Name:
Location: Jakarta, Indonesia

Tuesday, October 31, 2006

POLA KEPENGARANGAN DAN POLA SITIRAN
TIGA JUDUL MAJALAH INDONESIA BIDANG
ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI *

Sri Purnomowati**


Abstract

The result of the study of three titles Indonesian jurnal in library and information science consist of 48 number of publications with 134 articles shows that authors was dominated by male authors. Most of the authors are librarians, and most of them working in department/non departmen institution. The most popular subjects are library personnel, library-public relationship, computer/information technology, information services, and organization/management. The average number of authorship per article was 1,07 and articles with multi authorship were 9,23% and author productivity was 29,67%. The average number of pages per article was 7,13 pages and each article contain 5,47 references. Books are the most document use for references, and almost half of the references are current documents.
Keywords : Authorship pattern, Citation pattern, Indonesian journal;
Library and information science.


LATAR BELAKANG

Majalah ilmiah merupakan sarana komunikasi ilmiah yang sangat penting untuk menunjang perkembangan ilmu pengetahuan. Sementara itu, penerbitan majalah ilmiah Indonesia masih mengalami banyak kendala, seperti: terbit tidak teratur dan tidak berkesinambungan, penampilan majalah yang belum sesuai standar, kualitas keilmiahan yang masih perlu ditingkatkan, dan sedikitnya majalah yang telah mendunia atau diindeks oleh lembaga-lembaga internasional. Dalam hal ini, produktivitas artikel majalah ilmiah Indonesia masih kalah dibandingkan dengan produktivitas negara-negara tetangga. Disamping itu, sedikitnya tulisan ataupun penelitian tentang majalah Indonesia menunjukkan kurangnya minat masyarakat terhadap esensi dan perkembangannya.
Di bidang ilmu perpustakaan dan informasi, beberapa kajian mengenai majalah mulai dilakukan. Salah satu temuan yang patut dibanggakan adalah kesetiaan majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi dalam menekui bidangnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa majalah berhasil mencapai usia lebih dari 25 tahun.

* Dimuat di Berita Iptek 42(1) 2001: 125-140
**Peneliti di PDII-LIPI

Dalam kurun waktu tersebut, kontribusi penulis dalam memajukan ilmu perpustakaan dan informasi jelas tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu perlu diketahui siapa yang berperan dalam penulisan artikel dalam majalah-majalah tersebut? Bagaimanakan ciri-ciri kepengarangan para penulisnya? Sejauh mana kontribusi pustakawan dalam hal ini? Penulis dari lembaga mana saja yang terlibat, dan bagaimanakah komposisi antara penulis pria dan wanita? Bagaimanakah produktifitas pengarang dan sejauh mana tingkat kolaborasinya? Subjek apa yang paling diminati selama ini? Jenis dokumen apa yang paling banyak disitir dan bagaimana tingkat kemutakhiran dan jumlahnya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pada tahun 2000 Sub Bidang Pengkajian Informasi lmiah PDII-LIPI melakukan penelitian untuk mengetahui pola kepengarangan dan pola sitiran dalam majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi bagi para pimpinan perpustakaan, pengurus organisasi profesi, pengelola majalah, penyunting dan penulis artikel, untuk mendukung tugas dan fungsinya. Dengan dilakukannya kajian-kajian tersebut, para ilmuwan dan masyarakat diharapkan dapat tergugah kepeduliannya terhadap perkembangan majalah Indonesia pada umumnya dan majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi pada khususnya.

