokumen yang paling banyak disitir. Hal ini dapat dibuktikan dari penelitian Raptis (1992), yang menyatakan bahwa dokumen yang paling banyak disitir adalah majalah (41,01%), kemudian monografi 29,19%, laporan 12,91%, dan prosiding 5,07%.
Hasil penelitian terhadap 5 majalah internasional di bidang perpustakaan dan informasi menunjukkan bahwa 27,60% artikel menyitir diri sendiri (Raptis 1992), dan jumlah tersebut dari tahun ke tahun semakin banyak (Lipetz 1999). Sementara pada tiga judul majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi, otositiran mencapai 16,42% dari keseluruhan artikel (Sri Purnomowati 2001), dan pada majalah Baca, otositiran sebesar 10,60% dari keseluruhan artikel (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000).
Rata-rata jumlah sitiran pada tiga judul majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi mencapai 5,47 referensi per artikel (Sri Purnomowati 2001), sementara pada majalah Baca, rata-rata jumlah sitiran mencapai 4,05 referensi per artikel (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000). Penelitian Raptis (1992) dalam majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi menunjukkan bahwa rata-rata jumlah sitiran per artikel adalah 16,78 dan angka tersebut dari tahun ke tahun menunjukkan adanya kenaikan (Lipetz 1999).
Usia dokumen yang disitir pada tiga judul majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi menunjukkan bahwa referensi mutakhir (usia 0-5 tahun) mencapai 43,11% (Sri Purnomowati 2001), sementara pada majalah Baca, referensi mutakhir (usia 0-5 tahun) mencapai 56,86% (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000).

Metodologi
Kajian dilakukan terhadap BPIY selama 5 tahun terbit, sejak tahun 1995 sampai 1999. Pola kepengarangan yang diteliti mencakup: jenis kelamin pengarang, jenis pekerjaan pengarang, instansi tempat bekerja pengarang, Indeks Kolaborasi pengarang, Derajad Kolaborasi pengarang, produktifitas pengarang, subjek tulisan dan panjang tulisan. Pola sitiran yang diteliti mencakup : jumlah sitiran, jumlah sitiran pada karya sendiri (otositiran), jenis dokumen yang disitir, dan usia dokumen yang disitir.

Batasan Istilah
1. Pengarang adalah individu yang tercantum di bawah judul karangan atau artikel. Perhitungan menggunakan sistem Normal Count yaitu setiap pengarang dianggap menulis satu artikel tanpa membedakan apakah dia pengarang utama atau kopengarang.
2. Artikel adalah karangan utuh yang termuat pada setiap nomor terbitan. Tulisan-tulisan berupa rubrik khusus, berita dan sejenisnya tidak ikut dievaluasi.
3. Iindeks Kolaborasi pengarang adalah angka rata-rata jumlah pengarang per artikel untuk keseluruhan artikel contoh.
4. Derajad Kolaborasi pengarang adalah proporsi artikel karya pengarang ganda dalam keseluruhan artikel contoh.
5. Produktifitas Pengarang adalah jumlah pengarang yang menulis dua artikel atau lebih, dibagi dengan jumlah semua nama pengarang yang muncul.

Hasil Penelitian dan Pembahasan
Deskripsi Artikel
Jumlah BPIY terbitan tahun 1995-1999 yang dievaluasi terdiri dari 20 nomor terbitan yang memuat 21 judul artikel. Rata-rata tiap nomor terbitan memuat 1,05 artikel, dan rata-rata setiap artikel terdiri dari 3,86 halaman. Dalam kurun waktu 5 tahun tersebut tak ada artikel berupa hasil penelitian.

Jenis Kelamin Pengarang
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengarang pria umumnya masih mendo-minasi kepengarangan BPIY. Dari 21 artikel yang dievaluasi, terdata 21 nama pengarang, terdiri dari 18 nama pria (85,71%), dan 3 nama wanita (14,29%). Dari 21 nama tersebut ternyata terdiri dari 11 nama orang yang berbeda, mencakup 8 orang pria (72,73%), dan 3 orang wanita (27,27%).
Temuan ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa penulis pria relatif lebih banyak dibandingkan dengan penulis wanita (Raptis 1992; Cunningham dan Dillon 1997; Walker 1997; Lipetz 1999; Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000; Sri Purnomowati 2001). Mengingat sedikitnya penulis yang terlibat dalam penulisan artikel, yaitu 11 orang dalam 5 tahun, maka pengelola BPIY dapat meningkatkan jumlah penulis yang terlibat dalam penulisan artikel.