TINJAUAN LITERATUR
Tulisan-tulisan ataupun kajian tentang majalah Indonesia masih tergolong sedikit, tetapi perhatian terhadap majalah di bidang ilmu perpustakaan dan informasi mulai dilakukan melalui beberapa kajian. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa penerbitan majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi umumnya masih terkonsentrasi di wilayah Pulau Jawa, dan jumlah majalah berISSN yang sampai saat ini masih terbit secara teratur tinggal sekitar setengahnya. Salah satu hal yang patut dibanggakan adalah sepertiga dari majalah tersebut terbukti cukup setia menekuni bidangnya dan telah berusia 20-29 tahun (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 1999). Sebagaimana umumnya majalah Indonesia, penampilan majalah masih sangat bervariasi dan belum sepenuhnya sesuai standar (Sri Purnomowati, Yuliastuti dan Ginting 1999) dan sampai saat ini belum ada majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang telah terakreditasi oleh DIKTI atau termasuk sebagai majalah ilmiah berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh P2JP - LIPI (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000a).
Dalam tinjauan literatur berikut ini akan diuraikan hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan pola kepengarangan mencakup : jenis kelamin, jenis pekerjaan, lembaga tempat berkerja, subjek tulisan, tingkat kolaborasi dan produktivitasnya; adapun pola sitiran mencakup: jenis dokumen, usia dokumen, jumlah sitiran, dan otositiran atau menyitir karya sendiri.
Jenis Kelamin Pengarang
Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa jumlah penulis pria relatif lebih banyak dibandingkan dengan penulis wanita. Penelitian terhadap 5 majalah internasional di bidang ilmu perpustakaan dilaporkan bahwa pengarang pria berjumlah 76,97% (Raptis 1992), pada 5 majalah di bidang sistem informasi berjumlah 78,7% (Cunningham dan Dillon 1997), pada majalah Baca berjumlah 59,12% (Sri Purnomowati dan Yuliastuti, 2000b).
Namun demikian, kontribusi pengarang wanita dari tahun ke tahun cenderung mengalami kenaikan. Hal ini dapat dilihat dari penelitian Lipetz (1999) yang menyatakan bahwa pengarang wanita pada majalah JASIS pada tahun 1955 berjumlah 20,6%, turun menjadi 10,4% pada tahun 1965, lalu naik menjadi 18,8% pada tahun 1975, selanjutnya menjadi 32,4% pada tahun 1985 dan 33,8% pada tahun 1995. Bahkan penelitian yang dilakukan terhadap majalah College & Research Libraries tahun 1989-1994, untuk pertama kalinya jumlah pengarang wanita setara dengan pengarang pria (Terry 1996).
Jenis Pekerjaan Pengarang
Hasil penelitian Raptis (1992) terhadap majalah bidang ilmu perpustakaan melaporkan bahwa sebagian besar pengarang adalah staf pengajar dalam bidang Ilmu perpustakaan dan informasi (32,07%), selanjutnya pustakawan praktisi 28,80%, administrator 20,65%, pengajar bidang ilmu lain 8,15%, dan mahasiswa 3,26%. Sementara penelitian Bloomfied dalam Raptis (1992) melaporkan bahwa pengarang dalam majalah Library Literature adalah administrator atau pengajar. Sebaliknya dalam majalah Baca, sebagian besar pengarang terdiri dari pustakawan (75,47%) dan pengajar hanya 3,14% (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000b).
Tempat Bekerja Pengarang
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pengarang berasal dari kalangan perguruan tinggi seperti yang terjadi pada majalah JASIS (Lipetz 1999) dan pada majalah College & Research Libraries (Terry 1996). Berdasarkan jenis perpustakaan, pengarang terbanyak berasal dari Perpustakaan Perguruan Tinggi (50,53%), Perpustakaan Nasional 12,63%, Perpustakaan Khusus 12,63%, Perpustakaan Umum 8,42%, dan lain-lain 15,79% (Raptis 1992). Temuan yang berlawanan dilaporkan oleh Walker (1997), bahwa 49% artikel dalam Journal of Documentary Reproduction tahun 1938-1942 ditulis oleh pengarang yang ada kaitannya dengan perpustakaan dan kearsipan, sedangkan dari lembaga perguruan tinggi hanya 19%.
Subyek Tulisan
Penelitian yang dilakukan terhadap majalah College and Research Libraries dari 1939-1979 menyatakan bahwa artikel tentang organisasi dan administrasi berjumlah 36%, tentang koleksi 14%, layanan umum 14%, layanan teknis 13%, otomasi dan penelusuran informasi 4% (Cline dalam Raptis 1992). Sementara itu, hasil penelitian Raptis (1992) melaporkan bahwa subyek yang diminati antara lain adalah: pendidikan ilmu perpustakaan dan informasi, sejarah, perpustakaan dan jasa informasi, pemakai, kataloging, otomasi, pengadaan, kerjasama, pelatihan, dan jaringan. Adapun hasil penelitian Cano (1999) menunjukkan bahwa penelitian ilmu perpustakaan dan informasi di Spanyol kebanyakan terkonsentrasi pada bidang temu kembali informasi, studi mengenai komunikasi ilmiah dan profesional, serta deskripsi jasa. Sementara hasil penelitian Sri Purnomowati dan Yuliastuti (2000) terhadap majalah Baca menunjukkan bahwa subyek yang paling banyak ditulis adalah: jasa informasi, komputer/teknologi informasi, sumber informasi, dan personalia perpustakaan.
Kolaborasi pengarang
Kolaborasi adalah proses kerjasama antara ilmuwan dalam usahanya untuk mengkoordinasikan kecakapan, peralatan ataupun imbalan. Kolaborasi dapat terjadi antara guru-murid, antar teman, supervisi dan asisten, peneliti-konsultan, antar organisasi, dan internasional. Beberapa instrumen yang dikemukakan oleh Gupta, Kumar dan Karisiddappa (1997) untuk mengukur kolaborasi, adalah:
1. Degree of collaboration (Derajad kolaborasi) yaitu proporsi artikel pengarang ganda dalam keseluruhan artikel contoh. Hal ini dikemukakan oleh Subramayam tahun 1983.
2. Collaboration Index (Indeks kolaborasi) yaitu rata-rata jumlah pengarang per artikel untuk keseluruhan artikel contoh. Hal ini dikemukakan oleh Lawani tahun 1986.
3. Collaboration Coefficient (Koefisien kolaborasi) yaitu rata-rata proporsi jumlah artikel dengan tiap nomor pengarang dan nilai di atur antara 0 sampai 1. Hal ini dikemukakan oleh Ajiferuke dkk. Tahun 1988.
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa karya pengarang tunggal pada majalah bidang perpustakaan dan informasi dilaporkan sebesar 86,46% (Raptis 1992), sebesar 92% pada literatur kepustakawanan di Ethiopia tahun 1944-1991 (Gupta 1994), dan sebesar 61% pada majalah JASIS tahun 1970-1986 (Al Ghamdi dkk. dalam Lipetz 1999). Adapun penelitian pada majalah College and Research Libraries dari 1939-1979, karya pengarang tunggal dilaporkan sebesar 90% (Cline dalam Raptis 1992), sebesar 37,74% pada majalah sistem informasi (Cunningham dan Dillon 1997), sebesar 68% pada majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi terbitan Spanyol (Cano 1999), dan sebesar 65% pada Library and Information Science Abstracts (LISA) tahun 1964-1990 dan derajad kolaborasi berkisar antara 0.20 sampai 0.35 (Kabir 1995). Sementara itu karya pengarang tunggal dalam majalah Baca dilaporkan sebesar 91,03% (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000b).
Dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi, peningkatan kolaborasi pengarang dapat dilihat dari hasil penelitian terhadap majalah JASIS yang melaporkan bahwa karya pengarang tunggal berjumlah 71,4% pada tahun 1955, naik menjadi 77,1% pada tahun 1965, turun menjadi 68,2% pada tahun 1975, kemudian 55,3% pada tahun 1985 dan menjadi 47,1% pada tahun 1995 (Lipetz 1999). Sementara itu, kajian terhadap artikel majalah ilmu informasi tahun 1986 menunjukkan bahwa pengarang pada penelitian yang didanai lebih menunjukkan kolaborasi dengan pengarang lain. Mereka umumnya pengajar perguruan tinggi setingkat doktor, dan menulis dengan topik yang berhubungan dengan ilmu informasi (Hart dkk. 1990).
Proporsi tinggi pada karya pengarang ganda adalah ciri ilmu pengetahuan alam dan fisika karena kerumitan dan mahalnya instrumen. Sebaliknya proporsi kepengarangan tunggal lebih tinggi pada ilmu sosial/kemanusiaan dan filsafat. Ilmu informasi lebih mengikuti norma kepengarangan ganda pada ilmu fisika dan ilmu terapan daripada ke ilmu sosial ( Cuningham dan Dillon 1997).
Indeks kolaborasi
Penelitian terhadap lima majalah sistem informasi melaporkan bahwa indeks kolaborasi atau rata-rata jumlah pengarang per artikel sebesar 1,903 (Cunningham dan Dillon 1997). Penelitian terhadap majalah JASIS (Journal of the American Society for Information Science) menunjukkan adanya kenaikan jumlah rata-rata pengarang per artikel, yaitu 1,62 pada tahun 1955, turun menjadi 1,37 pada tahun 1965, naik menjadi 1,45 pada tahun 1975, kemudian 1,57 pada tahun 1985 dan menjadi 1,91 pada tahun 1995 (Lipetz 1999). Pada beberapa disiplin ilmu terlihat kolaborasi yang lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan dengan ilmu informasi, yaitu sebesar 3,34 dalam literatur biomedik (Steinberg dan Rossouw 1995), sebesar 2,34 pada majalah Genetics tahun 1916-1980 (Gupta, Kumar, dan Karisiddappa 1997), dan sebesar 1,86 pada Journal of Documentary Reproduction terbitan tahun 1916-1980 (Walker 1997).
Produktivitas Pengarang
Mengukur produktifitas pengarang (Linsey dalam Gupta, Kumar dan Karisiddappa 1997) dapat dilakukan melalui 3 cara, yaitu:
1. Normal count = Complete count adalah salah satu cara menetapkan berapa banyak artikel yang ditulis pengarang. Pada kepengarangan ganda, setiap pengarang dianggap menulis satu artikel.
2. Adjusted count = Fractional count adalah salah satu cara menetapkan berapa banyak artikel yang ditulis pengarang. Pada kepengarangan ganda, seorang pengarang dianggap menulis satu artikel dibagi dengan jumlah pengarang.
3. Straight count = Senior count = Primary count adalah salah satu cara menghitung berapa artikel yang ditulis pengarang. Pada kepengarangan ganda, yang diperhitungkan hanya pengarang utama saja, sedangkan penulis kedua dan seterusnya diabaikan.
Hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar pengarang hanya menghasilkan satu artikel dan hanya sedikit pengarang yang menghasilkan lebih dari satu artikel (Walker 1997). Hasil penelitian terhadap 5 majalah internasional di bidang perpustakaan dan informasi menunjukkan bahwa sebagian besar pengarang (91,70%) hanya menghasilkan satu artikel, adapun selebihnya (8, 30%) menghasilkan lebih dari satu artikel (Raptis 1992).
Hasil penelitian Lipetz (1999) terhadap majalah JASIS menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya produktifitas pengarang. Jumlah pengarang yang menghasilan 1 artikel pada tahun 1955 berjumlah 78,3%, naik menjadi 97,9% pada tahun 1965, turun menjadi 95,1% pada tahun 1975, kemudian 92,8% pada tahun 1985 dan menjadi 91,6% pada tahun 1995.