Jenis Pekerjaan Pengarang dan Instansi
Jenis pekerjaan pengarang dibedakan menjadi beberapa golongan, yaitu: pustakawan, administrator, peneliti, pengajar, karyawan, dan mahasiswa, sedangkan jenis instansi tempat bekerja pengarang dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu Perpustakaan IKIP Yogyakarta (UNY), Lembaga Perguruan Tinggi lain, Lembaga Departemen/Non Departemen, dan Swasta.
Data menunjukkan bahwa penulis dalam BPIY didominasi oleh pustakawan yaitu mencapai 85,71%, sedangkan pengajar 9,52% dan mahasiswa 4,76%. Penulis-penulis tersebut semuanya berasal dari kalangan perguruan tinggi, yaitu dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 66,66%, Universitas Gadjah Mada (UGM) 23,81%, dan Institut Pertanian Bogor (IPB) 9,52%. Temuan ini hampir sama dengan temuan pada majalah Baca yang menyatakan bahwa penulis dari PDII-LIPI sendiri mencapai 69,18%.

Tingkat Kolaborasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua artikel yang dimuat dalam BPIY ditulis oleh pengarang tunggal atau rata-rata jumlah pengarang per artikel (Indeks Kolaborasi) 1,00 atau proporsi jumlah artikel karya pengarang ganda dalam keseluruhan artikel (Derajad Kolaborasi) 0%.
Sebagai perbandingan, rata-rata jumlah pengarang per artikel (Indeks Kolaborasi) pada majalah Baca terbitan PDII-LIPI adalah 1.05 dan Derajad Kolaborasi 8,97%, sedangkan rata-rata jumlah pengarang per artikel (Indeks Kolaborasi) pada tiga majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi adalah 1,07 dan derajad kolaborasi 9,23%. Temuan ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa rata-rata jumlah pengarang per artikel di bidang ilmu perpustakaan memang tergolong rendah dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya.

Produktifitas pengarang
Selama 5 tahun penerbitannya, ada 11 nama pengarang yang pernah menulis di BPIY. Dari ke 11 nama tersebut, diketahui 1 orang menulis 4 artikel, 3 orang menulis 3 artikel, 1 orang menulis 2 artikel, dan 6 orang menulis 1 artikel. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa ada 6 nama yang menulis satu artikel, dan 5 nama yang menulis lebih dari 1 artikel, sehingga produktifitas pengarang yaitu jumlah pengarang yang menulis lebih dari satu artikel dibagi jumlah semua nama pengarang, sebesar 45,45%. Dengan demikian, produktivitas pengarang pada BPIY sedikit lebih baik dibanding pada majalah Baca (41,56%) dan jauh lebih baik dibanding angka produktivitas pengarang pada tiga majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi (29,67%).

Subjek Artikel
Klasifikasi subjek artikel dikembangkan dari Klasifikasi DDC, terdiri dari: organisasi dan manajemen, pendidikan perpustakaan, sejarah perpustakaan, hubungan perpustakaan-masyarakat, hubungan perpustakaan-lembaga lain, kerjasama dan jaringan, Promosi dan pemasaran, administrasi dan bangunan, personalia, pengadaan/ pengembangan koleksi, pengolahan bahan pustaka, jasa informasi, pengawetan bahan pustaka, perpustakaan khusus, perpustakaan umum, minat baca, komputer/teknologi informasi, penerbitan, komunikasi ilmiah, dan sumber informasi.
Data menunjukkan bahwa subyek yang paling banyak ditulis adalah tentang organisasi/manajemen dan personalia perpustakaan (lihat tabel 1). Dalam hal ini, masing-masing majalah kemungkinan mempunyai ciri masing-masing.

Tabel 1
Subjek yang diminati
Subjek
Tahun
95-99
Organisasi/manajemen
3
Personalia perpustakaan
3
Minat baca
2
Penerbitan
2
Pengawetan
2
Pengolahan
1
Fasilitas Perpustakaan
1
Perpustakaan & masyarakat
1
Jasa informasi
1
Kerjasama & jaringan
1
Komputerisasi
1
Pendidikan perpustakaan
1
Komunikasi ilmiah
1
Sumber informasi
1
Jumlah
21


Jumlah referensi
Hasil evaluasi terhadap artikel BPIY terbitan tahun 1995-1999 menunjukkan bahwa jumlah referensi bervariasi antara 0 - 9 judul, dengan rata-rata 4,90 referensi per artikel. Hanya ada 1 artikel tanpa referensi, sedangkan jumlah otositiran mencapai 7,77% dari keseluruhan referensi, dan jumlah artikel yang memuat otositiran mencapai 28,57% dari keseluruhan artikel. Angka jumlah artikel yang memuat otositiran ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya, yaitu pada majalah Baca 10,60% dan pada tiga majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi 16,42%.