Jumlah sitiran
Dalam majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi, rata-rata jumlah sitiran per artikel adalah 16,78 sedangkan 11,73% artikel tidak punya sitiran (Raptis 1992). Penelitian terhadap majalah JASIS menunjukkan adanya kenaikan jumlah sitiran per artikel dari tahun ke tahun. Rata-rata jumlah sitiran per artikel pada tahun 1955 mencapai 8,33 turun menjadi 7,03 pada tahun 1965, naik menjadi 12,68 pada tahun 1975, menjadi 23,83 pada tahun 1985, dan selanjutnya menjadi 30,50 pada tahun 1995. Jumlah artikel yang tidak mempunyai sitiran mengalami penurunan dari 23,8% pada tahun 1955, menjadi 22,9% pada tahun 1965, kemudian 2,3% pada tahun 1975, menjadi 0% pada tahun 1985, dan menjadi 1,5% pada tahun 1995 (Lipetz 1999). Dalam majalah Baca, rata-rata jumlah sitiran per artikel adalah 4,05, sedangkan 41,06% artikel tidak punya sitiran (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000b).
Jenis dokumen
Hasil penelitian Raptis (1992) menyatakan bahwa jenis dokumen yang disitir adalah majalah 41,01%, monografi 29,19%, laporan 12,91%, dan prosiding 5,07%. Selanjutnya dinyatakan bahwa pustakawan perguruan tinggi menggunakan monografi sebanyak artikel majalah (Sellen dalam Raptis 1992). Sementara dalam majalah Baca tahun 1974-1999 menunjukkan bahwa buku adalah jenis dokumen yang paling banyak disitir (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000b).
Usia sitiran
Penelitian Sellen terhadap dua majalah perpustakaan dalam Raptis (1992) melaporkan bahwa monografi atau artikel majalah yang disitir berusia sekitar 8 tahun atau kurang. Penelitian dalam majalah Baca menunjukkan bahwa 56,86% dokumen yang disitir berusia 0-5 tahun, 23,53% dokumen berusia 6-10 tahun, 11,37% dokumen berusia 11-15 tahun, dan sisanya lebih tua dari 15 tahun (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000b).
Otositiran
Kebiasaan menyitir karya sendiri atau otositiran terungkap dari hasil penelitian Raptis (1992) dan Lipetz (1999). Penelitian terhadap 5 majalah internasional di bidang perpustakaan dan informasi menunjukkan bahwa 27,60% artikel ternyata menyitir karya sendiri (Raptis 1992). Sementara itu, penelitian Lipetz (1999) terhadap majalah JASIS menunjukkan bahwa jumlah artikel yang menyitir karya sendiri semakin banyak, yaitu 23,8% pada tahun 1955, menjadi 51,4% pada tahun 1965, selanjutnya 61,4% pada tahun 1975, kemudian 66,0% pada tahun 1985, dan menjadi 82,4% pada tahun 1995. Pada majalah Baca, jumlah otositiran mencapai 4,07% dan jumlah artikel yang memuat otositiran mencapai 10,60% dari keseluruhan artikel (Sri Purnomowati dan Yuliastuti 2000b).

Metodologi
Kajian dilakukan terhadap 3 judul majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi. Pemilihan responden didasarkan atas alasan: 1. majalah telah terbit selama lebih dari 25 tahun; 2. majalah mewakili penerbit perguruan tinggi, departemen/non departemen, dan swasta/profesi; 3. majalah memuat artikel/karangan. Pemilihan tahun terbit yaitu selama 5 tahun dari tahun 1991-1995, dialakukan dengan alasan: 1. pada tahun-tahun tersebut penerbitan dianggap lancar karena belum terjadi gangguan krisis moneter yang dapat mengganggu jadwal penerbitan; 2. cukup mutakhir ditinjau dari informasi yang terkandung didalamnya; 3. cukup terjamin ketersediaannya dalam koleksi. Namun demikian, ternyata ada masalah dalam kelengkapan koleksi sehingga Buletin Perpustakaan IKIP Yogyakarta diambil untuk terbitan periode tahun 1995-1999. Periode 5 tahun dipilih karena dianggap cukup untuk mewakili informasi tentang kepengarangan dalam majalah tersebut.

Batasan Istilah
1. Pola kepengarangan yang diteliti mencakup: jenis kelamin pengarang, jenis pekerjaan pengarang, lembaga tempat bekerja pengarang, tingkat kolaborasi pengarang, produktifitas pengarang, subjek tulisan dan panjang tulisan.
2. Pola sitiran yang diteliti mencakup : jumlah sitiran, jumlah sitiran pada karya sendiri (otositiran), jenis dokumen yang disitir, dan usia dokumen yang disitir.
3. Pengarang adalah individu yang tercantum di bawah judul karangan atau artikel. Perhitungan menggunakan sistem Normal Count (Diodato 1994) yaitu setiap pengarang dianggap menulis satu artikel tanpa membedakan apakah dia pengarang utama atau kopengarang.
4. Artikel adalah karangan utuh yang termuat pada setiap nomor terbitan. Tulisan-tulisan berupa berita serta rubrik-rubrik tertentu tidak ikut dievaluasi.

HASIL PENELITIAN
Deskripsi Artikel
Majalah yang diteliti terdiri dari 48 nomor terbitan dengan 134 judul artikel (Lihat Tabel 1). Rata-rata tiap nomor terbitan memuat 2,79 artikel, dan rata-rata setiap artikel terdiri dari 7,13 halaman.

Tabel 1
Deskripsi majalah yang diteliti

Nama Majalah
(Tahun terbit)
Penerbit
Periode terbitan
Jumlah Nomor Terbitan
Jumlah Artikel
Baca (1974)
PDII-LIPI
1991-1995
13
68
Buletin Perpustakaan IKIP Yogyakarta (1971)
Perpustakaan IKIP Yogyakarta
1995-1999
15
45
Majalah Ikatan Pustaka-wan Indonesia (1974)
Ikatan Pustakawan Indonesia
1991-1995
20
21
Jumlah


48
134

Jenis Kelamin Pengarang
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengarang pria umumnya masih mendo-minasi kepengarangan ketiga majalah tersebut. Dari 134 artikel yang dievaluasi, terdata 142 nama pengarang, terdiri dari 111 nama pria (78,17%), dan 31 nama wanita (21,83%). Dari 142 nama tersebut ternyata terdiri dari 91 nama orang yang berbeda, mencakup 69 orang pria (75,82%), dan 22 orang wanita (24,18%).
Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan pengarang dibedakan menjadi beberapa golongan, yaitu: pustakawan, administrator, peneliti, pengajar, karyawan, mahasiswa, dan lain-lain. Penulis yang bekerja di perpustakaan dimasukkan sebagai pustakawan. Data pada Grafik l menunjukkan bahwa penulis dalam majalah yang diteliti didominasi oleh pustakawan (69,01%), sementara kalangan pengajar 14,08%, administrator 7,75%, peneliti 6,34%, karyawan dan mahasiswa masing-masing 1,41%.
Grafik 1
Jenis pekerjaan pengarang

Jenis Lembaga
Lembaga tempat bekerja pengarang terdiri dari: lembaga perguruan tinggi, lembaga departemen/lembaga pemerintah non departemen, dan swasta termasuk himpunan profesi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengarang dari lembaga departemen/non departemen tampak paling menonjol yaitu mencapai 55,63% sedangkan perguruan tinggi 33,81%, lembaga luar negeri 7,04%, lembaga swasta 2,82% dan perpustakaan sekolah 0,70% (Lihat Grafik 2).