Jenis dokumen yang disitir
Jenis dokumen yang disitir dikelompokkan menjadi: majalah, buku, makalah/ prosiding, laporan penelitian, tesis/disertasi, dan lain-lain mencakup: paten, standar, koran, brosur, dan internet.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, buku merupakan jenis dokumen yang paling banyak dijadikan acuan yaitu mencapai 73,79%, kemudian majalah 16,50%, makalah 4,85%, koran 1,94% dan dokumen lain-lain 1,94%. Angka banyaknya buku sebagai bahan acuan pada BPIY merupakan angka tertinggi dibanding temuan sebelumnya, yaitu 48,20% pada majalah Baca, dan 57,16% pada tiga judul majalah bidang dokumentasi dan informasi. Padahal di luar negeri, majalah umumnya menjadi bahan referensi yang paling utama.
Hal ini kemungkinan disebabkan karena lemahnya koleksi majalah di perpustakaan setempat, baik menyangkut terbitan Indonesia maupun asing sehingga untuk mendapatkannya lebih banyak memerlukan waktu dan biaya.

Usia dokumen
Dari daftar referensi dapat diketahui bahwa kemuthakhiran dokumen yang disitir adalah sebagai berikut: 47,52% dokumen berusia 0-5 tahun, 20,79% dokumen berusia 6-10 tahun, 18,81% dokumen berusia 11-15 tahun, 4,95% dokumen berusia 16-20 tahun, dan 7,92% dokumen berusia lebih dari 20 tahun Dengan kata lain, median usia dokumen yang disitir adalah 6 tahun. Angka tersebut sama dengan temuan pada tiga majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi, sedangkan median usia dokumen yang disitir pada majalah Baca adalah 5 tahun. Kemutakhiran dokumen yang disitir tersebut antara lain dipengaruhi oleh kemampuan penulis dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan ketersediaan dokumen yang diperlukan.

Kesimpulan
1. Setiap nomor BPIY rata-rata memuat 1,05 artikel, dan setiap artikel rata-rata terdiri dari 3,86 halaman. Kepengarangan dalam BPIY didominasi oleh kaum pria, sebagian besar pengarang adalah pustakawan dan umumnya berasal dari Perpustakaan IKIP Yogyakarta (Universitas Negeri Yogyakarta). Semua artikel dalam BPIY ditulis oleh pengarang tunggal, sehingga Indeks Kolaborasi sebesar 1,00 atau Derajad Kolaborasi sebesar 0%. Selama 5 tahun penerbitannya, hanya ada 11 orang yang pernah menulis artikel, sedangkan angka produktifitas sebesar 45,45%. Subjek yang paling banyak ditulis adalah tentang: organisasi/manajemen dan personalia perpustakaan.
2. Setiap artikel rata-rata memuat 5 referensi dengan jumlah otositiran mencapai 7,77% dari keseluruhan referensi, dan jumlah artikel yang memuat otositiran mencapai 28,57% dari keseluruhan artikel. Buku merupakan jenis dokumen yang paling banyak dijadikan acuan, yaitu mencapai 73,79%, sementara median usia dokumen yang disitir adalah 6 tahun.

Saran
1. Prestasi BPIY yang termasuk langka, yaitu berhasil bertahan selama 30 tahun, layak dibanggakan. Oleh karena itu, kelangsungan penerbitan BPIY pantas diperjuangkan.
2. Meningkatkan jumlah penulis yang terlibat dalam penulisan artikel dalam BPIY. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan cara: meningkatkan sirkulasi atau penyebaran terbitan sehingga BPIY dikenal secara luas, atau dengan cara memberikan insentif kepada penulis.
3. Jumlah artikel per nomor terbitan hendaknya dapat ditingkatkan. Dalam hal ini, karya-karya kaum praktisi yang selama ini mendominasi dapat dilengkapi dengan karya-karya kaum teorisi khususnya yang berasal dari kalangan pengajar bidang ilmu perpustakaan dan informasi.

Daftar Pustaka

Cunningham, Sally Jo; S.M. Dillon. 1997. Authorship pattern in information systems. Scientometrics, 39 (1): 19-27.

Lipetz, Ben-Ami. 1999. Aspects of JASIS authorship through five decades. Journal of American Society for Information Science, 50 (11) : 994-1003.

Raptis, Paschalis. 1992. Authorship characteristics in five international library science journals. Libri, 47 : 35-52.

Sri Purnomowati dan Rini Yuliastuti. 2000. Pola kepengarangan dalam majalah Baca tahun 1974-1999. Baca 25 (1-2) : 20-30.

Sri Purnomowati. 2001. Pola kepengarangan dan pola sitiran tiga judul majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan ilmu perpustakaan dan informasi. Berita Iptek 42 (1) 2001 : 125-140.

Walker, Thomas D. 1997. Journal of documentary reproduction, 1938-1942: domain as reflected in characteristics of authorship and citation. Journal of American Society for Information Science, 48 (4) : 361-368.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home