Grafik 2
Lembaga tempat bekerja pengarang


Subyek Artikel
Pengelompokan subyek dikembangkan dari klasifikasi DDC, terdiri dari: organisasi dan manajemen, pendidikan perpustakaan, sejarah perpustakaan, hubungan perpustakaan-masyarakat, hubungan perpustakaan-lembaga lain, kerjasama dan jaringan, promosi dan pemasaran, administrasi dan bangunan, personalia, pengadaan/ pengembangan koleksi, pengolahan bahan pustaka, jasa informasi, pengawetan bahan pustaka, perpustakaan khusus, perpustakaan umum, minat baca, komputer/teknologi informasi, penerbitan, komunikasi ilmiah, dan sumber informasi.
Data pada tabel 2 menunjukkan bahwa subyek yang paling banyak ditulis berturut-turut adalah tentang: personalia perpustakaan, kemudian hubungan antara perpustakaan dan masyarakat, komputer/teknologi informasi, jasa informasi, dan organisasi/manajemen.
Tabel 2
Subjek yang diminati

Subjek
Jumlah
Artikel
Jumlah (%)
Personalia perpustakaan
22
16,42
Perpustakaan & masyarakat
18
13,43
Komputer/Teknologi Informasi
17
12,69
Jasa informasi
14
10,45
Organisasi/manajemen
13
9,70
Pendidikan perpustakaan
8
5,97
Pengolahan bahan pustaka
8
5,97
Penerbitan
8
5,97
Minat baca
7
5,22
Sumber informasi
6
4,48
Kerjasama & jaringan
6
4,48
Komunikasi ilmiah
3
2,24
Sejarah perpustakaan
2
1,49
Pengadaan bahan pustaka
1
0,75
Promosi & pemasaran
1
0,75
Jumlah
134
100,00

Kolaborasi Pengarang
Kolaborasi pengarang dapat dilihat dari jumlah artikel karya pengarang ganda atau dari indeks kolaborasi yaitu angka rata-rata pengarang per artikel. Jumlah artikel tanpa pengarang mencapai 2,98%. Sisanya terdiri dari 90,77% karya pengarang tunggal dan 9,23% artikel karya pengarang ganda (lebih dari satu orang). Sementara itu, artikel berupa hasil penelitian mencapai 5,97% dan rata-rata jumlah pengarang per artikel hanya 1,07%.

Produktifitas pengarang
Angka produktifitas pengarang dapat dihitung dari jumlah pengarang yang menulis dua artikel atau lebih, dibagi dengan jumlah semua nama pengarang yang muncul, disajikan dalam bentuk persen. Perhitungan menggunakan sistem Normal Count yaitu setiap pengarang dianggap menulis satu artikel tanpa membedakan apakah dia pengarang utama atau kopengarang.
Dari 134 artikel yang diteliti, terdapat 91 nama pengarang, 64 nama diketahui menulis satu artikel, dan 27 nama menulis lebih dari 1 artikel. Dengan kata lain, produktifitas pengarang sebesar 29,67%. Dari ke 91 nama yang pernah menulis artikel, diketahui : 1 orang menulis 7 artikel, 1 orang menulis 6 artikel, 1 orang menulis 5 artikel, 2 orang menulis 4 artikel, 8 orang menulis 3 artikel, 14 orang menulis 2 artikel, dan 64 orang menulis 1 artikel (Lihat Tabel 3).

Tabel 3
Produktifitas pengarang

Penulis
Jumlah
(Orang)
Jumlah
(%)
1 artikel
64
70,33
2 artikel
14
15,38
3 artikel
8
8,79
4 artikel
2
2,20
5 artikel
1
1,10
6 artikel
1
1,10
7 artikel
1
1,10
Jumlah
91
100,00

Jumlah referensi
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa jumlah referensi bervariasi antara 0 - 45 judul, dengan rata-rata 5,47 referensi per artikel. Artikel tanpa referensi berjumlah 29,85% dari keseluruhan artikel. Adapun jumlah otositiran mencapai 4,77% dari keseluruhan referensi, dan jumlah artikel yang memuat otositiran mencapai 16,42% dari keseluruhan artikel.
Jenis dokumen yang disitir
Jenis dokumen yang disitir dikelompokkan menjadi: buku, majalah, makalah/ prosiding, laporan penelitian, tesis/disertasi, surat kabar, dan lain-lain mencakup: paten, standar, koran, brosur, surat keputusan, dan internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, buku merupakan jenis dokumen yang paling banyak dijadikan acuan yaitu mencapai 57,16%, kemudian majalah 21,96%, laporan penelitian 5,05%, makalah 7,64%, surat kabar 3,27% dan dokumen lain-lain 4,91% (Lihat Grafik 3).

Grafik 3
Jenis Dokumen yang disitir


Usia dokumen
Dari daftar referensi dapat diketahui bahwa kemuthakhiran dokumen yang disitir adalah sebagai berikut: 43,11% dokumen berusia 0-5 tahun, 24,15% dokumen berusia 6-10 tahun, 17,60% dokumen berusia 11-15 tahun, 5,05% dokumen berusia 16-20 tahun, 8,05% dokumen berusia lebih dari 20 tahun, dan 2,05% dokumen tidak diketahui tahun terbitnya (Lihat Grafik 4).
Grafik 4
Usia dokumen

PEMBAHASAN
Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pengarang pria relatif lebih banyak dibandingkan dengan penulis wanita ternyata tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian terdahulu (Raptis 1992; Cunningham dan Dillon 1997; Lipetz 1999; Sri Purnomowati 2000b). Sementara itu, dominasi pustakawan dalam kepengarangan tiga majalah yang diteliti tidak sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya di luar negeri yang menyatakan bahwa pengajar lebih banyak berpartisipasi dalam penulisan artikel bidang perpustakaan dan informasi (Raptis 1992; Lipetz 1999). Hal ini kemungkinan disebabkan karena terbatasnya jumlah lembaga pendidikan di bidang ilmu perpustakaan dan informasi sehingga jumlah pengajar yang menulis relatif sedikit dibanding jumlah pustakawan yang bekerja di perpustakaan.
Subyek yang diminati tampaknya sangat bervariasi tergantung kondisi dan situasi perkembangan ilmu perpustakaan dan informasi di negara yang bersangkutan. Di Indonesia, personalia perpustakaan tampaknya sedang hangat dibicarakan antara lain menyangkut perkembangan profesi dan kepustakawanan. Banyaknya tulisan mengenai personalia perpustakaan antara lain juga disebabkan karena kontribusi 9 judul tulisan dalam majalah Baca mengenai Ibu Luwarsih Pringgoadisurjo setelah beliau meninggal dunia.
Hasil penelitian yang menunjukkan rendahnya tingkat kolaborasi pengarang sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan tingginya jumlah artikel karya pengarang tunggal atau rendahnya jumlah artikel karya pengarang ganda dalam majalah di bidang perpustakaan dan informasi. Demikian juga, rata-rata jumlah pengarang per artikel dalam 3 majalah yang diteliti yang besarnya hanya 1,07 memang sesuai dengan temuan terdahulu yang menyatakan bahwa bahwa rata-rata jumlah pengarang per artikel di bidang ilmu perpustakaan tergolong rendah dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Cunningham dan Dillon (1997) melaporkan bahwa jumlah pengarang per artikel di bidang: ilmu perpustakaan (1,17), anthropologi (1,79), rekayasa kimia (2,13), ilmu kimia (2,82), ilmu politik (3,54), biologi (3,97), dan psikologi (4,58).
Hasil temuan mengenai produktivitas pengarang tidak sesuai dengan perhitungan distribusi frekuensi produktifitas ilmiah menurut Lotka yang menyatakan bahwa jika diketahui jumlah penulis 1 artikel, maka penulis n artikel adalah satu per n kuadrat kali jumlah penulis 1 artikel. Bagaimanapun temuan ini tak dapat diperbandingkan dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya mengingat perbedaan metodologi, jumlah dan jenis majalah, serta cakupan tahun terbit yang diteliti.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa rata-rata jumlah referensi majalah yang diteliti relatif lebih sedikit dan prosentase artikel tanpa referensi relatif lebih besar dibanding dengan hasil penelitian sejenis di luar negeri. Hal ini kemungkinan ada hubungannya dengan rendahnya ketersediaan literatur dan rendahnya minat baca, sehingga mengurangi kadar keilmiahan tulisan. Temuan ini mendukung fakta yang menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada majalah bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang termasuk kategori ilmiah baik berdasarkan penilaian DIKTI ataupun P2JP-LIPI.
Dalam majalah yang diteliti, artikel yang menyitir karya sendiri mencapai 16,42% dari keseluruhan artikel. Jumlah ini relatif kecil dibanding dengan hasil angka otositiran sebesar 27,60% (Raptis 1992) atau 82,4% (Lipetz 1999).
Berbeda dengan temuan sebelumnya yang menyatakan majalah adalah dokumen yang paling banyak disitir, hasil penelitian menunjukkan bahwa buku merupakan dokumen yang paling banyak dijadikan acuan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena sulitnya memperoleh artikel majalah, terutama majalah asing. Disamping karena koleksi perpustakaan yang kurang lengkap, pemesanan fotokopi artikel ke luar negeri cukup membutuhkan waktu dan biaya.

PENUTUP
Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pengarang dalam tiga majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi umumnya adalah pustakawan pria dengan tingkat kolaborasi yang tergolong rendah. Jumlah referensi per artikel tergolong kecil, dan sebagian besar acuan berupa buku. Sehubungan dengan temuan tersebut, nampaknya perlu diteliti lebih lanjut apakah pola kepengarangan dan pola sitiran tersebut merupakan ciri-ciri khusus bidang ilmu perpustakaan dan informasi ataukan merupakan ciri-ciri majalah Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian sejenis terhadap majalah Indonesia di bidang-bidang ilmu lainnya sebagai studi perbandingan.

DAFTAR PUSTAKA
Cano, V. 1999. Bibliometric overview of library and information science research in Spain. Journal of American Society for Information Science 50 (8) : 675-680.

Cunningham, Sally Jo, and S.M. Dillon. 1997. Authorship pattern in information systems. Scientometrics 39 (1): 19-27.

Diodato, Virgil. 1994. Dictionary of bibliometrics. New York: The Haworth Press.

Gupta, D.K. 1994. Bibliometric study of literature on Ethiopian librarianship 1944-1992. Library Science with a Slant to Documentation and Information Studies 31 (4): 208-16 (Abstrak).

Gupta, B.M., Suresh Kumar, and C.R. Karisiddappa. 1997. Collaboration profile of theoretical population genetics speciality. Scientometrics 39 (3): 293-314.

Hart, Richard, Timothy Cartens, Michael LaCroix, and May K Randall. 1990. Funded and non-funded research: characteristics of authorship and patterns of collaboration in the 1986 library and information science literature. Library and Information Science Research 12 (1) : 72-86 (Abstrak).

Kabir, S.H. 1995. Bibliometrics of bibliometrics. Library Science with a Slant to Documentation and Information Studies 32 (1) : 13-24 (Abstrak).

Lipetz, Ben-Ami. 1999. Aspects of JASIS authorship through five decades. Journal of American Society for Information Science 50 (11) : 994-1003.

Raptis, Paschalis. 1992. Authorship characteristics in five international library science journals. Libri 47 : 35-52.

Sri Purnomowati, Rini Yuliastuti, dan Maria Ginting. 1999. Kesesuaian penyajian majalah ilmiah Indonesia dengan Standar Nasional Indonesia (SNI 19-1950-1990). Berita Iptek 40 (3) : 69-83.

Sri Purnomowati, dan Rini Yuliastuti. 2000a. Inventarisasi majalah Indonesia bidang ilmu perpustakaan dan informasi. Marsela 2 (2) : 13-16.

Sri Purnomowati, dan Rini Yuliastuti. 2000b. Pola kepengarangan dalam majalah Baca tahun 1974-1999. Baca 25 (1-2) : 20-30.

Steynberg, Susan, and Steve F. Rossouw. 1995. Multiple Authorship in biomedical papers: South African case study. Journal of American Society for Information Science 46 (6) : 468-472.

Terry, J.L. 1996. Authorship in College & Research Libraries revisited: gender, institutional affiliation, collaboration. College and Research Libraries 57 (4) : 377-83 (Abstrak).

Walker, Thomas D. 1997. Journal of documentary reproduction, 1938-1942: domain as reflected in characteristics of authorship and citation. Journal of American Society for Information Science 48 (4) : 361-368.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home